Doa Bagi Orang yang Saling Mencintai

DOA UNTUK ORANG YANG MENGATAKAN,
إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللهِ SESUNGGUHNYA AKU CINTA KEPADAMU KARENA ALLAH

أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ

“Semoga Allah mencintaimu, karena engkau telah mencintaiku karena-Nya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Sedangkan  seutuhnya  hadits  ini  adalah  ucapannya Radhiyallahu Anhu,

أَنَّ رَجُلًا كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّ هَذَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمْتَهُ قَالَ لَا قَالَ أَعْلِمْهُ قَالَ فَلَحِقَهُ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ فَقَالَ أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ

“Seseorang sedang berada bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tiba-tiba seseorang berlalu di dekatnya. Maka, dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintainya.’ Maka, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun bersabda kcpadanya, ‘Apakah engkau telah beritahu dia akan hal itu?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Beritahu dia.’ Maka, pria itu pun menjumpainya lalu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku cinta kepadamu karena Allah.’ Maka, orang itu pun berkata, ‘Semoga engkau dicintai Allah Dzat Yang engkau mencintaiku karena-Nya.'”

Ungkapan أَعْلَمْتَهُ ‘apakah engkau telah beritahu dia akan hal itu?‘, bentuk pertanyaan dengan menghilangkan kata tanya, dengan kata lain, أَأَعْلَمْتَهُ atau هَلْ أَعْلَمْتَهُ.

Ungkapan أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ ‘semoga engkau dicintai Allah Dzat Yang engkau mencintaiku karena-Nya‘, dengan kata lain, demi Dzat itu. Ini adalah do’a dan bukan kalimat berita.

Al-Khaththabi Rahimahullah berkata, “Artinya perintah untuk saling mencintai dan saling lemah-lembut. Karena jika orang pertama memberitahukan bahwa dirinya mencintai orang kedua tersebut, maka hatinya menjadi condong dan memperoleh cintanya pula.”[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 486-487.


[1]     Ditakhrij Abu Dawud, (4/333), no. 5125; dan dihasankan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, (3/965)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: