Syarah Keutamaan Dzikir (7)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai dengan anggapan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya jika dia berdzikir kepada-Ku. Jika dia berdzikir kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku ingat kepadanya dalam diri-Ku. Jika dia berdzikir kepada-Ku di tengah orang banyak, maka Aku ingat kepadanya di tengah orang banyak yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Sedangkan jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari kecil.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Hurairah. Namanya berbeda-beda sehingga menjadi banyak pendapat. Sedangkan yang paling kuat adalah sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka: Abdurrahman bin Shakhr Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ ‘Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai dengan anggapan hamba-Ku kepada-Ku”, dengan kata lain, bahwa Allah Ta’ala sesuai dengan anggapan hamba-Nya terhadap-Nya. Jika dia menganggap-Nya baik, maka itulah baginya. Sedangkan jika seseorang menyangka yang lain kepada-Nya, maka itulah baginya pula.

Dalam suatu riwayat:

إِنَّ اللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai dengan anggapan hamba-Ku kepada-Ku. Jika baik, maka baik; dan jika buruk, maka buruk’.”[2]

Makna: ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ ‘anggapan hamba-Ku kepada-Ku’ adalah anggapan ijabah ketika berdo’a, anggapan diterima ketika bertaubat, anggapan mendapatkan ampunan ketika beristighfar, dan anggapan telah terpenuhi semua pahala ketika melakukan ibadah dengan syarat-syaratnya, dengan dasar berpegang kepada janji-Nya, dan dengan kejujuran-Mya. Hal itu dikuatkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مَوْقِنُوْنَ بِالْإِجَابَةِ

“Berdo’alah kalian semua kepada Allah dan kalian semua yakin akan diijabah.”[3]

Oleh sebab itu, setiap orang harus bersungguh-sungguh ketika melakukan apa-apa yang harus dia lakukan dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala pasti menerimanya dan mengampuninya; karena Dia berjanji yang demikian, sedangkan Dia tidak pernah mengingkari janji. Jika seseorang yakin atau menyangka bahwa Allah tidak menerimanya, dan bahwa semua itu tidak bermanfaat baginya, maka yang demikian adalah keputusasaan dari rahmat Allah. Perbuatan seperti itu adalah bagian dari berbagai macam dosa besar. Siapa saja yang mati dalam keadaan yang demikian, maka dia akan dikembalikan kepada apa yang menjadi anggapannya. Sedangkan persangkaan adanya ampunan dengan terus-menerus, maka yang demikian adalah kebodohan yang sesungguhnya dan kelengahan.[4]

Ungkapan وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ ‘dan Aku bersamanya jika dia berdzikir kepada-Ku’ adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl/16: 128)

Kebersamaan di sini adalah khusus bagi kaum Mukminin yang berkonsekuensi adanya penjagaan, pemeliharaan, taufik, dan dukungan …, hal itu bukan kebersamaan yang bersifat umum yang mencakup semua makhluk dan harus dengan ilmu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada.” (Al-Mujadilah/58: 7)

Ungkapan فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ ‘jika dia berdzikir kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku ingat kepadanya dalam diri-Ku’, dengan kata lain, jika dia berdzikir kepada-Ku dengan menjauhkan segala sifat kurang dari-Ku, dengan pensucian, dengan pengagungan secara rahasia, dengan rasa takut ketika sendirian, maka Aku akan ingat kepadanya dalam diri-Ku, suatu ingatan kepadanya yang berkonsekuensi adanya pahala, pemberian nikmat, penjagaan, dan pemeliharaan.

Ungkapan وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ‘jika dia berdzikir kepada-Ku di tengah orang banyak’, dengan kata lain, dalam suatu jama’ah; ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ‘maka Aku ingat kepadanya di tengah orang banyak yang lebih baik daripada mereka’, dengan kata lain, dalam jama’ah para malaikat yang lebih daripada jama’ahnya yang mana Aku diingat di tengah-tengah mereka.

Ungkapan وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا…الخ ‘jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta … ‘ dst., makna ungkapan itu jika seorang hamba mendekat kepada Allah Ta’ala dengan suatu ketaatan, atau dengan melaksanakan apa-apa yang Dia perin-tahkan kepadanya dengan ukuran tertentu, baik sedikit atau banyak, maka Allah Ta’ala akan mendekat kepadanya dengan segala pahala, pemberian nikmat, dan rahmat yang lebih agung dan lebih cepat.

Ungkapan بَاعًا ‘sedepa’ adalah ukuran panjang seukuran dua tangan yang direntangkan.

Ungkapan هَرْوَلَةً ‘lari kecil adalah semacam jalan cepat.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 66-70.


[1]     Al-Bukhari, (8/171), no. 7405; dan Muslim, (4/2061), no. 2675 sedangkan lafazhnya dari Al-Bukhari.
[2]     Lihat Silsilah Ahadits Ash-Shahihah, no. 1663.
[3]     At-Tirmidzi, no. 3479. Dan lihat Shahih Al-Jami’ no. 243.
[4]     Lihat Fathul Bari, 13/387..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: