Syarah Ucapan Memuji Seorang Muslim

APA YANG DIKATAKAN SEORANG MUSLIM
JIKA MEMUJI MUSLIM LAINNYA

 

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا صَاحِبَهُ لَا مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلَانًا وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَاكَ كَذَا وَكَذَا

“Apabila seseorang harus memuji saudaranya, katakan-lah, ‘Aku kira fulan … dan Allah-lah yang mengawasi perbuatannya. Dan aku tidak akan merekomendasikan seseorang di hadapan Allah.’ Apabila seseorang mengetahui hendaklah berkata, “Aku kira begini dan begini?”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Bakarah Radhiyallahu Anhu.

Di dalamnya terdapat ucapannya Radhiyallahu Anhu,

مَدَحَ رَجُلٌ رَجُلًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ -مِرَارًا-ثُـمَّ قَالَ:…

“Seseorang memuji seorang yang lainnya di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Celaka engkau, engkau telah patahkan leher sahabatmu, engkau telah patahkan leher sahabatmu -berkali-kali-, kemudian bersabda ….”

Ungkapan قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ ‘engkau telah patahkan leher sahabatmu’, dengan kata lain, engkau telah hancurkan dia. Ini adalah istiarah ‘kiasan’ berupa pematahan leher yang maksudnya adalah pembunuhan, karena kesamaan keduanya dalam kebinasaan. Akan tetapi, binasanya orang yang dipuji dalam agamanya, dan bisa juga dari aspek keduniaan karena tidak jelas padanya bagaimana kondisinya ketika takjub.

Ungkapan وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا ‘dan aku tidak akan merekomendasikan seseorang di hadapan Allah’, dengan kata lain, aku tidak memutuskan akibat seseorang atau perasaannya. Karena semua itu tidak terlihat oleh kami. Akan tetapi, aku mengira dan menyangka karena adanya kenyataan yang berkonsekuensi demikian.

An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Telah ada banyak hadits dalam kitab ash-shahihain berkenaan dengan pujian langsung. Para ulama berkata, ‘Cara menggabungkan antara keduanya adalah bahwa larangan diarahkan kepada keadaan keterlaluan dalam memuji dan berlebih-lebihan menyebutkan sifat. Atau kepada orang yang takut timbul fitnah berupa ujub atau lainnya jika mendengar pujian. Sedangkan orang yang tidak takut hal-hal seperti itu karena kesempumaan takutnya, kedalaman akal, dan pengetahuannya, maka tiada larangan untuk memujinya secara langsung, jika dalam pujiannya tidak keterlaluan, bahkan jika dengan demikian justru tercapai suatu kemaslahatan, seperti semangat menuju kebaikan dan pertambahannya serta konsisten padanya atau mengikutinya, maka sangat dianjurkan dan disukai.’ Wallahu A’lam.”

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 547-549.


[1]     Muslim. (4/2296). no. 3000: dan Al-Bukhari. no. 2662.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: