Syarah Dzikir Pagi dan Petang (19)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. (مِائَةَ مَرَّةٍ إِذَا أَصْبَحَ)

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca seratus kali waktu pagi).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits,

أَنْ مَنْ قَالَـهَا مِائَةَ مَرَّةٍ فِيْ يَوْمِ كَانَتْ لَهُ عَدْلُ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَ كَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ  يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَـمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

“Bahwa siapa saja mengucapkannya seratus kali dalam sehari, maka baginya setara dengan seratus orang budak, ditulis baginya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus keburukan, dan baginya penjagaan dari syetan di harinya itu hingga sore tiba. Dan tiada seorang pun lebih utama darinya dengan apa-apa yang dia bawa, kecuali seseorang berbuat lebih banyak dari itu.”[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 279-280.


[1]     Al-Bukhari dalam Fathul Bari, (4/95), no 3293; Muslim, (4/2071), no. 2691.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: