Syarah Doa Orang Sakit Ketika Tidak Ada Harapan Sembuh (3)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah dan Allah Mahabesar. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah. Tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhuma.

Seutuhnya hadits tersebut adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ صَدَّقَهُ رَبُّهُ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَأَنَا أَكْبَرُ وَإِذَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي وَإِذَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ قَالَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي لَا شَرِيكَ لِي وَإِذَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ قَالَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا لِيَ الْمُلْكُ وَلِيَ الْحَمْدُ وَإِذَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِي وَكَانَ يَقُولُ مَنْ قَالَـهَا فِي مَرَضِهِ ثُمَّ مَاتَ لَـمْ تَطْعَمْهُ النَّارُ

“Barangsiapa mengucapkan: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Mahabesar, maka Rabb-nya membenarkannya dan berfirman: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَأَنَا أَكْبَرُ ‘Tiada Tuhan Yang berhak untuk disembah selain Aku dan Aku Mahabesar. Jika seseorang mengucapkan: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ ‘Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa’, maka Allah berfirman: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي ‘Tiada Tuhan Yang berhak untuk disembah selain Aku Yang Esa. Jika seseorang mengucapkan: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ‘Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya’, maka Allah berfirman: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي لَا شَرِيكَ لِي ‘Tiada Tuhan Yang berhak untuk disembah selain Aku Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Ku. Jika seseorang mengucapkan: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ‘Tiada Tuhan selain Allah Yang memiliki segala kerajaan dan segala puji’, Allah berfirman: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا لِيَ الْمُلْكُ وَلِيَ الْحَمْدُ ‘Tiada Tuhan Yang berhak untuk disembah selain Aku Yang memiliki segala kerajaan dan segala puji’. Jika seseorang berkata: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ‘Tiada Tuhan selain Allah. Tiada daya dan kekuatan melainkan di sisi Allah’, maka Allah berfirman: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِي ‘Tiada Tuhan Yang berhak untuk disembah selain Aku. Tiada daya dan kekuatan melainkan di sisi-Ku.‘” Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa mengucapkannya ketika dalam keadaan sakitnya, lalu dia meninggal dunia, maka dia tidak akan dimakan api neraka.”

Ungkapan صَدَّقَهُ رَبُّهُ ‘maka Rabbnya membenarkannya‘, dengan kata lain, Rabb berkata sebagai penjelasan untuk membenarkannya. Yakni Dia menetapkan dengan mengatakan لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَأَنَا أَكْبَرُ ‘tiada Tuhan Yang berhak untuk disembah selain Aku dan Aku Mahabesar.

Ungkapan مَنْ قَالَـهَا ‘barangsiapa mengucapkan’, yakni kalimat-kalimat di atas dengan tanpa jawaban-jawabannya. Yakni sebagaimana nash dari penyusun Hafizhahullah.

Ungkapan ثُمَّ مَاتَ ‘lalu dia meninggal dunia’, yakni karena penyakitnya itu.

Ungkapan لَـمْ تَطْعَمْهُ النَّارُ ‘maka dia tidak akan dimakan api neraka’, dengan kata lain, tidak akan dibakar api neraka.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 387-389.


[1]     Ditakhrij At-Tirmidzi, no. 3430; Ibnu Majah, no. 3794; dan dishahihkan Al-Albani. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/152) dan Shahih Ibnu Majah, (2/317).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: