Syarah Doa Apabila Merasa Takut dan Kesepian Ketika Tidur

Ungkapan بِالْوَحْشَةِ dikatakan bahwa artinya ‘kesedihan’. Dikatakan pula artinya ‘kesepian’ dan ‘rasa takut’.

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan, siksaan dan kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari godaan syetan (bisikan) serta jangan sampai mereka hadir (kepadaku).”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Ketika Ingin Membalikkan Badan di Malam Hari

Dengan kata lain, jika seseorang berbalik dari satu sisi ke sisi lain di atas kasurnya.

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, Yang Maha Perkasa, Tuhan langit dan bumi dan di antara keduanya. Yang Mahamulia lagi Maha Pengampun”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan الْقَهَّارُ ‘berkuasa’, Dia adalah Dzat Yang memaksa dan menang atas segala makhluk sehingga semua akan tunduk kepada-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki.

Ungkapan الْعَزِيْزُ ‘Yang Maha Perkasa’, yaitu Dzat Yang memiliki keperkasaan yang sempurna. Yang dengannya Dia memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki.

Ungkapan الْغَفَّارُ ‘Yang Maha Pengampun’, yaitu Dzat Yang memiliki ampunan dan penghapusan dosa yang sempurna. Yang mampu meliputi semua dosa para hamba-Nya Yang bertaubat.

Dzikir ini juga mencakup permohonan kepada Allah sudi kiranya memalingkan darinya apa-apa yang dia temukan berupa susah tidur, gelisah, dan mudah terkejut.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 311-312


[1]     Ditakhrij Al-Hakim dan dishahihkannya dan disepakati Adz-Dzahabi, (1/540); An-Nasai dalam kitab ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 864; Ibnu As-Sunni dalam kitab ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah (757). Lihat Shahih Al-Jami’, (4/213), no. 4693.

Syarah Dzikir Sebelum Tidur (13)

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

‘Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku merebahkan punggungku kepada-Mu. Karena senang (mendapat pahala-Mu) dan takut pada (siksa-Mu). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dart (siksa)-Mu, kecuali kepada-Mu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan dan nabi-Mu yang Engkau utus.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu Anhu.

Di bagian awal hadits ini Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ…

“Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk menunaikan shalat, lalu berbaringlah di atas sisi kananmu dan bacalah…. “

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Sebelum Tidur (12)

يَقْرَأُ (الـم) تَنْزِيْلُ السَّجْدَةِ، وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الـمُلْكُ

“Membaca Alif, lam, mim, tanzil surat As-Sajdah dan وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الـمُلْكُ (surat Al-Mulk).”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan يَقْرَأُ (الـم) تَنْزِيْلُ السَّجْدَةِ ‘membaca Alif, lam, mim, tanzil surat As-Sajdah’, dengan kata lain, surat As-Sajdah.

Ungkapan وَتَبَارَكَ yakni surat Al-Mulk.

Artinya, bukan tradisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidur sebelum membaca dua surat ini.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 305-306


[1]     At-Tirmidzi, no. 3404; An-Nasa’i, dalam kitab ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 707. dan lihat Shahih Al-Jami’ (4/255), no. 4873.

Syarah Dzikir Sebelum Tidur (11)

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

“Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Wahai Tuhan Pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syetan, dan bala tentaranya, atau aku menjalankan kejelekan terhadap diriku atau mendorong orang Islam padanya.”[1]

Shahabat   yang   meriwayatkan   hadits   ini   adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan فَاطِرَ ‘Pencipta’.

Ungkapan وَشِرْكِهِ ‘kesyirikannya’, dengan kata lain, apa-apa yang dia menyeru kepadanya berupa tindakan menyekutukan Allah. Dikatakan, “Kata itu dengan dua buah fathah, yakni شَرَكَهُ yang artinya jebakan dan alat berburunya.

Ungkapan وَأَنْ أَقْتَرِفَ ‘menjalankan’, dengan kata lain, memperbuat dan mengerjakan.

Ungkapan أَوْ أَجُرُّهُ ‘atau aku mendorongnya’, dari kata الْـجَرُّ yang artinya menarik. Kata ganti (dhamir) kembali kepada ‘keburukan’.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 304-305


[1]     Abu Dawud, (4/317), no. 5083. Dan lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/142).

Syarah Dzikir Sebelum Tidur (10)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi kami makan dan memberi kami minum, mencukupi kami, memberi kami tempat berteduh. Betapa banyak orang yang tidak memiliki apa yang mencukupinya dan tidak pula mendapatkan tempat berteduh”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَكَفَانَا ‘mencukupi kami’, dengan kata lain, menjadikan kami kaya dan puas.

Ungkapan آوَانَا ‘memberi kami tempat berteduh’, dengan kata lain, mengembalikan kami ke tempat tinggal kami dan tidak menjadikan kami terpencar seperti binatang. مَأْوَى artinya rumah tempat tinggal. An-Nawawi Rahimahullah berkata, آوَانَا ‘memberi kami tempat berteduh’, dikatakan bahwa artinya ‘mengasihi kami’.”

Ungkapan فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ ‘betapa banyak orang yang tidak memiliki apa yang mencukupinya’, dengan kata lain, dia selalu dengan kondisi tidak mendapatkan kecukupan.

Ungkapan وَلاَ مُؤْوِيَ ‘dan tidak pula mendapatkan tempat berteduh’, dengan kata lain, tiada penyayang dan yang bersikap lembut bagi dirinya. Dikatakan bahwa artinya tiada negeri baginya dan tiada tempat tinggal di mana dia bisa berlindung di dalamnya.

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 303-304


[1]     Muslim, (4/2085), no. 2715.

Syarah Dzikir Sebelum Tidur (9)

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

“Ya Alla, Tuhan Yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan Yang menguasai Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Tuhan Yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan Yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Furqan (Al-Quran). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau Yang Pertama, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah Yang Terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau Yang Lahir, di atas-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah Yang Batin, di bawah-Mu tidak ada sesuatu. Lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan hingga kami terlepas dari kefakiran.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan فَالِقَ الْحَبِّ ‘Pembelah biji’ adalah sifat dari ungkapan رَبَّ ‘Rabb’ dan juga ungkapan مُنَزِّلُ ‘Penurun’. الْفَالِقُ dari kata الْفَلَقُ yang berarti ‘belah’. Sedangkan makna ungkapan فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى ‘Pembelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah’ adalah Dzat Yang membelah biji tanaman bahan makanan dan biji kurma untuk menumbuhkannya.

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.116 pengikut lainnya.