Syarah Dzikir Sebelum Tidur (2)

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melairikan Dia Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar” (Al-Baqarah: 255).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Hadits ini seutuhnya adalah pengutaraan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu sebagai berikut,

وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُوِ مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ : فَقَالَ: إِنِّي مُـحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ وَلِي حَاجَةٌ شَدِيْدَةٌ، قَالَ: فَخَلَّيْتُ عَنْهُ فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيْركَ الْبَارِحَةَ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَا حَاجَةً شَدِيْدَةً فَرَحِمْتُهُ، فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ، فَقَالَ: أَمَّ إِنَّهُ سَيَعُوْدُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ: لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ : قَالَ: دَغْنِّي فَإِنِّي مُـحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ وَلِي حَاجَةٌ شَدِيْدَةٌ، قَالَ: فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيْركَ الْبَارِحَةَ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَا حَاجَةً شَدِيْدَةً وَعِيَالاً فَرَحِمْتُهُ، فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ، فَقَالَ: أَمَّ إِنَّهُ  كَذَبَكَ وَسَيَعُوْدُ، فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ: لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ وَهَذَا آخِرُ ثَلاَثِ مَرَّتٍ، إِنَّكَ تَزْعُمُ لاَ تَعُوْدُ، ثُـمَّ تَعُوْدُ، قَالَ: دَعْنِي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاةٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهَا، إِذَا أَوَيْتُ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آَيَةَ الْ الْكُرْسِيِّ: اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ… حَتَّى تَخْتِمَ الْآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ، فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا فَعَلَ أَسِيْركَ الْبَارِحَةَ؟ قُلْتُ: زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِي كَلِمَاتٍ يَنْفَعُنِي اللهُ بِهَا، قَالَ: أَمَ إِنَّهُ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ منْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ؟ ذَلِكَ شَيْطَانٌ

“Aku ditugasi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menjaga harta zakat Ramadhan. Tiba-tiba aku didatangi seseorang. Dia mengambil sedikit bahan makanan. Aku menangkapnya. Kukatakan kepadanya, ‘Sungguh, aku akan laporkan engkau kepada Rasulullah.’ Dia pun berkata, ‘Sesungguhnya aku ini orang yang sangat membutuhkan. Sejumlah anggota keluarga berada di bawah tanggung jawabku. Dan aku memiliki hajat yang sangat besar.’ Abu Hurairah berkata, ‘Maka aku pun melepaskannya.’ Ketika pagi, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu semalam? Kukatakan, ‘Wahai Rasulullah, dia mengadukan hajat yang sangat besar sehingga aku kasihan kepadanya, maka kulepaskan dia.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya dia akan kembali lagi.’ Maka, aku pun mengawasinya. Dia datang dan lagi-lagi mengambil sedikit dari bahan makanan. Aku menangkapnya kembali, lalu kukatakan kepadanya, ‘Sungguh aku akan laporkan engkau kepada Rasulullah.’ Dia berkata, ‘Biarkanlah aku, sesungguhnya aku ini orang yang sangat membutuhkan. Sejumlah anggota keluarga berada di bawah tanggung jawabku. Dan aku memiliki hajat yang sangat besar.’ Abu Hurairah berkata, ‘Maka kulepaskan dia. Ketika pagi, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu semalam?’ Maka kukatakan, wahai Rasulullah, dia mengadukan hajat yang sangat besar, tanggung jawab atas sejumlah anggota keluarga, sehingga aku kasihan kepadanya dan kulepaskan dia.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya dia itu dusta dan akan kembali lagi.’ Maka, aku pun mengawasinya. Dia datang dan lagi-lagi mengambil sedikit bahan makan. Aku menangkapnya lalu kukatakan, ‘Sungguh aku akan laporkan engkau kepada Rasulullah. Dan ini adalah ketiga kalinya dan yang terakhir. Engkau mengatakan tidak akan kembali, tapi engkau kembali lagi.’ Dia berkata, ‘Biarkan aku, aku akan ajarkan kepada engkau kalimat-kalimat yang dengannya Allah akan memberimu manfaat. Jika engkau hendak pergi ke tempat tidur, maka bacalah ayat Kursi: اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ‘Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)’, hingga engkau baca sampai akhir ayat tersebut, maka akan tetap bersama engkau seorang penjaga dari Allah dan tiada syetan yang mendekatimu hingga pagi.’ Maka, aku pun lepaskan dia. Ketika pagi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, ‘Apa yang dilakukan tawananmu?’ Kukatakan, ‘Dia mengaku akan mengajariku kalimat-kalimat yang dengannya Allah akan memberiku manfaat.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya dia jujur kepadamu, tetapi dia pendusta berat. Tahukah engkau siapa yang engkau ajak bicara sejak tiga malam itu? Dia itu adalah syetan.'”

Ungkapan يَحْثُوِ ‘mengambil sedikit’, dari kata يَحْثُو-حَثَا. Dikatakan حَثَوْتُ لَهُ ‘kuambilkan sedikit untuknya’ jika aku memberinya sedikit. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah bahwa dia mengambil sedikit dari harta sedekah.

Ungkapan فَرَصَدْتُهُ ‘aku pun mengawasinya’, dengan kata lain, aku mengawasi.

Ungkapan صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ‘sungguh dia jujur kepadamu, tetapi dia pendusta berat’, dengan kata lain, dia jujur dengan katanya ini sedangkan yang sebenarnya dia sangat pendusta.

Teiah berlalu syarah ayat ini. Lihat hadits no. 72 (Syarah Dzikir Setelah Salam (6)).[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 288-292.


[1]     Al-Bukhari dalam Fathul Bari, (4/487), no. 2311.

Iklan

One Response to Syarah Dzikir Sebelum Tidur (2)

  1. Ping-balik: Bacaan Al-Qur’an Sebelum Tidur (1) | Doa dan Dzikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: