Biografi Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh

Mufti Dunia dan Imam Dakwah Salafiyah

Oleh: Abu Aisyah

Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Syaikh al-Allamah al-Faqih al-Muhaddits Abu Abdul Aziz  Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif bin Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad  bin Abdul  Wahhab at-Tamimi an- Najdi

Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 1311 H di Riyadh   (Saudi Arabia) daiam lingkungan  keluarga yang dikenal dengan keilmuan dan keutamaan mereka.

Pertumbuhan Ilmiah dan Guru-gurunya

Beliau tumbuh di Riyadh didalam lingkungan yang penuh dengan pancaran ilmu. Ayahanda-nya Qadhi kota Riyadh. Dan paman-pamannya para ulama masyhur.

Pada umur 7 tahun, beliau رحمه الله belajar tajwid al-Qur’an di bawah bimbingan Syaikh Abdur Rahman bin Mufairij. Kemudian beliau menghafal al-Qur’an pada usia 11 tahun.

Setelah hafal al-Qur’an beliau belajar kepada ayahandanya ringkasan-ringkasan risalah-risalah para imam dakwah tauhid. Beliau hafalkan matannya lebih dulu kemudian Beliau setorkan hafalan tersebut kepada ayahandanya. Setelah mutqin, ayahandanya memberikan syarah (penjelasan) matan tersebut kepada beliau.

Ketika berusia 16 tahun, beliau mengalami sakit pada kedua matanya selama setahun yang menyebabkan beliau kehilangan penglihatannya.

Pada tanggal 6 Dzulqa’dah 1329 H, ayahandanya meninggal dunia dalam usia 49 tahun. Maka beliau melanjutkan ta’limnya kepada para ulama negerinya. Beliau belajar kepada setiap gurunya dalam bidang ilmu yang gurunya menonjol pada bidang tersebut sehingga beliau menonjol dalam setiap bidang ilmu yang beliau pelajari. Dalam bidang tauhid, tergolong kuat dalam tahqiq. Dalam bidang fiqih, beliau kokoh dalam ijtihad. Dalam bidang bahasa dan sastra Arab, beliau pakarnya. Demikian pula dalam bidang ilmu lainnya.

Baca pos ini lebih lanjut

Riwayat Imam Nawawi

Disamping gelar Al-Imam, beliau juga menjadat gelar sebagai Al-Hafiz, Al-Faqih, Al-Muhaddith, pembela As-Sunnah, penentang bid’ah, pejuang ilmu-ilmu agama. Nama lengkapnya adalah Abu Zakariya bin Syaraf bin Mari bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam An-Nawawi Ad-Dimasyqi.

Beliau dilahirkan di desa Nawa yang termasuk wilayah Hauran pada tahun 631H. Kakek tertuanya Hizam singgah di Golan menurut adat Arab, kemudian tinggal di sana dan Allah سبحانه و تعالى memberikan keturunan yang banyak, salah satu diantara adalah Imam Nawawi.

Banyak orang terkemuka di sana yang melihat anak kecil memiliki kepandaian dan kecerdasan. Mereka menemui ayahnya dan memintanya agar memperhatikannya dengan lebih seksama. Ayahnya mendorong sang Imam menghafazkan Al-Qur’an dan ilmu. Maka An-Nawawi mulai menghafaz Al-Qur’an dan dididik oleh orang-orang terkemuka dengan pengorbanan harus meninggalkan masa bermain-mainnya karena harus menekuni Al-Qur’an dan menghafaznya. Sebagain gurunya pernah melihat bahwa Imam Nawawi bersama anak-anak lain dan memintanya bermain bersama-sama. Karena sesuatu terjadi diantara mereka, dia lari meninggalakn mereka sambil menangis karena merasa dipaksa. Dalam keadaan yang demikian itu dia tetap membaca Al-Qur’an.

Demikianlah, sang Imam tetap terus membaca Al-Qur’an sampai dia mampu menghafaznya ketika mendekati usia baligh. Ketika berusia 9 tahun, ayahnya membawa dia ke Damsyiq untuk menuntut ilmu lebih dalam lagi. Maka tinggallah dia di Madrasah Ar-Rawahiyah pada tahun 649H. Dia hafal kitab At-Tanbiih dalam tempo empat setengah bulan dan belajar Al-Muhadzdzab karangan Asy-Syirazi dalam tempo delapan bulan pada tahun yang sama. Dia menuntaskan ini semua berkat bimbingan gurunya Al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin Usman Al-Maghribi Al-Maqdisi. Dia adalah guru pertamanya dalam ilmu fiqh dan menaruh memperhatikan muridnya ini dengan sungguh-sungguh. Dia merasa kagum atas ketekunanannya belajar dan ketidaksukaanya bergaul dengan anak-anak yang seumur. Sang guru amat mencintai muridnya itu dan akhirnya mengangkat dia sebagai pengajar untuk sebagian besar jamaahnya.

GURU-GURU IMAM NAWAWI

Sang Imam belajar pada guru-guru yang amat terkenal seperti Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ashari, Zainuddin bin Abdud Daim, Imaduddin bin Abdul Karim Al-Harastani, Zainuddin Abui Baqa, Khalid bin Yusuf Al-Maqdisi An-Nabalusi dan Jamaluddin Ibn Ash-Shairafi, Taqiyyuddin bin Abui Yusri, Syamsuddin bin Abu Umar. Dia belajar fighul hadits pada Asy-Syeikh Al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi Al-Andalusi. Kemudian belajar fiqh pada Al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin usman Al-Maghribi Al-Maqdisi, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh dan Izzuddin Al-Arbili serta guru-guru lainnya. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Ibnul Jauzi

Riwayat Hidup Imam Ibnul Jauzi[1]
(508-597 H/1114-1201 M)

Dia adalah ‘Abdurrohman bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin Abdillah bin Hadi bin Ahmad bin Muhammad bin Ja’far Al-Jauzi: Abu Al-Faroj, Al-Qurosyi At-Taimi Al-Bakri.

Silsilah keturunannya bersambung sampai kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Dia menuturkan tentang silsilah keturunannya, “Dan ketahuilah bahwa kami termasuk anak cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq.”

Dia رحمه الله dikenal dengan imbuhan Al-Baghdadi di akhir namanya, karena ia lahir dan tinggal di kota Baghdad. Dia pun juga dikenal dengan imbuhan nama Al-Hanbali, karena ia menjadi pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله.

Ibnul Jauzi besar di kota Baghdad. Dia telah mencari ilmu semenjak masih kecil. Karena itu dia telah hafal Al-Quran pada usia dini. Dan dia menimba ilmu hadits kepada Abu Al-Fadhl bin Nashir Al-Hanbali, seorang penghafal hadits yang tsiqoh. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari

AL-IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI
Pembela Aqidah Salaf

Disusun oleh: Abu Aisyah

Nama dan Nasabnya

Beliau adalah al-Imam Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari Abdullah bin Qais bin Hadhar salah seorang sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم  yang masyhur.

Kelahirannya

Beliau رحمه الله dilahirkan pada tahun 260 H di Bashrah, Irak.

Sifat-sifatnya

Beliau رحمه الله dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa dan ketajaman pemahamannya. Demikian juga, beliau dikenal dengan qana’ah dan kezuhudannya.

Guru-gurunya

Beliau mengambil ilmu kalam dari ayah tirinya, Abu Ali al-Jubai, seorang imam kelompok Mu’tazilah.

Ketika beliau keluar dari pemikiran Mu’tazilah, beliau رحمه الله memasuki kota Baghdad dan mengambil hadits dari muhaddits Baghdad Zakariya bin Yahya as-Saji. Demikian juga, beliau belajar kepada Abul Khalifah al-Jumahi, Sahl bin Nuh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqri, Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri, dan para ulama thabaqah mereka. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Al-Hafidz Al-Mizzi Asy-Syafi’i

Al-Hafidh al-Mizzi رحمه الله adalah seorang ulama besar ahlus Sunnah bermadzhab Syafi’i.

Nama lengkapnya adalah Yusuf bin az-Zaki Abdurrahman ad-Dimasyqi.

Biografi beliau dapat kita temui dalam kitab Thabaqat Syafi’iyah al-Kubra karya Tajudin as-Subki رحمه الله, juga kitab Thabaqat al-Huffazh karya imam Jalaludin as-Suyuti رحمه الله dan kitab-kitab lainnya.

Beliau adalah mertua sekaligus guru dari imam ibnu Katsir رحمه الله dan juga imam adz-Dzahabi رحمه الله serta As Subki رحمه الله.

Karyanya yang paling besar adalah kitab Tahdzib al-Kamal fii Asma ar-Rijal (dan juga al-Athraf), yang dianggap sebagai salah satu kitab yang terbaik dalam penulisan biografi para periwayat hadits. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Asy-Syaukani

AL-IMAM ASY-SYAUKANI: Pembela Aqidah Salaf

Nama dan Nasab Beliau

Beliau adalah al Imam al Qadhi Abu Ali Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah asy-Syaukani, ash-Shan’ani.

Kelahiran Beliau

Beliau dilahirkan pada tengah hari 28 Dzulqa’dah 172 H di Hijratu Syaukan, Yaman.

Pertumbuhan Beliau

Beliau tumbuh di bawah asuhan ayahandanya dalam lingkungan yang penuh dengan keluhuran budi dan kesucian jiwa. Beliau belajar al-Qur’an di bawah asuhan beberapa guru dan dikhatamkan di hadapan al-Faqih Hasan bin Abdullah al Habi dan beliau perdalam kepada para masyayikh al-Qur’an di Shan’a. Kemudian beliau menghafal berbagai matan dalam berbagai disiplin ilmu, seperti: al Azhar oleh al Imam al Mahdi, Mukhtashar Faraidh oleh al Ushaifiri, Malhatul Harm, al Kafiyah asy Syafiyah oleh Ibnul Hajib, at-Tahdzib oleh at-Tifazani, at-Talkhish fi Ulumil Balaghah oleh al Qazwaini, al Ghayah oleh Ibnul Imam, Mamhumah al Jazarifil Qira’ah, Mamhumah al Jazzar fil ‘Arudh, Adabul Bahts wal Munazharah oleh al Imam al-‘ Adhud. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Ibnu Abil ‘Izzi

Beliau رحمه الله Adalah Al-Imam Al-Allamah Shadruddien Abul Hasan Ali bin ‘Ala’uddien Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi Al-Adzru’i Ash-Shalihi Ad-Dimasyqi. Dilahirkan thun 731 H. Besar sangkaan saya bahwa beliau dilahirkan di Damaskus. Karena ayah, kakek dan buyutnya berdomisili di sana.

Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, penuh kemuliaan. Ayahnya pernah menjadi seorang Qadhi. Demikian juga kakeknya adalah penghulunya para Qadhi.

Pertama kali beliau berguru kepada Al-Hafizh Abul Fida’ ‘Imaduddien Ibnu Katsir, sebagaimana disebutkan dalam beberapa tempat dalam “Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah”. Beliau mengemban tugas mengajar pada beberapa perguruan di Damaskus. Lalu bertugas selaku Qadhi, juga di Damaskus.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Ibnu Katsir: Sosok Mufassir Sejati

NAMA LENGKAP

Nama lengkap beliau adalah Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di negeri Syam. Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap di kota Damaskus.

RIWAYAT PENDIDIKAN

Ibn Katsir tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, beliau banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Beliau juga menimba ilmu dari Isa bin Muth’im, Ibn Asyakir, Ibn Syairazi, Ishaq bin Yahya bin al-Amidi, Ibn Zarrad, al-Hafizh adz-Dzahabi serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian menikahkan Ibn Katsir dengan putrinya.

Selain Damaskus, beliau juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.

PRESTASI KEILMUAN

Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir yaitu Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjadi kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini, di samping kitab tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thabari.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Ath-Thahawi

Beliau رحمه الله adalah seorang Imam pakar penghafal hadits. Nama beliau, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salaamah bin Sallamah bin Abdil Malik Al-Azdi Al-Hajari Al-Mishri Ath-Thahawi Al-Hanafi. Dilahirkan di Buthha, sebuah desa di negeri Mesir, yang sekarang ini masuk wilayah muhafadzah (setingkat kabupaten) Al-Meniya.

Beliau dilahirkan pada tahun 239 H, ada juga yang mengatakan 237 H. Dibesarkan di rumah kediaman yang penuh ilmu dan keutamaan. Ayahnya adalah seorang ulama. Sedangkan pamannya, Al-Imam Al-Muzanni, sahabat Al-Imam Asy-Syafi’ie yang juga membantu meyebarluaskan ilmu beliau.

Al-Imam Ath-Thahawi belajar dari pamannya sendiri Al-Muzanni dan mendengar periwayatan pamannya dari Al-Imam Asy-Syafi’ie رحمه الله. Tatkala beliau menginjak usia dua puluh tahun, beliau meninggalkan madzhab Al-Imam Asy-Syafi’ie, dan beralih ke madzhab Al-Imam Abu Hanifah. Ada yang menceritakan, bahwa sebab perpindahan madhzab beliau itu, karena beliau melihat bahwa pamannya selalu menelaah kitab-kitab Abu Hanifah. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Kholifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله

UMAR BIN ABDUL AZIZ رحمه الله
Kholifah Pembela Sunnah dan Penegak Keadilan
oleh: Ustad Abu Faiz al-Atsari خفظه الله

NAMA DAN NASAB BELIAU

Beliau adalah Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abil Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushoi bin Kilab, al-Qurosyi al-Madani.

Ayah beliau yaitu Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang yang pernah menjabat pemimpin di salah satu wilayah kota Mesir dan di sana pulalah beliau lahir, sedangkan ibu beliau adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khoththob رضي الله عنه.

Beliau adalah seorang yang berkulit coklat sawo matang, berparas lembut, berbadan kurus, berjenggot rapi, bermata cekung, dan di wajahnya ada bekas luka karena tertanduk kuda.

Berkata Hamzah bin Sa’id, “Suatu hari Umar bin Abdul Aziz ingin menemui bapaknya sedang pada waktu itu dia masih bocah, lalu seekor kuda menanduknya sehingga melukainya, maka bapaknya sambil mengusap darah yang mengalir seraya mengatakan, ‘Kalau engkau bisa menjadi orang Bani Umayyah yang paling kuat sungguh itu adalah keberuntungan.'” [1]

Dan di masa mudanya Umar bin Abdul Aziz lebih mengutamakan ilmu dari menyibukkan urusan kekuasaan dan jabatan, sehingga ia telah hafal al-Qur’an di masa kecilnya lalu beliau meminta kepada ayahnya agar mengizinkannya untuk melakiikan rihlah (perjalanan jauh) dalam tholabul ilmi (menuntut ilmu). Maka berangkatlah ia ke Madinah, kota yang dahulu ditinggali Rosululloh صلي الله عليه وسلم. Di sana beliau duduk belajar agama menimba ilmu akhlak dan adab kepada para fuqoha Madinah. Dan di sanalah pula beliau dikenal dengan ilmu dan kecerdasannya, sehingga Alloh عزّوجلّ menakdirkan kelak ia akan menjadi seorang pemimpin yang adil dan faqih dalam urusan agamanya.

Baca pos ini lebih lanjut