Syarah Doa Agar Terhindar Dari Syirik

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tindakan menyekutukan Engkau, sedang aku mengetahuinya dan aku minta ampun kepadamu terhadap apa yang tidak aku ketahui (bahwa hal itu perbuatan syirik-red.).'”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Musa Al-Asy’ari dan selainnya Radhiyallahu Anhum.

Disebutkan di dalamnya sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ، وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ قُولُوا…

“Wahai sekalian manusia, takutlah kepada tindakan syirik ini, sesungguhnya dia itu lebih tersembunyi dari pada langkah seekor semut.’ Seseorang yang dikehendaki Allah untuk berkata kepada beliau, ‘Bagaimana kita takut kepadanya, padahal dia itu lebih tersembunyi daripada langkah seekor semut, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, ‘Katakan: …’.”

Ungkapan يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ ‘wahai sekalian manusia, takutlah kepada tindakan syirik ini‘. Syirik ada dua macam: syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar adalah semua macam syirik yang telah ditetapkan Penetap syariat yang menjadikan orang keluar dari agamanya. Sedangkan syirik kecil adalah setiap perbuatan berupa ucapan atau perbuatan yang disebut Penetap syariat bahwa itu syirik, tetapi tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama.

Korektor berkata, “Yang benar syirik besar adalah suatu macam tertentu yang melencengkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala. Sedangkan syirik kecil adalah setiap sarana, baik berupa perkataan, perbuatan, atau kehendak yang mengarah kepada syirik besar. Akan tetapi, tidak sampai kepada tingkat disebut ibadah.”[2]

Ungkapan أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ‘dia itu lebih tersembunyi daripada gerak seekor semut’, yakni gerak dan jalannya di muka bumi.

Ungkapan اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ ‘ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari tindakan menyekutukan Engkau‘, bisa juga diucapkan setiap hari, dan bisa juga setiap kali nafsu dekat dengan sebab. Hal itu karena tiada yang bisa mencegahnya darimu melainkan Dzat Yang menguasai ciptaanmu. Jika engkau berlindung kepada-Nya, maka Dia akan melindungi engkau, karena Dia tidak akan menggagalkan orang yang berlindung kepada-Nya.

Diarahkan kepada perlindungan sedemikian rupa agar orang tidak sembarangan cenderung kepada sebab-sebab lalu ragu-ragu tentangnya. Sehingga selalu menyia-nyiakan urusan itu dan menyepelekannya hingga pudarlah ikatan pikirannya bersama iman sehingga menjadi kafir sedangkan dia tidak menyadarinya. Maka, dia diarahkan kepada perlindungan kepada Rabbnya agar terbit cahaya keyakinan dalam hatinya.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 493-495.


[1]     Ahmad. (4/403) dan selainnya. Lihat Shahih Al-Jami’ (3/233). no. 3731: dan Shahih At-Turghib wa At-Tarhib, karya Al-Albani. (1 122). no. 36.

[2]     Al-Qaul As-Sadid fii Muqashid At-Tauhid, karya Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. hlm. 31, 32 dan 54. (Korektor)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: