Syarah Dzikir Pagi dan Petang (1)

أَعُوذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar” (Al-Baqarah: 255).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu.

Hadits ini seutuhnya:

هُوَ مِنْ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ رضي الله عنه كَانَ لَهُ جُرْنٌ مِنْ تَمْرٍ، فَكَانَ يَنْقُصُ، فَحَرَسَهُ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَإِذَا هُوَ بِدَابَّةٍ شِبْهِ الْغُلَا مِ الْمُحْتَلِمْ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ، فَقَالَ: مَا أَنْتَ؟ جِنِّيٌّ أَمْ إِنْسِيٌّ؟ قَالَ: جِنِّيٌّ، قَالَ: فَنَاوِلْنِي يَدَكَ، فَنَاوَلَهُ يَدَهُ، فَإِذَا يَدُهُ يَدُ كَلْبٍ، وَشَعْرُهُ شَعْرُ كَلْبٍ، قَالَ: هَذَا خَلْقُ الْجِنِّ؟

قَالَ: قَدْ عَلِمَتِ الْجِنُّ أَنْ مَافِيْهِمْ رَجُلاً أَشَدَّ مِنِّي، قَالَ: فَمَا جَاءَ بِكَ؟ قَالَ: بَلَغَنَا أَنَّكَ تُحِبُّ الصَّدَقَةَ، فَجِئْنَا نُصِيْبُ مِنْ طَعَامِكَ، قَالَ: فَمَا يُنْجِيْنَا مِنْكُمْ؟ قَالَ: هَذِهِ الآيَةُ الَّتِي فِي شُوْرَةِ الْبَقَرَةِ: اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ…..مَنْ قَالَهَا حِيْنَ يُمْسِي أُجِيْرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ، وَمَنْ قَالَهَا حِيْنَ يُصْبِحُ أُجِيْرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ،

فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ؟ فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : صَدَقَ الْـخَبِيْثُ

“Adalah bahwa Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu memiliki sejumlah kurma kering yang ternyata berkurang jumlahnya. Sehingga pada malam harinya dia jaga. Tiba-tiba ada seekor binatang mirip dengan anak remaja. Ubay ucapkan salam kepadanya dan dia pun menjawab salamnya. Kemudian Ubay berkata, ‘Apa engkau ini? Sejenis jin atau sejenis manusia’, Dia menjawab, ‘Sejenis Jin.’ Ubay berkata, ‘Berikan tanganmu.’ Maka, dia pun memberikan tangannya yang ternyata tangannya adalah tangan seekor anjing, bulunya adalah bulu seekor anjing. Ubay berkata, ‘Inikah makhluk jin?

Dia menjawab, ‘Semua jin telah mengetahui bahwa di kalangan mereka tak seorang pun yang lebih kuat daripada diriku.’ Ubay berkata, ‘Apa gerangan yang membawamu kemari? Dia menjawab, ‘Telah sampai kepada kami bahwa engkau adalah orang yang suka bersedekah. Sehingga kami datang untuk mendapatkan sebagian dari makanan Anda.’ Ubay bertanya, ‘Apa gerangan yang bisa menyelamatkan kami dari kalian? Dia menjawab, ‘Ayat yang ada dalam surat Al-Baqarah:

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

‘Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) ….’

Siapa saja yang mengucapkannya di sore hari, maka dia diselamatkan dari kami hingga pagi. Dan siapa saja yang mengucapkannya di pagi hari, maka dia diselamatkan dari kami hingga sore.’

Ketika pagi telah tiba, Ubay datang menghadap kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu menyampaikan semua kejadian itu kepada beliau. Sehingga beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

صَدَقَ الْـخَبِيْثُ

‘Telah jujur (jin) yang buruk itu’.”

Ungkapan جُرْنٌ adalah tempat penjemuran kurma.

Ungkapan بِدَابَّةٍ شِبْهِ الْغُلَا مِ الْمُحْتَلِمْ ‘seekor binatang mirip dengan anak remaja‘, dengan kata lain, telah baligh. Artinya bahwa dia melihat makhluk yang besarnya sama dengan remaja yang telah baligh.

Ungkapan أُجِيْرَ artinya dijaga dan dipelihara.

Telah berlalu penjelasan ayat di atas, maka lihat penjelasan hadits no. 72. (Syarah Dzikir Setelah Salam (6))[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 244-247.


[1]     Ditakhrij Al-Hakim, (1/562) dan dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, (1/273) no. 655 dan dinisbatkan kepada An-Nasa’i dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah. no. 960; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 541, dan ia berkata sanad Ath-Thabrani bagus.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: