Istigfar Nabi Nuh عليه السلام

Allah عزّوجلّ menyebutkan pula tentang Nuh عليه السلام ketika memohon pada Rabbnya dan menyeru kepada-Nya:

إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

“Sungguh anakku ini termasuk keluargaku, dan sungguh janji-Mu adalah haq, dan Engkau hakim paling bijak.” (QS. Hud/11: 45)

Ketika itu Nuh عليه السلام dihinggapi belas kasih terhadap anaknya, sementara Allah عزّوجلّ telah menjanjikan baginya keselamatan keluarganya, maka beliau عليه السلام mengira janji itu berlaku umum bagi yang beriman dan yang tidak beriman, dan karena itu beliau berdoa seperti ini. Maka Allah عزّوجلّ berfirman kepadanya:

يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Nuh, sungguh ia bukan termasuk keluargamu, sungguh ia berada di atas amal tidak shalih, maka janganlah minta pada-Ku apa yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, sungguh Aku menasihatimu agar engkau tidak menjadi orang-orang yang bodoh (QS. Hud/11: 46)

Akhirnya beliau عليه السلام menyesal atas apa yang telah terjadi lalu memohon kepada Rabbnya maaf dan pengampunan:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, sungguh aku berlindung dengan-Mu untuk mohon kepada-Mu apa yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya, dan jika Engkau tidak mengampuniku dan tidak merahmatiku niscaya aku termasuk mereka yang merugi.'” (QS. Hud/11: 47)

Inilah istighfar dan taubat dari beliau عليه السلام.[]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 412-413.

Istigfar Nabi Adam عليه السلام

Allah عزّوجلّ telah  menyebutkan  dalam  kitab-Nya Al-Qur’an yang mulia. tentang para nabi dan rasul-Nya عليهم السلام, berupa kesempurnaan peribadatan   mereka, kesempurnaan penghinaan diri mereka, ketundukan mereka, dan kepasrahan mereka kepada Rabb semesta alam. Mereka dalam kebaikan sebagai penuntun dan bagi orang-orang mendapat   perunjuk   di   antara   hamba-hambaNya sebagai teladan dan panutan. Di samping kesempurnaan ini, mereka terus-menerus dalam taubat   dan   istighfar.   kembali   kepada   Maha   Perkasa   lagi   Maha Pengampun, Ajiah عزّوجلّ telah menyebutkan di sejumlah tempat dalam Al-Qur’an tentang para nabi. permohonan ampunan mereka, serta taubat mereka kepada Allah عزّوجلّ. Di antara hal itu adalah apa yang disebutksn Allah عزّوجلّ berkenaan dengan nabi Adam عليه السلام. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ. فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ. فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam, tinggallah Engkau dan istrimu di surga, dan makanlah oleh kamu berdua darinya sepuasnya, dimana saja kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga kamu berdua menjadi orang-orang zhalim.    Maka    setan    menggelincirkan    keduanya    darinya, ia mengeluarkan  mereka  berdua  dari apa yang keduanya  berada padanya, dan Kami berfirman.  ‘Turunlah kalian, sebagian kalian menjadi musuh atas sebagian yang lain, dan untuk kamu di bumi tempat tinggal serta kesenangan hingga waktu tertentu.’ Adam pun menerima dari Rabbnya beberapa kalimat dan Dia pun menerima taubatnya.   Sungguh   Dia   Maha   Penerima   taubat   lagi  Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah/2: 35-37)

Dan firman-Nya dalam ayat lain:

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ. فَدَلاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ. قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Dan wahai Adam, tinggatlah engkau dan istrimu di surga, dan makanlah kamu berdua dari mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak termasuk orang-orang zhalim. Setan memberi waswas kepada keduanya untuk menampakkan bagi keduanya apa yang ditutupi dari kemaluan keduanya, dan setan berkata, ‘Tidaklah kamu berdua dilarang oleh Rabb kamu dari pohon ini, melainkan agar kamu berdua (tidak) menjadi dua malaikat atau kamu berdua menjadi mereka yang kekal. Dia bersumpah pada keduanya, ‘Sungguh aku bagi kamu berdua termasuk para pemberi nasihat’ Dia merayu keduanya dengan tipu daya. Keduanya mencicipi pohon itu, tampaklah kemaluan keduanya, dan mulailah keduanya menutupi atas keduanya dengan daun-daun surga, dan keduanya diseru oleh Rabb mereka berdua, ‘Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu, dan Aku katakan kepada kamu berdua; sungguh setan bagi kamu berdua adalah musuh yang nyata.’ Keduanya berkata. ‘Wahai Rabb kami, kami telah menzhaiimi diri-diri kami, dan jika Engkau tidak mengasihi kami. niscaya kami benar-benar termasuk mereka yang merugi.’” (QS. Al-A’raf/7: 20-23).

Dan firman-Nya:

وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى. ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى.

“Dan Adam durhaka kepada Rabbnya maka dia menyimpang. Kemudian Rabbnya memilihnya dan menerima taubatnya serta memberinya petunjuk.” (QS. Thaha/20: 121-122)

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 410-412.

Bacaan Al-Qur’an Sebelum Tidur (2)

5. Membaca Surat Al-Kafiruun

اقْرَأْ عِنْدَ مَنَامِكَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ

“Bacalah ketika akan tidur, ‘qul yaa ayyuhal kaafiruun,’ kemudian tidurlah setelah selesai menamatkannya, sesungguhnya ia pelepasan diri dari syirik.” (HR. Ahmad, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 604)

Lihat Membaca Surat Al-Kafirun Sebelum Tidur

6. Membaca Surat Az-Zumar dan Bani Isra’il (Al-Israa’)

عَنْ أَبِي لُبَابَةَ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الزُّمَرَ وَبَنِي إِسْرَائِيلَ

Dari Abu Lubabah, ia berkata: Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tidur hingga beliau membaca (surat) Az-Zumar dan Bani Isra’il.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Khuzimah dan lainnya, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, lihat pula Ash-Shahihah no. 641)

7. Membaca Surat-surat Al-Musabihaat

عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الْمُسَبِّحَاتِ وَيَقُولُ فِيهَا آيَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ آيَةٍ

Dari Al Irbadh bin Sariyyah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tidur hingga beliau membaca (surat-surat) Al-Musabihaat dan beliau bersabda tentangnya, “Sesungguhnya pada surat-surat itu terdapat satu ayat yang lebih baik dari seribu ayat.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Surat Al-Musabihaat adalah surat yang dimulai dengan tasbih, yakni Surat Al-Israa’, Al-Hadiid, al-Hasyr, Ash-Shaaff, Al-Jumu’ah, At-Taghaabuun, Al-A’laa (Tuhfatul Ahwaziy, 7/339)

Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan bahwa ayat yang lebih baik dari seribu ayat tersebut adalah:

هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلأَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Allah, Al-Awwal (Yang Pertama) dan Al-Akhir (Yang Akhir), Azh-Zhahir (Yang paling atas/zhahir) dan Al-Bathin (Yang paling bathin). Dan Dia ‘Aliim (Maha mengetahui) terhadap segala sesuatu. (QS. Al-Hadid/57: 3).[]

Bacaan Al-Qur’an Sebelum Tidur (1)

1. Membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا  أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ  لَيْلَةٍ يَجْمَعُ كَفَّيْهِ ثُـمَّ يَنْفُثُ فِيْهِمَا فَـيَقْرَأُ فِيْهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ و قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ و قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَـمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada ditempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniupkan, lalu membaca kepada keduanya ‘Qul huwallahu ahad’, ‘Qu a’udzu birabbil falq’ dan ‘Qul a’udzu birabbinnas’,  lalu dengan kedua telapak tangan beliau mengusap semua anggota tubuhnya yang bisa dijangkau. Beliau memulai mengusap dengan menggunakan kedua telapak tangannya dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan demikian tiga kali.”

Lihat Syarah Dzikir Sebelum Tidur (1)

2.  Membaca ayat Kursi (QS. Al-Baqarah/2 :255), lihat Syarah Dzikir Sebelum Tidur (2)

3. Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihat Syarah Dzikir Sebelum Tidur (3)

4. Membaca Surat As-Sajdah dan Al-Mulk

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ آلـم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ وَتَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْـمُلْكُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak tidur, beliau membaca: Aliflaam miim tanziil as-Sajdah (QS. As-Sajdah: 1-30) dan Tabaarakalladzii biyadihil mulku. (QS. Al-Mulk: 1-30).” (HR. Al-Bukhari dalam Shahiih al-Adabil Mufrad no. 1207 dan 1209, Ahmad III/340, ad-Darimi 11/455 dan lainnya, shahih. Lihat ash-Shahiihah no. 585

Lihat Syarah Dzikir Sebelum Tidur (12)

Bersambung Insya Allah…..

Keutamaan Waktu Pagi dan Keberkahannya

Imam Muslim  meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah Al-Asadiy, dia berkata, “Suatu hari, kami pergi di waktu pagi menuju Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tepatnya setelah selesai mengerjakan shalat Shubuh. Kami memberi salam di pintu dan beliau  memberi izin kepada kami.” Beliau (Abu Wa’il) berkata, “Kami berdiam sesaat di pintu” (yakni menunggu beberapa waktu lamanya). Lalu seorang perempuan keluar dan berkata,  “Tidakkah kamu mau masuk?” Lalu kami pun masuk. Ternyata beliau (Ibnu Mas’ud) sedang duduk bertasbih. Beliau berkata, “Apa yang menghalangi kalian untuk masuk sementara telah diizinkan kepada kamu?” Kami berkata, “Tidak ada, hanya saja kami mengira sebagian penghuni rumah masih tidur.” Beliau berkata,  “Kamu menduga keluarga Ibnu Ummi Abdin lalai?” (Maksudnya, dirinya sendiri, karena ibu Ibnu Mas’ud adalah Ummu Abdin Al-Hudzaliyah radhiyallahu ‘anha). Abu Wa’il berkata, “Lalu beliau meneruskan bertasbih. Hingga ketika dia menduga matahari telah terbit maka beliau berkata,  ‘Wahai perempuan,  lihatlah  apakah matahari telah terbit?’ Perempuan itu melihat dan temyata matahari belum terbit. Maka beliau kembali melanjutkan bertasbih. Hingga ketika dia mengira matahari telah terbit maka beliau berkata, ‘Wahai perempuan, lihatlah apakah matahari telah terbit?’ Perempuan itu melihat dan temyata matahari telah terbit. Maka beliau berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memaafkan kita hari ini dan tidak membinasakan kita dengan sebab dosa-dosa kita.'”[1]

Atsar ini memberikan kepada orang yang mencermati akan gambaran jelas dan petunjuk yang terang akan kehidupan yang penuh kesungguhan, semangat yang tinggi, dan pemamfaatan waktu di kalangan salafusshalih. Terutama sekali para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Disertai pemahaman mereka tentang waktu-waktu, pengetahuan mengenai kadar-kadarnya, serta yang lebih utama darinya, dan memberikan setiap pemilik hak akan haknya.

Waktu di mana Abu Wa’il dan para sahabatnya menemui Ibnu Mas’ud adalah waktu yang mengandung berkah dan sangatlah berharga. la adalah waktu dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kesungguhan, kegiatan, dan semangat dalam kebaikan. Hanya saja banyak di antara manusia mengabaikannya dan melalaikannya serta tidak mengetahui baginya martabat dan kedudukannya. Terkadang mereka menyia-nyiakannya dengan tidur, atau bermalas-malasan dan kurang semangat, atau menyibukkan dengan urusan-urusan yang rendah. Padahal awal hari menempati posisi masa mudanya, dan akhirnya menempati posisi masa tuanya.[2] Barang siapa pada masa muda terbiasa dengan sesuatu niscaya dia akan terbiasa dengannya hingga beruban. Oleh karena itu, apa yang berlaku atas seseorang di pagi hari dan awalnya, niscaya akan berlangsung terus atasnya di sisa harinya. Jika giat maka akan terus giat, bila malas niscaya akan terus malas. Barang siapa memegang kendali hari (yaitu awalnya), maka akan selamat baginya harinya seluruhnya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan diberi pertolongan untuk mendapatkan kebaikan, serta diberkahi untuknya padanya. Dalam pribahasa dikatakan, “Harimu seperti untamu. Jika engkau memegang awalnya, niscaya akhirnya akan mengikutimu.” Makna ini diambil dari atsar Ibnu Mas’ud terdahulu, di mana ketika telah terealisasi bagi beliau radhiyallahu ‘anhu pemanfaatan awal hari itu dengan dzikir maka beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang memaafkan kita hari ini dan tidak membinasakan kita dengan sebab dosa-dosa kita.”

Baca pos ini lebih lanjut

Membaca Surat Al-Kafirun Sebelum Tidur

Di antara perkara yang disunnahkan bagi setiap Muslim untuk dilakukan secara kontinyu ketika kembali ke pembaringannya, adalah membaca surah Al-Kafirun, dan menjadikannya sebagai bacaan yang terakhir dia baca, karena ia adalah pelepasan diri dan syirik.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Farwah bin Naufal Al-Al-Asyja’i, dari bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan kepadaku putri Ummu Salamah, dan beliau bersabda, Tidak lain engkau adalah seorang ibu yang menyusuiku.'” Beliau berkata, ”Aku tinggal sesuai apa yang dikehendaki Allah, lalu aku datang kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya. Apakah yang dilakukan perempuan itu atau perempuan kecil itu?’ Aku berkata, ‘Dia bersama ibunya.’ Beliau bertanya, ‘Ada tujuan apa engkau datang?’ Aku berkata, “Agar engkau mengajariku apa yang aku ucapkan ketika aku hendak tidur.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اقْرَأْ عِنْدَ مَنَامِكَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ

‘Bacalah ketika akan tidur, ‘qul yaa ayyuhal kaafiruun,’ kemudian tidurlah setelah selesai menamatkannya, sesungguhnya ia pelepasan diri dari syirik.[1]

Hadits di atas menunjukkan keutamaan surah ini, keutamaan membacanya ketika hendak tidur, dan anjuran agar seorang Muslim tidur sesudah menamatkannya. Hal itu agar aktivitas terakhir yang diakukan sebelum tidur adalah pernyataan tauhid dan berlepas dari syirik. Tidak   diragukan lagi, barang siapa membaca surah ini, memahami kandungannya, dan mengamalkan konsekuensinya, berarti dia telah terlepas terlepas dari syirik lahir dan batin. Sebagian ulama salaf memberinya  nama ‘Al-Muqasyqisyah.’ Dikatakan, ‘qasyqasya  fulan,’ yakni si fulan bebas dari sakit. Maka ayat itu membebaskan pemiliknya dari kesyirikan.

Surah ini dan surah “qul huwallahu ahad’ disebut sebagai Dua Surah Al-Ikhlas. Hal itu karena pada keduanya terdapat pemurnian tauhid dengan kedua jenisnya; ilmiah dan amaliah untuk Allah Tabaraka wata’ala.

Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kontinyu membaca kedua surah ini pada dua rakaat sebelum shubuh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka dengan keduanya amalan hari itu. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca keduanya pada sunnah ba’diyah maghrib sehingga ditutup dengan keduanya amalan siang. Begitu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya pada shalat witir sehingga menjadi penutup amalan malam hari. Pada bahasan terdahulu telah berlalu bersama kita bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca, ‘qul huwallahu ahad’ apabila kembali ke tempat tidumya. Sementara pada hadits Naufal ini terdapat anjuran membaca ‘qul yaa ayyuhal kaaf’iruun’ ketika hendak tidur. Dengan demikian kedua surah ini juga menjadi penutup aktivitas saat seorang Muslim akan tidur.[]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 63-64.


[1]     Al-Musnad, 5/456, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, No. 604.

Dzikir-dzikir Dua Tepi Siang

Sesungguhnya di antara dzikir-dzikir dan doa-doa yang ditugaskan oleh syara yang bijaksana atas setiap Muslim sehari semalam, adalah dzikir-dzikir dua tepi siang, bahkan ia adalah dzikir yang paling luas dari jenis dzikir-dzikir muqayyad (dzikir yang terikat dengan sesuatu), dan paling banyak disebutkan dalam nash-nash, tentang anjuran terhadapnya dan motivasi kepadanya. Ia terdiri dari beragam dzikir yang diucapkan pada dua waktu utama ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا

“Wahai sekalian manusia, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak. Bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab/33: 41-42)

Kata ‘Al-Ashiil’ (petang) pada ayat itu adalah waktu antara Ashar hingga matahari terbenam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Dan Bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu pada petang dan pagi hari”. (QS. Ghafir/40: 55)

‘Al-Ibkaar’ yaitu permulaan siang hari, sedangkan al-‘Asyiy yaitu penghujungnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ

“Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam.” (QS. Qaaf/50: 39)

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

“Mahasuci Allah ketika kamu berada di sore hari dan ketika kamu di pagi hari.” (QS. Ar-Rum: 17)

Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini cukup banyak.

Waktu mengucapkan dzikir-dzikir ini adalah awal waktu pagi, sejak selesai shalat Shubuh hingga sebelum matahari terbit, sedangkan sore hari adalah sesudah shalat Ashar hingga sebelum matahari terbenam. Meski demikian, persoalan waktu ini mengandung kelonggaran—Insya Allah—, seperti kalau seseorang lupa mengerjakan pada waktunya, atau ada sesuatu yang harus dihadapinya, maka tidak mengapa melakukan dzikir-dzikir pagi hari sesudah matahari terbit, dan dzikir-dzikir sore sesudah matahari terbenam.

Adapun tentang dzikir-dzikir dan doa-doa yang diucapkan pada kedua waktu yang utama ini, maka ia sangatlah banyak dan beragam, akan datang -Insya Allah- sejumlah pilihan darinya, disertai penjelasan sedikit tentang makna-maknanya yang agung, dan indikasi-indikasinya yang berharga.[1][]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, Karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 10-11.


[1]  Kemudian Syaikh –semoga Allah menjaganya- menyebutkan dzikir-dzikir pagi dan petang disertai penjelasannya. Alhamdulillah di blog ini dan www.ibnumajjah.wordpress.com telah kita sajikan hal tersebut dari karya ulama dan ustadz lainnya. Ibnu Majjah

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.155 pengikut lainnya