Syarah Keutamaan Membesuk Orang Sakit

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِي خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jika seseorang berkunjung kepada saudaranya yang Muslim, (yang sedang menderita sakit), maka seakan-akan dia berjalan-jalan di daerah buah-buahan yang siap dipanen di surga hingga dia duduk. Apabila sudah duduk, maka dituruni rahmat dengan deras. Apabila dia berkunjung di pagi hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga sore hari. Apabila dia berkunjung di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga pagi hari.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan خِرَافَةِ dengan huruf kha berkasrah dan ber-fathah, artinya surga dan buah-buahannya yang siap dipetik. Dalam kamus, اَلْـخُرْفَةُ dengan huruf kha berdhammah. اَلْـمُخْتَرَفُ: اَلْـمُجْتَنَى artinya ‘sudah bisa dipetik‘, seperti خِرَافَة. Dalam sebagian riwayat yang lain, فِي خُرْفَةِ الْـجَنَّةِ.

Al-Harawi Rahimahullah berkata, “Dia adalah kurma-kurma yang siap dipetik ketika diketahui buahnya.”

Abu Bakar bin Al-Anbari Rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerupakan apa-apa yang disimpan orang yang membesuk orang sakit berupa pahala; dan apa-apa yang disimpan pemetik berupa buah.”

Dikatakan, “Yang dimaksud dengan itu adalah sebuah jalan. Sehingga artinya, “Dia berada di atas jalan yang menjuruskannya ke surga.”

Ungkapan غَمَرَتْهُ ‘ia diliputi’, dengan kata lain, diungguli dan ditutupi.

Ungkapan غُدْوَةً ‘di pagi hari’, dengan kata lain, permulaan siang.

Ungkapan صَلَّى عَلَيْهِ ‘menyampaikan shalawat kepadanya’, dengan kata lain, mendo’akannya agar mendapatkan ampunan dan kebaikan.

Ungkapan حَتَّى يُـمْسِيَ ‘hingga sore tiba’, dengan kata lain, mereka masih terus mendo’akannya agar mendapatkan ampunan dan kebaikan hingga tiba waktu sore.

Ungkapan حَتَّى يُصْبِحَ ‘hingga pagi tiba’, dengan kata lain, mereka masih terus mendo’akannya agar mendapatkan ampunan dan kebaikan hingga tiba waktu pagi.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 383-384.


[1]     At-Tirmidzi, no. 969; Ibnu Majah, no. 1442; Ahmad, 1/97. Lihat Shahih Ibnu Majah, (1/244); Shahih At-Tirmidzi, (1/286); dan dishahihkan Ahmad Syakir.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: