Syarah Ucapan Ketika Datang Hal yang Menyenangkan atau Dibenci

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا أَتَهُ الْأَمْرُ يَكْرَهُهُ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Jika kepada beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam datang perkara yang menggembirakannya, maka beliau berucap:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

‘Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih sempurna’.

Dan apabila datang kepada beliau perkara yang beliau tidak sukai, beliau berucap:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

‘Segala puji bagi Allah bagaimanapun juga’.”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan بِنِعْمَتِهِ ‘dengan nikmat-Nya‘. Yang dimaksud dengan nikmat di sini adalah nikmat khusus. Yaitu, kesempatan melihat sesuatu yang menggembirakan. Dan penglihatan seseorang akan apa yang dia cintai dan menggembirakannya adalah nikmat. Karena itu beliau berucap: بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ‘yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan‘, dengan kata lain, segala sesuatu yang baik-baik. Yang demikian mencakup segala sesuatu yang baik di dunia dan di akhirat.

Ungkapan وَإِذَا أَتَهُ الْأَمْرُ يَكْرَهُهُ ‘dan apabila datang kepada beliau perkara yang beliau tidak sukai, beliau berucap: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ‘segala puji bagi Allah bagaimanapun juga‘. Yakni dalam keadaan suka atau duka, senang atau sedih, fakir atau kaya, sehat atau sakit, dan lain sebagainya, semua keadaan, semua perbuatan, dan semua kesempatan.

Pada bagian yang pertama, bersifat khusus pujian atas sesuatu; sedangkan pada yang kedua, bersifat umum karena memperhatikan konsekuensi tempat dan ungkapannya.

Dalam hadits itu dalil yang menunjukkan bahwa setiap hamba harus memuji Allah Ta’ala dalam setiap kesempatan, baik dalam keadaan suka atau duka.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 526-527.


[1]     Ditakhrij Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah. no. 378, dan Al-Hakim serta menyahihkannya (1/499). Juga dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (4/201) no. 4640.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: