Syarah Keutamaan Dzikir (8)

Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu Anhu bahwa seorang pria berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِيْ بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak atas diriku, maka sampaikan kepadaku sesuatu yang aku harus selalu terikat dengannya? “Beliau menjawab, ‘Hendaknya selalu lisanmu basah karena dzikir kepada   Allah’.”[1]

Ungkapan إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ ‘sesungguhnya syariat Islam telah banyak atas diriku’ adalah bentuk jamak dari kata syariah, yaitu ‘jalan yang diridhai’, dengan kata lain, bahwa semua perkara islam telah banyak pada diriku, seperti: shalat, zakat, haji, puasa, jihad, dan lain sebagainya berupa berbagai macam amal badaniah dan yang berkaitan dengan harta serta menahan diri dari berbagai macam larangan, dan meninggalkan apa-apa yang di dalamnya berbagai macam hukuman dan kafarah … dan lain sebagainya.

Ungkapan فَأَخْبِرْنِيْ بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ ‘maka sampaikan kepadaku sesuatu yang aku harus selalu terikat dengannya?’, dengan kata lain, ketika aku tidak mampu untuk keluar dari ikatan perkara-perkara syariat sebagaimana semestinya syariat itu, dan aku tidak mampu untuk merutinkannya dan melanggengkannya dalam sepanjang waktu, maka sampaikan kepadaku tentang sesuatu yang aku harus mengikatkan diri dengannya sehingga semoga aku beruntung dengan hal itu. Dan akhirnya hal itu menjadi sesuatu yang sangat banyak dalam timbangan dan ringan dalam pelaksanaan.

التَّشَبُّثُ adalah التَّعَلُّقُ, dengan kata lain, berpegang-teguh kepadanya dan selalu berkaitan dengannya. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya,

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“Hendaknya lisanmu selalu basah karena dzikir kepada Allah.”

Dengan kata lain, kebasahan lisanmu akan terus-menerus karena dzikir. Saya katakan demikian karena kebasahan lisan adalah kata kiasan (kinayah), yang artinya ‘sibuk dengan dzikir’.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 70-72


[1]     At-Tirmidzi, (5/458), no. 3375; Ibnu Majah, (2/1246), no. 3793. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi, (3/139); dan Shahih Ibnu Majah, (2/317).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: