Syarah Menyebarkan Salam (3)

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ : أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, ‘Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, manakah ajaran Islam yang baik? Rasul bersabda. ‘Hendaklah engkau memberi makan. mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal’.”[1]

Ungkapan أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ ‘Islam yang bagaimana yang paling bagus itu?‘, dengan kata lain, adab-adab Islam dan sifat-sifat pemeluknya yang paling baik? Beliau menjawab: تُطْعِمُ الطَّعَامَ ‘engkau memberikan makan‘, dan tidak mengatakan: اِطْعَامُ الطَّعَامَ dan tidak juga mengatakan: وَإِلْقَا السَّلاَم agar dengan bentuk jawaban yang demikian diketahui bahwa manusia itu bertingkat-tingkat dalam sifat-sifat itu sesuai dengan kondisinya dan tingkat pengetahuan mereka. Dua macam sifat tersebut di atas keduanya sesuai dengan kondisi orang yang bertanya. Keduanya itu lebih baik baginya ditinjau dari dirinya dan bukan dari seluruh kaum Muslimin. Atau kita katakan, “Bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab pertanyaannya dengan menisbatkan kata kerja langsung kepada dirinya agar menjadi lebih menjurus kepada perbuatan darinya. Sedangkan bentuk khabar kadang-kadang masuk ke dalam posisi perintah, dengan kata lain, أَطْعِمِ الطَّعَامَ dan أَقْرِيْءِ السَّلاَمَ ‘berikan makanan dan sampaikan salam’.

Ungkapan وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ‘dan mengucapkan salam kepada siapa saja yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal‘, dengan kata lain, engkau ucapkan salam kepada setiap orang yang engkau jumpai, baik engkau kenal atau tidak engkau kenal, dan jangan engkau khususkan kepada orang-orang yang telah engkau kenal sebagaimana dilakukan kebanyakan orang.

Kemudian keumuman ini khusus bagi kaum Muslimin, maka tidak boleh mengucapkan salam terlebih dahulu kepada orang kafir.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 536-538.


[1]     Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/55) no. 12; dan Muslim (1/65) no. 39.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: