Syarah Keutamaan Dzikir (11)

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ

“Barangsiapa duduk di suatu tempat dan tidak dzikir kepada Allah, maka atas dirinya kekurangan dari Allah. Dan barangsiapa berbaring di atas pembaringan dan tidak berdzikir kepada Allah, maka atas dirinya kekurangan dari Allah.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Dengan kata lain, siapa saja yang duduk pada suatu majelis dengan tidak berdzikir kepada Allah dalam majelis itu, maka atas dirinya kekurangan yang datang dari sisi Allah, dengan kata lain, kekurangan, karena berasal dari kata: وَتَرَ-يَتِرُ-تِرَةٌ. Sebagaimana firman Allah, وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ ‘dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu’ (Muhammad/47: 35).

Az-Zamakhsyari Rahimahullah berkata, مَن وَتَرْتَ artinya apabila engkau membunuh salah seorang dari anak, saudara, atau teman dekatnya. Hakikatnya adalah orang yang engkau asingkan dari kerabatnya atau hartanya. Berasal dari kata اَلْوَتَر yang artinya ‘sendiri’. Maka, penghilangan amal dan pahala seseorang serupa dengan penghilangan orang (disebabkan pembunuhan) sehingga menjadi sendiri. Kata itu bagian dari ungkapan yang fasih. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

مَنْ فَاتَتْهُ صَلاَةُ الْعَصْرِ فَكَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلُهُ وَمَالُهُ

“Orang yang ketinggalan shalat ashar bagaikan orang yang dipisahkan dari keluarga dan hartanya.”[2]

Dengan kata lain, bagaikan dipisahkan dari keduanya karena keluarganya dibunuh dan hartanya dirampas.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan yang demikian karena seorang hamba harus menggunakan seluruh waktunya dalam semua keadaan untuk dzikir kepada Allah Ta’ala dan tidak mengurangi hal itu, karena meninggalkannya adalah penyesalan.

Ungkapannya مَضْجَعًا ‘pembaringan’; مَضْجَعٌ adalah tempat untuk tidur, berasal dari akar kata اَلْاِضْطِجَاعُ yang artinya ‘tidur’.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 75-77.


[1]     Abu Dawud, (4/264), no. 4856, dan selainnya. Lihat Shahih Al-Jami’, (5/342), no. 6477.
[2]     Al-Bukhari, no. 522; dan Muslim, no. 626.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: