Syarah Istigfar dan Taubat (5)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Dan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,  ‘Seorang hamba berada dalam keadaan yang paling dekat dengan Tuhannya adalah di saat sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah oleh kalian do’a’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَقْرَبُ ‘paling dekat‘. Sebagian para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa sujud lebih utama daripada berdiri. Imam Ahmad Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dengan jumlahnya yang banyak lebih utama daripada lamanya berdiri, demikian yang benar.” Menurut madzhab Abu Hanifah Rahimahullah bahwa lamanya berdiri lebih utama daripada banyaknya jumlah ruku’ dan sujud. Demikian juga dikatakan Asy-Syafi’i. Hal itu karena sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُوْلُ الْقُنُوْتِ

“Sebaik-baik shalat adalah yang panjang berdirinya.”[2]

Karena dzikir ketika berdiri adalah Al-Qur’an; dzikir ruku’ dan sujud adalah tasbih. Al-Qur’an lebih utama. Sesuatu yang lama dengan Al-Qur’an itulah yang lebih utama. Ishaq Rahimahullah berkata, “Jika di siang hari, maka lebih banyak ruku’ dan sujud, sedangkan di malam hari adalah lamanya berdiri. Kecuali yang memiliki kelompok majelis malam yang selalu dia datangi, maka banyaknya ruku’ dan sujud dalam keadaan seperti itu lebih kusukai. Karena dia datang kepada kelompoknya.” At-Tirmidzi Rahimahullah berkata, “Ishaq mengatakan sedemikian karena dia menyifati shalat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada malam hari, dan menyifati berdirinya yang lama. Sedangkan pada siang hari dia tidak menyifati shalatnya dengan berdirinya yang lama sebagaimana yang dia sifati pada shalatnya di malam hari.”

Sedangkan makna bahwa seorang hamba lebih dekat kepada Allah Ta’ala ketika sedang sujud daripada seluruh kondisinya yang lain, karena kondisinya yang demikian menunjukkan kepada penghambaan yang paling  mendalam dan pengakuan akan ubudiyah dalam dirinya serta rububiyah Rabbnya. Maka, menjadi sesuatu yang dianggap paling dekat dengan ijabah. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar memperbanyak do’a. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 601-603.


[1]     Muslim, (1/350), no. 482.
[2]     Muslim, no. 756.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: