Syarah Keutamaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir (9)

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: عَلِّمْنِيْ كَلاَمًا أَقُوْلُهُ! قَالَ: قُلْ: لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ. قَالَ فَهَؤُلاَءِ لِرَبِّيْ فَمَا لِيْ؟ قَالَ: قُلْ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

“Seorang badui datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu berkata, ‘Ajari aku perkataan untuk aku baca.’ Beliau bersabda, ‘Katakan:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

‘Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Allah Mahabesar. Segala puji bagi Allah yang banyak. Mahasuci Allah Tuhan sekalian alam. Tiada kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’

Orang badui itu berkata, ‘Kalimat itu untuk Tuhanku, mana yang untukku? Beliau bersabda, ‘Katakan:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

‘Ya Allah, ampunilah aku, belas kasihanilah aku, berilah petunjuk kepadaku, dan berilah rezeki kepadaku’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu.

Dalam riwayat lain[2] disebutkan,

لَمَّا وَلَّى الْأَعْرَابِيُّ، قَالَ النَّبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ مَلأَ يَدَيْهِ مِنَ الْـحَيْرِ

“Ketika seorang badui itu berpaling hendak pergi, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kedua tangannya telah penuh dengan kebaikan.'”

Ungkapan رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ‘Rabb alam semesta’. Rabb tidak pernah disebutkan melainkan ditujukan hanya kepada Allah. Dalam bagian lain dijadikan dengan kaitan idhafah. Seperti رَبُّ الدَّارِن رَبُّ النَّاقَةِ ‘tuan rumah dan pemilik unta’. Jadi الرَّبُّ artinya الْمَالِكُ ‘pemilik’ atau السَّيِّدُ ‘tuan’ atau الـمُصْلِحُ ‘yang memperbaiki’. Sedangkan الْعَالَمِيْنَ adalah bentuk jamak dari عَالَـمٌ ‘alam semesta’, yaitu ism untuk semua selain Allah Ta’ala. Dijamakkan agar mencakup semua jenis dan juga di dalamnya terkandung makna sifat yang menunjukkan kepada makna Ilm ‘ilmu’. Dijamakkan dengan wawu dan nuun, sekalipun tidak pernah dibentuk demikian, kecuali jamak untuk makhluk yang berakal atau yang sejenisnya dari semua yang ada.

 الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ ‘Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana’; dua ism di antara nama-nama Allah Ta’ala. الْعَزِيْزِ artinya Dzat Yang memiliki keperkasaan yang sempurna yang dengannya Dia memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki. Dikatakan, عَزَّ فُلاَنٌ فُلاَنًا يَعِزُّهُ عَزًّا artinya ‘fulan mengalahkan fulan dengan sebenar-benarnya’. Demikian jika dia mengalahkannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ

“… Dia mengalahkan Aku dalam perdebatan.” (QS. Shaad/38: 23)

Dengan kata lain, mengalahkanku. Sedangkan الْحَكِيْمِ ‘Maha Bijaksana’ adalah Dzat Yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan mendudukkannya pada kedudukannya yang layak baginya dalam segala urusan dan ciptaan-Nya.

 فَهَؤُلاَءِ ‘dia berkata: kalimat itu’, dengan kata lain, orang badui itu berkata, “Semua kalimat itu untuk Rabbku”, dengan kata lain, untuk urusan Rabbku; atau hak-Nya karena semua itu adalah sifat-sifat-Nya, karena semua itu terdiri dari tahlil, tauhid, tahrnid, tasbih, pujian, pemuliaan, dan semua itu adalah hak-Nya.

 فَمَا لِيْ ‘sedangkan untukku’, dengan kata lain, apa yang menjadi untukku dan selalu kusebutkan demi hakku.

 اَللَّهُمَّ ‘ya Allah’. Asalnya adalah يَا اللهُ, huruf miim bertasydid di bagian akhirnya adalah pengganti huruf yaa.

اغْفِرْ لِيْ ‘ampunilah aku’. Arti اَلْغَفْرُ adalah penutup. Seperti اَلْـمَّغْفَرُ adalah sesuatu yang dikenakan untuk menutup kepala di bawah helm atau peci. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah ‘penutupan dosa-dosa’.

 ارْحَمْنِيْ ‘sayangilah aku’. الرَّحْمَةُ artinya kelemah-lembutan dan keluwesan. Yang mencakup pemberian nikmat dan kebaikan oleh-Nya. Karena makna kelemah-lembutan dan keluwesan selalu mengarah kepada kata ini.

Korektor mengatakan, “Rahmat Allah Ta’ala adalah sifat di antara berbagai macam sifat yang layak dan keagungan-Nya. Dengannya Dia menyayangi para hamba-Mya dan memberi mereka kenikmatan.”[3]

 وَاهْدِنِيْ ‘berilah aku petunjuk’. Petunjuk adalah kebalikan kesesatan, yaitu penunjukan yang hanya sampai kepada penyimpangan.

 وَارْزُقْنِيْ ‘dan berilah rezeki kepadaku’, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menggabungkannya  ketika  mengajarkan do’a  ini  antara apa-apa yang memberikan manfaat keakhiratan dan manfaat keduniaan, karena ampunan dan rahmat serta petunjuk adalah sebagian dari manfaat keakhiratan. Sedangkan rezeki adalah sebagian dari berbagai manfaat keduniaan. Manfaat keakhiratan didahulukan karena itulah yang pada dasamya menjadi tujuan yang sebenarnya. Ajaran ini dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai ajaran yang berbentuk arahan dan bimbingan ke jalan kebaikan.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 611-615.


[1]     Muslim, (4/2072), no. 2696.
[2]     Abu Dawud, (1/220), no. 832.
[3]     Lihat Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, karya lbnu Utsaimin, hlm. 205, juga syarahnya karya Al-Harras, hlm. 106. Lihat juga Taudhih Al-Ahkam, karya Al-Bassam, (2/97). (Korektor).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: