Syarah Doa Apabila Merasa Takut dan Kesepian Ketika Tidur

Ungkapan بِالْوَحْشَةِ dikatakan bahwa artinya ‘kesedihan’. Dikatakan pula artinya ‘kesepian’ dan ‘rasa takut’.

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan, siksaan dan kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari godaan syetan (bisikan) serta jangan sampai mereka hadir (kepadaku).”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ ‘aku berlindung dengan kalimat Allah’. Yang dimaksud dengan kalimat-kalimat Allah adalah asma’ ul husna-Nya dan Kitab-kitab-Nya yang diturunkan. Disifati dengan sempurna karena semua itu kosong dari kekurangan dan cacat. Atau artinya muhkamat (tiada ketidakjelasan di dalamnya). Karena nama-nama Allah Ta’ala jelas dan tidak berlaku nasakh ‘penghapusan’, perubahan, penggantian, dan lain sebagainya di dalamnya.

Ungkapan مِنْ غَضَبِهِ ‘dari kemarahan-Nya’. Kemurkaan itu sendiri adalah naiknya tekanan darah yang sangat tinggi ketika mendapatkan sesuatu yang tidak disukai. Yang demikian yang berlaku di kalangan makhluk. Makna yang demikian mustahil bagi Allah Ta’ala. Akan tetapi, kita menyifati-Nya dengan apa-apa yang Allah Ta’ala menyifati Dzat-Nya dengan tanpa rekayasa, penyerupaan, permisalan, atau peniadaan.

Korektor berkata, “Yang benar dan haq adalah bahwa kemurkaan Allah Ta’ala adalah satu di antara sifat-sifat-Nya. Yang bersifat fi’li ‘perbuatan’ yang Dia lakukan kapan saja dikehendaki sesuai dengan kelayakan bagi-Nya. Dia murka jika menghendaki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemurkaan-Nya tidak akan menyerupai kemurkaan salah seorang di antara makhluknya. Kita menyifati-Nya dengan apa-apa yang Dia sendiri menyifati Dzat-Mya sendiri atau dengan apa-apa yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyifati-Nya dengannya tanpa peniadaan, perubahan, rekayasa, atau penyerupaan.[2]

Ungkapan وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ ‘dari godaan syetan’. هَمَزَات adalah bentuk jamak dari kata هَمَزَة Yang artinya nakhas. Maknanya adalah bahwa syetan itu menyuruh manusia untuk melakukan berbagai macam kemaksiatan dan me-nipu mereka sehingga masuk ke dalamnya. Maka, seseorang berlindung dari gangguannya dan dari kedatangannya kepadanya sehingga berada di sekitarnya.

 Ungkapan وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ ‘dan dari kedatangan mereka kepadaku’. Aslinya adalah يَحْضُرُوْنِي ‘mereka hadir kepada-ku’. Huruf ya dibuang untuk meringankan pengucapannya, dengan kata lain, dan dari kedatangan syetan-syetan kepadaku dalam setiap keadaan.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 313-315


[1]     Abu Dawud, (4/12), no. 3893. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/171).

[2]     Lihat Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, oleh Al-Harras, hlm. 103 dan Al-Utsaimin, hlm. 217 (Korektor).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: