Doa Agar Diberikan Keturanan yang Shalih

رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Ya Rabb-ku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah Waris yang Paling Baik.” (QS. al-Anbiyaa'[21]: 89)

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabb-ku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash-Shaaffat[37]: 100)

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء

“Ya Rabb-ku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” (QS. Ali Imran[3]: 38)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan[25]: 74)

Ucapan Selamat Bagi Orang yang Dikaruniai Anak dan Balasannya

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

“Semoga Allah memberkahimu dalam anak yang diberikan kepadamu. Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta kamu dikaruniai kebaikannya”

Sedang orang yang diberi ucapan selamat membalas dengan mengucapkan:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، وَرَزَقَكَ اللهُ مِثْلَهُ، وَأَجْزَلَ ثَوَابَكَ

“Semoga Allah juga memberkahimu dan melimpahkan kebahagiaan untukmu. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan, mengaruniakan kepadamu sepertinya dan melipat gandakan pahalamu”[1]


[1] Lihat Al-Adzkar, karya An-Nawawi, hal. 349, dan Shahih Al-Adzkar lin Nawawi, oleh Salim Al-Hilali 2/713

Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani

Doa dan Amalan Agar Mendapatkan Keturunan

Sungguh buah hati (Anak) adalah idaman setiap pasangan suami isteri, namun kadang kita [pasangan suami istri] belum di karuniai Anak walau sudah lama menikah, berikut doa dan amalan agar kiranya kita mendapatkan keturunan:
1. Memperbanyak Istighfar
Allah عزّوجلّ berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً. يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً

”Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh/71: 10-12)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah akan menjadikan jalan keluar pada setiap kesulitan, dan kelapangan untuk setiap kesempitan serta memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dan Syaikh Ahmad Syakir Berkata: Isnadnya Shahih)

Belum mendapatkan keturunan adalah kegelisahan dan kesulitan yang sukar, dan anak adalah Rezeki yang diharapkan. Maka hendaklah Istighfar menghiasi kehidupan kita sekalian.

2. Berdoa

a. Berdoa kepada Allah عزّوجلّ dengan Hati yang khusyu’, serius, tidak berputus asa, menggabungkan pengharapan dan rasa cemas serta adab doa lainnya, tak kalah pentingnya ialah menghindari segala hal yang merupakan penghalang di ijabah (dikabulkan)-nya doa seperti: Syirik, Bid’ah, Makanan dan pakaian dari harta haram, memutus silaturrahmi, maksiat dan lainnya.
b. Meneladani doa Nabi Zakaria عليه السلام yang akhirnya dikaruniai anak diusia senja dan Istri beliau sebelumnya mandul, yaitu:

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء

” Ya Rabb-ku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” (QS. Ali Imran/3: 38)

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

”Ya Rabb-ku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik.” (QS. Al-Anbiya/21: 89)

3. Konsultasi Kepada Pakar
Konsultasi ke ahli kesehatan yang membidangi masalah ini.

4. Tawakkal kepada Allah عزّوجلّ, sesungguhnya Ia mengetahui yang baik bagi kita.

Disarikan dari ”Lima tahun Menikah Belum Dikaruniai Anak” oleh Ustadz Abu Minhal dalam Majalah As-Sunnah [Baituna] No.07/ Thn. XIV / 1431 H. Bagi yang ingin membacanya secara utuh silahkan download disini

Doa Dikaruniai Istri dan Keturunan yang Menyejukkan Hati


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam/pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Doa Dikaruniai Keturunan yang Mendirikan Shalat


رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Rabbi, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.” (QS. Ibrahim: 40)”

Faedah:
Dari Firman Allah عزّوجلّ ini dapat kita lihat betapa agungnya ’Ibadah Shalat’, masihkah kita melalaikannya?!

Kriteria Istri yang Baik

Rasulullah صلي الله عليه وسلم ditanya: “Wanita yang bagaimanakah yang paling baik?” Beliau صلي الله عليه وسلم bersabda:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فيِ نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Yang menggembirakan suaminya apabila dia memandangnya, menaatinya ketika diperintah, dan tidak menyelisihi suaminya dalam hal yang tidak disukai oleh suaminya baik yang berkaitan dengan dirinya maupun harta suami.” (HR. Ahmad dan Nasai, Sanadnya hasan)

Haram Menceritakan Hubungan Seks

Diharamkan bagi suami istri untuk menceritakan rahasia hubungan seksual mereka kepada orang lain, tentang orang yang menceritakan hubungan seksualnya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ

“Perumpamaan orang tersebut seperti perbuatan setan laki laki yang bertemu dengan setan perempuan di jalan, kemudian mereka melakukan jima’ sementara orang-orang melihatnya.” (HR. Ahmad dan hadits ini Hasan)

Referensi:
Risalah Nikah oleh Ahmad bin Abdul Aziz Hamdan, terbitan Darul Haq Jakarta-Tahun 2006,

Doa Bersetubuh

Sebelum melakukan hubungan intim [bersetubuh] hendaklah membaca doa:

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan Nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami.”

Kemudian Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: “apabila di antara keduanya ditakdirkan mendapatkan anak dari hasil persetubuhan itu, maka anak tersebut tidak akan dicelakakan setan selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Referensi:

  1. Risalah Nikah oleh Ahmad bin Abdul Aziz Hamdan, terbitan Darul Haq Jakarta-Tahun 2006,
  2. Hisnul Muslim oleh Syaikh Said bin Ali al-Qahthani

Doa Pengantin kepada Istrinya

Apabila seseorang di antara kamu kawin dengan seorang perempuan hendaklah mengucapkan:

بَاَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikannya dan kebaikan perangainya. Dan aku mohon perlindungan kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan perangainya.”

HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dan lihatlah Shahih Ibnu Majah

Referensi:

  1. Risalah Nikah oleh Ahmad bin Abdul Aziz Hamdan, terbitan Darul Haq Jakarta-Tahun 2006,
  2. Hisnul Muslim oleh Syaikh Said bin Ali al-Qahthani

Doa Selamat Kepada Pengantin

Doa berikut ditujukan kepada kedua mempelai:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْكَمُاَ فِيْ خَيْرٍ

“Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan.””

HR. Ahmad dan penyusun kitab Sunan, kecuali An-Nasai, lihat Shahih At- Tirmidzi

Referensi:

  1. Risalah Nikah oleh Ahmad bin Abdul Aziz Hamdan, terbitan Darul Haq Jakarta-Tahun 2006,
  2. Hisnul Muslim oleh Syaikh Said bin Ali al-Qahthani