Doa dan Dzikir Sholat Lengkap

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينامحمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Sungguh sholat bagi seorang muslim dan muslimah adalah sangat penting, ia meninggalkan aktivitas dunianya untuk menegakkan sholat karena ia tahu itu adalah amalan pertama yang dihisab nantinya di ‘yaumul hisab’, sebab hal itu seorang muslim haruslah berusaha semaksimal mungkin mencontoh cara sholat nabi صلى الله عليه وسلم, sebagimana sabda-nya:

صَلُّوا كَمَارَأَيْتُمُونِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”.

Salah satu pekerjaan sholat adalah membaca doa dan dzikir, maka pada eBook ini kami mencoba mengumpulkan doa dan dzikir tersebut -mulai dari doa iftitah sampai dzikir setelah sholat- termasuk penjelasannya. Semoga kita dapat mengamalkannya, amin..

Download:
Download CHMatau Download ZIP

Kewajiban Memohon Perlindungan Dari 4 Hal

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الاَخِرِ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ أَرْبَعٍ، يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، ثُـمَّ يَدْعُوْ لِنَفْسِهِ بِـمَا بَدَالَهُ

“Bila seseorang selesai membaca tasyahhud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah empat perkara, yaitu: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam, dan siksa kubur, dan fitnah hidup dan mati, dan dan fitnah Dajjal.’ Selanjutnya, hendaklah ia berdo’a memohon kebaikan untuk dirinya sesuai kepentingannya.”[1]

Nabi صلى الله عليه وسلم biasa membaca do’a tersebut dalam tasyahhudnya. [2]

Nabi صلى الله عليه وسلم mengajarkan do’a tersebut kepada sahabat-sahabatnya seperti halnya beliau mengajarkan suatu surah Al-Qur’an kepada mereka.[3][]

Disalin dari Sifat Shalat Nabi صلى الله عليه وسلم Karya Syaikh al-Albani رحمه الله terbitan Media Hidayah Yogyakarta Edisi Revisi Tahun 2004 hal. 228.


[1]     HR. Muslim, Abu ‘Awanah, Nasa’i, dan Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa (27). Baca Al-lrwa’ Hadits no. 350.
[2]     HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad shahih.
[3]     HR. Muslim dan Abu ‘Awanah.

Syarah Doa Shalat Istikharah

قَالَ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ، يَقُولُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ-يُسَمِّي حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ -فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي- أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ. وَمَا نَدِمَ مَنِ اسْتَخَارَ الْخَالِقَ، وَشَاوَرَ الْمُخْلُوْقِيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَتَثَبَّتَ فِي أَمْرِهِ، فَقَدْ سُبْحَانَهُ: وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتُ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ

“Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan istikharah dalam segala hal sebagaimana beliau mengajar kami suatu surat dalam Al-Quran. Beliau bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian hendak melakukan suatu perkara, hendaknya dimulai dengan melakukan ruku’ dua rakaat yang bukan shalat fardhu. Kemudian hendaknya mengucapkan:

Baca pos ini lebih lanjut

Cara Menyelamatkan Diri Dajjal

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

“Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat dan permulaan surat Al-Kahfi, maka terpelihara dari (gangguan) Dajjal.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan عُصِمَ ‘maka dia terpelihara‘, dengan kata lain, terjaga dan aman.

An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Dikatakan bahwa sebab semua itu adalah di bagian awalnya dengan adanya berbagai hal yang menakjubkan dan ayat-ayat (tanda-tanda). Maka, barangsiapa menadabburinya, maka dia tidak akan terfitnah oleh Dajjal. Demikian juga di bagian akhirnya, firman Allah Ta’ala,

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Setelah Salam (8)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً (بَعْدَ السَّلاَمِ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ)

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (Diucapkan setelah salam khusus shalat shubuh).[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Ummu Salamah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan عِلْمًا نَافِعًا ‘ilmu yang bermanfaat‘, dengan kata lain, aku ambil manfaatnya dan untuk memberikan manfaat kepada orang lain selain diriku.

Ungkapan وَرِزْقًا طَيِّبًا ‘rezeki yang baik‘, dengan kata lain, halal.

Ungkapan وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً ‘dan amal yang diterima‘ di sisi-Mu sehingga Engkau memberiku pahala dan balasan atas semua itu sebagai pahala yang baik.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 235-236.


[1]     Ibnu Majah, no. 925; dan selainnya.  Lihat Shahih Ibnu Majah, (1/152) dan Majma’ Az-Zawaid (10/111) dan akan datang, no. 95.

 

Syarah Dzikir Setelah Salam (7)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ (عَشْرَ مَرَّاتٍ بَعْدَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ وَالصُّبْحِ)

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca sepuluh kali setelah shalat maghrib dan shubuh).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Dzarr Al-Ghifari, Jundab bin Junadah, dan lain-lain Radhiyallahu Anhum.

Juga disebutkan dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ قَالَ فِي دُبُرِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ … عَشْرَ مَرَّاتٍ كُتِبَتْ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَكَانَ يَوْمَهُ ذَلِكَ كُلَّهُ فِي حِرْزٍ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ وَحُرِسَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَلَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبٍ أَنْ يُدْرِكَهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ إِلَّا الشِّرْكَ بِاللَّهِ

“Barangsiapa mengucapkan setiap usai shalat shubuh (ketika beliau masih melipat kedua kakinya dan sebelum berbicara yang lain-lain …) sebanyak sepuluh kali, maka dicatatkan baginya sepuluh kebaikan, dihapuskan sepuluh kesalahan, ditinggikan sepuluh derajat, pada harinya itu dia berada dalam penjagaan dari segala macam hal yang tidak disukai, dipelihara dari syetan dan tidak selayaknya pada hari itu dosa yang dia lakukan yang menyim-pangkannya selain menyekutukan Allah Ta’ala.”

Ungkapan حِرْزٍ artinya tempat untuk menyimpan dan menjaga sesuatu di dalamnya. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah bahwa orang dimaksud dalam pemeliharaan dan penjagaan.

Ungkapan, بَعْدَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ ‘setelah shalat maghrib‘ disebutkan dalam jalur-jalur periwayatan hadits yang lain.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 234-235.


[1]     At-Tirmidzi, (5/515), no. 3474; dan Ahmad, (4/227). Lihat takhijnya dalam kitab Zaad Al-Ma’ad (1/300).

Syarah Dzikir Setelah Salam (6)

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ. عَقِبَ كُلِّ صَلاَةٍ

“Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya a pa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255). Dibaca setiap usai shalat.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Umamah Al-Bahili, Shudayyu bin Ijlan Radhiyallahu Anhu.

Haditsnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ، لَـمْ يَمْنَعْهُ مَنْ دُخُوْلِ الْـجَنَّةِ إِلَّا الْـمَوْتُ

“Barangsiapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat fardhu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.”

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.111 pengikut lainnya.