Syarah Doa Orang Khawatir Mendapatkan Ain

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيْهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ (فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ) فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

“Apabila salah seorang di antara kamu melihat dari saudaranya, diri, atau hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah dia mendo’akan berkah kepadanya. Sesungguhnya ‘ain (sihir mata) itu adalah benar.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Amir bin Rabi’ah dan Sahl bin Hanif Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ ‘hendaklah dia mendo’akan berkah kepadanya’, dengan kata lain, mengucapkan,

بَارَكَ اللهُ عَلَيْكَ أَوْ بَارَكَ اللهُ فِيْكَ

“Semoga Allah memberikan berkah atas engkau atau semoga Allah memberikan berkah kepada engkau”

Telah disebutkan dari Abu Umamah bin Sahal bin Hanif, dia berkata,

رَأَى عَامِرُ بْنُ ربِيْعَةَ سَهْلَ بْنَ حَنِفٍ يَغْتَسِلُ، فَقَالَ: وَاللهِ مَارَأَيْتُ كَالْيَوْمِ، وَلاَ جِلْدَ مُخَبَّأَةً فَلُبِطَ بِسَهْلٍ، فَأَتَى رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ لَكَ فِيْ سَهْلٍ بْنِ حَنِيْفٍ؟ وَاللهِ مَايَرْفَعُ رَأْسَهُ، فَقَالَ: اِتَّهَمُوْا لَهُ أَحَدًا، قَالُوا: نَتَّهِمُ لَهُ عَامِرَ بْنَ رَبِيْعَةَ، قَالَ: فَدَعَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَامِرً، فَتَغَيَّظَ عَلَيْهِ، وَقَالَ: عَلاَمَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ؟ أَلاَ بَرَكْتَ؟! اِغْتَسِلْ لَهُ، فَغَسَلَ لَهُ عَمِرٌ وَجْهَهُ، وَيَدَيْهِ، وَمِرْفَقَيْهِ، وَرُكْبَتَيْهِ، وَأَطْرَافَ رِجْلِهِ، وَدَاحِلَ إِزَارِهِ فِيْ قَدَحٍ، ثُـمَّ صَبَّ عَلَيْهِ، فَرَاحَ مَـعَ النَّاسِ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ

“Amir bin Rabi’ah melihat Sahl bin Hanif sedang mandi. Lalu dia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak melihat sebagaimana pada hari ini dan tidak luput pula kulitnya seperti kulit seorang gadis.’ Sehingga Sahl terasuki pandangan Amir. la pun datang kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam, lalu dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau memiliki sesuatu untuk Sahl bin Hanif?’ Demi Allah, beliau tidak mengangkat kepalanya. Lalu bersabda, ‘Mereka menuduh seseorang’ Mereka berkata, ‘Kami menuduh Amir bin Rabi’ah’.” Perawi berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggil Amir, lalu memarahinya dan bersabda, ‘Kenapa seseorang dari kalian membunuh saudaranya! Apakah engkau tidak memohonkan berkah?! Mandikanlah dia.’ Maka, Amir pun mencuci wajahnya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya, ujung-ujung kakinya, bagian dalam sarungnya diletakkan wadah, lalu menyiramkannya kepadanya. Sehingga dia siuman di tengah-tengah orang banyak dan tidak apa-apa lagi.”

Ungkapan وَلاَ جِلْدَ مُخَبَّأَةً ‘dan tidak luput pula kulitnya seperti kulit seorang gadis’, مُخَبَّأَة adalah gadis yang belum pernah menikah, karena penjagaannya lebih ketat daripada penjagaan seorang wanita yang telah menikah. Yaitu kulit Sahl bin Hanif karena kulitnya sangat lembut.

Ungkapan فَلُبِطَ بِسَهْلٍ ‘sehingga Sahal terasuki’, dengan kata lain, dia kemasukan dan pingsan sehingga jatuh di atas lantai disebabkan pengaruh pandangan Amir yang menimpanya.

Ungkapan هَلْ لَكَ ‘apakah engkau memiliki sesuatu’, dengan kata lain, berupa kebaikan atau pengobatan.

Ungkapan فَتَغَيَّظَ عَلَيْهِ ‘lalu memarahinya’, dengan kata.

Ungkapan أَلاَ بَرَكْتَ ‘apakah engkau tidak memohonkan berkah’, dengan kata lain, apakah tidak engkau do’akan agar dia mendapatkan berkah, dengan mengatakan,

بَارَكَ اللهُ عَلَيْهِ، أَوْ اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ

“Semoga Allah memberikan berkah atas dirinya, atau ya Allah, berkahilah dia”

Sehingga ain (sihir mata) tidak mempengaruhinya?

Ungkapan وَدَاحِلَ إِزَارِهِ ‘bagian dalam sarungnya’. Dikatakan, kemaluan. Dikatakan pula, paha dan bokong. Dikatakan pula, ujung kain sarung yang paling dekat dengan tubuh bagian sisi kanan.”

Ungkapan فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ ‘sesungguhnya sihir mata itu benar adanya’. Bahwa telah datang dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sabdanya,

الْعَيْنُ حَقٌّ، وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابِكُ الْقَدَرِ، لَسَبَقَتْهُ الْعَيْنُ

“Sihir mata itu benar adanya, jika ada sesuatu yang mendahului takdir, tentulah sihir mata mendahuluinya.”[2]

الْعَيْنُ حَقٌّ ‘sihir mata itu benar adanya’, dengan kata lain, tertimpa oleh sihir mata adalah di antara sesuatu yang nyata kejadiannya. Dikatakan, “Pengaruhnya.”

Ungkapan وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابِكُ الْقَدَرِ ‘jika ada sesuatu yang mendahului takdir’, seakan-akan menjadi penegas ucapan pertama, dengan kata lain, jika sesuatu itu membinasakan atau membahayakan dengan tanpa qadha dari Allah Ta’ala, maka tentu itu adalah sihir mata, dengan kata lain, menimpanya karena sangat besar bahaya yang ditimbulkannya.

Dalam hadits ini peringatan akan kecepatan proses pengaruhnya pada semua dzat. Oleh sebab itu, sedemikian rupa ucapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tiada lain adalah karena betapa besar pengaruh sihir mata itu. Dan juga ada penegasan yang sangat agar manusia menjaga mata mereka agar tidak menimpakan hal buruk pada seseorang. Jika seseorang tiba-tiba takjub karena sesuatu yang dipandangnya dan khawatir matanya akan menimpa hal buruk pada seseorang, hendaknya dia mengucapkan,

بَارَكَ اللهُ عَلَيْهِ، أَوْ اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ

“Semoga Allah memberikan berkah atas dirinya, atau: ‘Ya Allah, berkahilah dia.”[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 586-589


[1]   Ahmad. (4/447): Ibnu Majah. (no. 3509): Malik (no. 1697-1698). Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’. (1/212). no. 556. Lihat pula tahqiq Zaad Al-Ma’ad, karya Al-Arnauth. (4/170).
[2]     Muslim, no. 2188.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: