Syarah Doa Ketika Memejamkan Mata Mayit

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلاَنٍ (بِاسْمِهِ) وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ، وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِيْنَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ

“Ya Allah, ampunilah fulan (sebut namanya), angkat derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk. Hendaklah Engkau menjadi pengganti untuk anak turunannya yang ditinggalkan. Ampunilah kami dan dia wahai Tuhan penguasa alam. Luaskan baginya dalam kuburannya dan berilah penerangan di dalamnya.” [1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Ummu Salamah Radhiyallahu Anha.

Disebutkan pada permulaannya ucapan Ummu Salamah Radhiyallahu Anha,

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ…

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi Abu Salamah yang matanya telah terbelalak. Beliau memejamkannya lalu bersabda, ‘Sesungguhnya jika ruh dicabut, maka diikuti mata.’ Sehingga guncanglah semua orang dari keluarganya. Maka, beliau bersabda, ‘Ja-nganlah kalian berdo’a buruk atas diri kalian, kecuali do’a yang baik-baik, sungguhnya para malaikat menga-minkan apa-apa yang kalian ucapkan.’ Kemudian beliau berucap: ‘Ya Allah, ampunilah Abu Salamah …’.”

Ungkapan وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ ‘matanya telah terbelalak’, dengan kata lain, membelalak. Ibnu As-Sikit berkata, “Dikatakan شَقَّ بَصَرُ الْـمَيِّتِ dan tidak dikatakan شَقَّ الْـمَيِّتُ بَصَرُهُ yaitu yang artinya ‘kedatangan kematian’ sehingga dia melihat sesuatu yang akhirnya matanya tidak mengedip.”

Ungkapan فَأَغْمَضَهُ ‘beliau memejamkannya’, dengan kata lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memejamkan matanya. Kiranya hikmahnya adalah agar tidak buruk dipandang jika tidak dipejamkan.

Ungkapan إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ ‘sesungguhnya jika ruh dicabut, maka diikuti mata’, dengan kata lain, jika ruh keluar dari badan, maka dia diikuti mata yang melihatnya ke mana dia pergi.

Ungkapan تَبِعَهُ ‘mengikutinya’, dengan kata lain, ruh diikuti mata. Ruh itu bisa dimudzakkarkan atau dimuannatskan. Aslinya adalah mudzakkar sehingga dalam hadits itu dimudzakkarkan. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ungkapan إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ ‘jika ruh dicabut, maka diikuti mata’ mencakup dua aspek: Pertama, bahwa jika ruh dicabut, maka ruh itu pergi diikuti pandangan mata. Oleh sebab itu, mata dipejamkan, karena faidah terbukanya telah hilang dengan perginya pandangan mata ketika kepergian ruh. Kedua, bahwa ruh manusia jika dicabut malaikat dilihat orang yang kedatangan kematian itu dengan penglihatan melirik, sehingga mata melihat kepadanya dengan tidak mengedip. Sehingga sisa kekuatan penglihatan mata menjadi lemah setelah ruh meninggalkan manusia yang memiliki daya mengenal dan membedakan, bukan yang bersifat binatang yang padanya ada indra dan gerak. Dan tidak diingkari takdir Allah Ta’ala untuk membuka penutup padanya di saat itu, sehingga dia mampu melihat apa-apa yang selama ini tidak mampu dia lihat.

Ungkapan فَضَجَّ نَاسٌ ‘sehingga guncanglah semua orang’, dengan kata lain, mereka berteriak histeris dengan suara yang sangat keras. Dhajjah artinya suara teriakan.

Ungkapan لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ‘janganlah kalian berdo’a buruk atas did kalian’. Ini adalah isyarat bagi larangan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bagi mereka untuk berteriak histeris. Seakan-akan mereka berkata: “aduh kecelakaan menimpa kami”, “aduh musibah menimpa kami.” Sehingga beliau melarang mereka berbuat sedemikian sehingga bersabda,

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ

“Janganlah kalian berdo’a buruk atas diri kalian, kecuali do’a yang baik-baik.”

Ungkapan فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ ‘sungguhnya para malaikat mengaminkan apa-apa yang kalian ucapkan’. Ini adalah isyarat bahwa setiap orang berdo’a yang do’anya itu diaminkan para malaikat, maka tidak akan ditolak.

Ungkapan الْغَابِرِيْنَ ‘bagi orang-orang yang ditinggalkannya’, dengan kata lain, orang-orang yang masih ada.

Ungkapan وَافْسَحْ ‘lapangkan’, dengan kata lain, luaskan kuburnya.

Setelah memejamkan mata mayit seyogyanya diucapkan,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلاَنٍ (بِاسْمِهِ) وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ..

“Ya Allah, ampunilah fulan (sebut namanya), angkat derajatnya …”,

dan seterusnya sebagaimana yang diucapkan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Abu Salamah Radhiyallahu Anhu sebagaimana yang telah disebutkan penyusun.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 393-396.


[1]     Muslim, (2/634), no. 920.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: