Syarah Dzikir Pagi dan Petang (5)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah dosaku. Sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Syaddad bin Aus Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits bahwa orang yang mengucapkannya dengan penuh keyakinan di sore hari, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia masuk surga. Demikian juga jika dilakukan di pagi hari.

Ungkapan لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ ‘tiada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakan aku’. Ini adalah pengakuan akan keesaan dan Dia sebagai Pencipta.

Ungkapan وَأَنَا عَبْدُكَ ‘dan aku adalah hamba-Mu’ adalah pengakuan status sebagai hamba.

Ungkapan وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ‘dan aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu’, dengan kata lain, janji-Mu kepadaku bahwa aku harus mengesakan-Mu. Dan aku mengakui dengan ketuhanan dan keesaan-Mu. Janji-Mu adalah surga untukku dengan melakukan hal ini, dengan kata lain, aku berdiri tegak mengesakan-Mu dan berada di atas hakikat janji-Mu kepada-Ku.

Ungkapan مَا اسْتَطَعْتُ ‘semampuku’, dengan kata lain, sesuai dengan kadar kemampuanku. Karena seorang hamba tidak mampu melakukan apa pun melainkan sesuai dengan kadar kemampuannya.

Ungkapan أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ ‘aku mengakui nikmat-Mu kepadaku’, dengan kata lain, aku  mengakui dan berketetapan bahwa semua yang Engkau anugerahkan kepadaku adalah dari-Mu.

Ungkapan وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ ‘dan aku mengakui dosaku’, dengan kata lain, aku berkeyakinan dan mengakui dengan segala yang telah kulakukan berupa dosa.

Ungkapan فَإِنَّهُ ‘sesungguhnya’, dengan kata lain, bahwa keadaannya tiada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau. Karena pengampunan dosa-dosa khusus di tangan Allah Ta’ala.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 253-255.


[1]     Ditakhrij Al-Bukhari, (7/150), dengan no. 6306.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: