Syarah Keutamaan Dzikir (6)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوْا بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى

‘”Maukah kusampaikan kepada kalian semua sebaik-baik amal kalian, sesuci-sucinya menurut Penguasa kalian, yang paling tinggi derajatnya bagi kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, lebih baik bagi kalian daripada kalian bertempur dengan pasukan musuh sehingga kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Beliau bersabda, ‘Dzikir kepada Allah Ta’ala’.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Ad-Darda Uwaimir bin Amir Radhiyallahu Anhu.

Sesungguhnya dzikir kepada Allah Azza wa Jalla adalah lebih utama dari segala macam amal. Bahkan merupakan amal yang paling suci. Paling tinggi derajatnya. Dan dia lebih utama daripada sedekah. Di mana beliau bersabda,

وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ

“… Dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak…”

Dzikir lebih utama daripada jihad, di mana beliau bersabda,

وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ

“… Dan lebih baik bagi kalian daripada kalian bertempur dengan pasukan musuh sehingga kalian menebas leher mereka …”

Menebas leher para musuh adalah jihad. Bahkan lebih utama daripada kesyahidan, hingga beliau bersabda,

وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ

“… Dan mereka menebas leher kalian.”

Karena kesyahidan yang utama adalah terpenggalnya leher-leher oleh tangan-tangan para musuh di jalan Allah Ta’ala.

Ungkapan أَلاَ ‘maukah’ atau ‘ketahuilah’ adalah ungkapan yang berfungsi untuk menarik perhatian. Seakan-akan pembicara mengingatkan dan menarik perhatian orang kedua karena adanya perkara yang agung keadaannya dan jelas dalilnya.

Ungkapan أُنَبِّئُكُمْ ‘kusampaikan kepada kalian semua’, dari kata an-naba` yang artinya berita atau kabar. Dari kata itu pula muncui kata jadian nabi ‘orang yang diberi kabar dari Allah Ta’ala’.

Ungkapan وَخَيْرٍ ‘dan sebaik-baik’ di sini artinya ‘lebih baik’. Lafazh خير dan شر dipakai untuk bentuk dengan wazan أفْعَلُ untuk arti ‘lebih’ (tafdhil) sesuai dengan bentuk keduanya yang demikian.

Ungkapan وَأَزْكَاهَا ‘sesuci-sucinya’, dengan kata lain, adalah lebih suci yang berasal dari akar kata زَكَاةٌ yang artinya bersuci. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).” (Al-A’la/87: 14)

Dengan kata lain, telah bersuci. Atau dari akar kata النّمَاءُ ‘pertumbuhan’. Dikatakan زَكَى الزَّرْعُ jika tanaman itu tumbuh.

Ungkapan اَلْـمَلِيْكُ adalah salah satu nama di antara nama-nama Allah ta’ala. اَلْـمَلِيْكُ, اَلْـمَلِكُ, dan اَلْـمَالِكُ semuanya adalah dari akar kata اَلْـمَلِكُ.

Ungkapan الْوَرِقِ adalah perak.

Ungkapan بَلَى ‘ya’, dengan kata lain, adalah ‘ya sampaikan kepada kami’. Karena kata بَلَى adalah khusus untuk menjawab pertanyaan dalam bentuk penafian, baik peniadaan itu dalam bentuk pertanyaan atau bentuk kabar. Terhadap orang yang mengatakan: لَـمْ يَقُمْ زَيْدٌ أَوْ أَلَـمْ يَقُمْ زَيْدٌ؟  ‘Zaid belum bangun’ atau ‘bukankah Zaid belum bangun?‘ Maka jawabnya adalah بَلَى ‘ya’, dengan kata lain, ‘ya dia telah bangun’. Yang demikian pula firman Allah Ta’ala.

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى

‘”Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami)’.” (Al-A’raf/7: 172)

Dengan kata lain, benar Engkau adalah Tuhan kami. Jika mereka mengatakan نَعَمْ ‘ya’, maka jadilah mereka itu kafir, karena نَعَمْ akan menetapkan apa-apa sebelumnya, apakah dalam bentuk penafian atau pun positif, kecuali jika dibawa kepada tradisi.

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 63-66.


[1]     At-Tirmidzi, (5/459), no. 3377; Ibnu Majah, (2/1246), no. 3790. Juga lihat Shahih Ibnu Majah, (2/316); dan Shahih At-Tirmidzi, (3/139).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: