Syarah Keutamaan Dzikir Pagi dan Sore

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، والصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ:

“Segala puji bagi Allah Yang Esa. Shalawat dan salam atas orang yang tiada nabi setelahnya.”

Dengan ucapan ini penyusun menghendaki menyibukkan diri dengan dzikir kepada Allah Ta’ala. Dan shalawat atas Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam waktu-waktu itu.

Korektor berkata, “Aku menghendaki agar setiap Muslim memulai dengan pujian kepada Allah Ta’ala dan shalawat serta salam atas Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kemudian dzikir kepada Allah ta’ala.”[1]

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari usai shalat shubuh hingga terbit matahari, lebih kusukai daripada memerdekakan empat orang keturunan Ismail. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari usai shalat ashar hingga terbenam matahari, lebih kusukai daripada memerdekakan empat (orang budak).”[2]

Ungkapan مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ ‘daripada memerdekakan empat orang keturunan Ismail‘, dengan kata lain, aku merdekakan dan aku selamatkan karena mereka adalah bagian dari jiwa-jiwa yang paling mahal.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 243-244.


[1]     (Korektor).
[2]     Abu Dawud, no. 3667 dan dihasankan Al-Albani. Shahih Abu Dawud, (2/698).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: