Cara Menyelamatkan Diri Dajjal

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

“Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat dan permulaan surat Al-Kahfi, maka terpelihara dari (gangguan) Dajjal.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan عُصِمَ ‘maka dia terpelihara‘, dengan kata lain, terjaga dan aman.

An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Dikatakan bahwa sebab semua itu adalah di bagian awalnya dengan adanya berbagai hal yang menakjubkan dan ayat-ayat (tanda-tanda). Maka, barangsiapa menadabburinya, maka dia tidak akan terfitnah oleh Dajjal. Demikian juga di bagian akhirnya, firman Allah Ta’ala,

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku?” (Al-Kahfi/18: 102)

وَاْلاِسْتِعَاذَةُ بِاللهِ مِنْ فِتْنَتِهِ، عَقِبَ التَّشَهُّدِ اْلأَخِيْرِ، مِنْ كُلِّ صَلاَةٍ

‘Dan berlindung kepada Allah dari fitnahnya (Dajjal) setelah tasyahud akhir dalam setiap shalat’.”

Ini adalah isyarat kepada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan adzab kubur, adzab neraka Jahannam, fitnah kehidupan dan kematian, dan kejahatan fitnah Al-Masih Dajjal.”[2]

Dan sabdanya,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan dosa dan hutang.”[3]

Telah berlalu syarah kedua hadits ini. Lihat hadits no. 56 dan 57 [yakni Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (1) dan Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (2)].[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 483-485.


[1]     Muslim. (1/555). no. 809. Dalam riwayat lain: مِنْ آخِرِ الْكَهْفِ ‘Dari bagian akhir surat Al-Kahfi, (1/556)
[2]
    Al-Bukhari (2/102), kiranya yang dimaksud adalah hadits no. 832. yaitu hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anhu. Akan datang setelah hadits ini. Sedangkan hadits ini Muslim seorang diri meriwayatkanny. Korektor berkata. “Pensyarah ragu-ragu. yang benar adalah bahwa hadits ini ditakhrij Al-Bukhari. no. 1377; dan Muslim. (1/412). no. 588. Sedangkan lafazhnya adalah dari Muslim.” (Korektor)
[3]
    Diriwayatkan Al-Bukhari (1/202), no. 832; dan Muslim dengan lafazh darinya (1/412), no. 589

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: