Meminta Ampun dan Taubat

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْرَّحِيْمُ

Ya Rabbi! Ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang

إِنْ كُنَّا لَـنُعَدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةُ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْرَّحِيْمُ

Sungguh, kami menghitung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majlis mengucapkan (doa) berikut sebanyak 100 kali: Ya Rabbi! Ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu)

Dalam at-Tirmidzi ada tambahan: … dalam suatu majlis sebelum Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit. Dan dalam al-Adabul Mufrad juga dalam riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan itu setelah shalat Dhuha. Lafazh Ahmad dan at-Tirmidzi dengan lafazh أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ; sedangkan dalam riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Sunni: أَنْتَ التَّوَّابُ الْرَّحِيْمُ.

Mutiara Hadits

  • Betapa besar sifat tawadhu’ dan tunduk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rabbnya. Padahai Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapat ampunan dari Allah Azza wa Jalla. Para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak istighfar sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada Allah Azza wa Jalla; dan bentuk pengakuan betapa lemahnya makhluk dalam menunaikan hak Allah Azza wa Jalla. Jika para Nabi seperti itu, lalu bagaimana dengan selain Nabi yang tidak mempunyai jaminan ampunan?
  • Para Sahabat punya antusias untuk mengetahui bagaimana perilaku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meneladaninya. Maka sangat perlu sekali bagi umat ini untuk memperhatikannya agar bisa meneladani Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Keutamaan istighfar dan mengulang-ulangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Baca pos ini lebih lanjut

Istigfar Nabi Yunus عليه السلام

Allah عزّوجلّ menyebutkan pula tentang Yunus عليه السلام:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ.

“Dan Dzunnun (sahabat Ikan) ketika pergi dalam keadaan marah, dan dia mengira kami tidak menetapkan atasnya, maka dia menyeru dalam kegelapan, bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang zhalim. Maka Kami mengabulkan untuknya dan menyelamatkannya dari kegundahan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiyaa/21′: 87-88)

Ayat-ayat di atas mencakup taubat para nabi عليهم السلام,  istighfar mereka, keagungan taubat mereka kepada Allah عزّوجلّ. Allah عزّوجلّ telah menyebutkannya di kitab-Nya dalam rangka sanjungan atas mereka, penjelasan keutamaan mereka, dan kesempurnaan mereka, agar manusia mengikuti mereka dan meneladani mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata. “Dan Allah عزّوجلّ mengisahkan kepada kita kisah-kisah taubat para  nabi,  agar kita meneladani mereka dalam pertaubatan.” (Majmu’ al-Fatawa, 15/180)

Betapa indah bagi seorang Muslim mencermati kisah-kisah mulia ini dan keadaan agung yang berada di atasnya manusia-manusia pilihan para nabi Allah عزّوجلّ dan rasul-rasulNya. Lalu menjadikan mereka sebag-tauladan dalam menetapi taubat kepada Allah عزّوجلّ, kembali kepadaNya, dan  memperbanyak istighfar, Sungguh yang demikian  itu terdapat ketinggian derajat, kesinambungan kebaikan, dan banyaknya pemberian. Sungguh Allah عزّوجلّ menyukai orang-orang bertaubat dan menyukai orang-orang membersihkan diri.[]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 416.

Istigfar Nabi Daud dan Sulaiman عليهما السلام

Kemudian Allah عزّوجلّ menuebutkan istighfar Sulaiman عليه السلام. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ. قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

“Sungguh Kami telah menguji Sulaiman, dan Kami jadikan (dia) di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit) lalu dia bertaubat. Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, beriiah ampunan untukku, dan berikan padaku kerajaan yang tidak patut bagi seseorang sesudahku, sungguh Engkau Maha Pemberi.'” (QS. Shaad/38: 34-35)

Lalu Allah عزّوجلّ menyebutkan istighfar Daud عليه السلام:

وَهَلْ أَتَاكَ نَبَأُ الْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَ. إِذْ دَخَلُوا عَلَى دَاوُدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوا لا تَخَفْ خَصْمَانِ بَغَى بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَى سَوَاءِ الصِّرَاطِ. إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ. قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَى نِعَاجِهِ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ وَظَنَّ دَاوُدُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ. فَغَفَرْنَا لَهُ ذَلِكَ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ.

“Dan apakah telah datang kepadamu berita orang bersengketa ketika mereka menaiki mihrab, Ketika mereka masuk kepada Daud dan dia terkejut oleh mereka. Mereka berkata, ‘Janganlah takut dua orang bersengketa, salah seorang kami telah berbuat lalim kepada yang lainnya, maka putuskanlah di antara kami dengan kebenaran, dan jangan berlaku curang, serta tunjukilah kami kepada selurus-lurus jalan. Sungguh saudaraku ini memiliki sembilan puluh sembilan kambing, dan aku memiliki seekor kambing, lalu dia berkata, serahkanlah kambing itu kepadaku,’ dan dia mengalahkanku dalam perdebatan. Dia berkata, ‘Sungguh dia telah menzhalimimu ketika dia meminta kambingmu untuk digabungkan dengan kambingnya. Sungguh banyak di antara orang-orang yang berserikat, sebagiannya menzhalimi sebagian yang lain, kecuali orang-orang beriman dan beramal shalih. namun mereka itu sedikit sekali.’ Lalu Daud menyadari bahwa Kami telah mengujinya maka dia memohon ampunan kepada Rabbnya lah tersungkur ruku’ dan bertaubat. Maka Kami pun mengampuni untuknya hal itu. Dan sungguh baginya di sisi Kami kedekatan dan kebaikan tempat kembali.” (QS. Shaad/38: 21-25)[]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 414-416.

Istigfar Nabi Musa عليه السلام

Begitu pula Allah عزّوجلّ menyebutkan istighfar nabi-Nya Musa عليه السلام. Diatara hal itu adalah firman Allah عزّوجلّ tentang Musa عليه السلام:

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, sungguh aku menzhalimi diriku, berilah ampunan untukku,’ maka Dia memberi ampunan kepada-nya. Sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Qashshash/28: 16)

Dan Musa عليه السلام berkata pula:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

‘Wahai Rabbku. berilah ampunan untukku dan untuk saudaraku, dan masukkanlah kami dalam rahmat-Mu, dan Engkau Maha Penyayang di antara yang penyayang,” (QS. Al-A’raf/7: 151)

Dan Musa عليه السلام berkata:

سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Mahasuci Engkau, aku bertauhat kepada-Mu, dan aku termasuk orang-orang beriman yang pertama.” (QS. Al-A’raf/7: 143)

Baca pos ini lebih lanjut

Istigfar Nabi Ibrahim عليه السلام

Allah عزّوجلّ menyebutkan juga istighfar Ibrahim Al-Khalil عليه السلام. Allah عزّوجلّ menyebutkan bahwa beliau berkata:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Wahai Rabb kami, berilah ampunan untukku, dan untuk kedua orangtuaku, dan untuk orang-orang beriman, pada hari ditegakkan hisab.” (QS. Ibrahim/14: 41)

Dan firman-Nya:

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

“Dan yang aku sangat harapkan adalah diberi ampunan untukku dari kesalahan-kesalahanku pada hari pembalasan.” (QS. Asy-Syu’araa’/26: 82),

Dan firman-Nya:

وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan perlihatkan kepada kami manasik-manasik kami, dan terimalah taubat kami, sungguh, Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah/2: 128)[]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 413.

Istigfar Nabi Nuh عليه السلام

Allah عزّوجلّ menyebutkan pula tentang Nuh عليه السلام ketika memohon pada Rabbnya dan menyeru kepada-Nya:

إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

“Sungguh anakku ini termasuk keluargaku, dan sungguh janji-Mu adalah haq, dan Engkau hakim paling bijak.” (QS. Hud/11: 45)

Ketika itu Nuh عليه السلام dihinggapi belas kasih terhadap anaknya, sementara Allah عزّوجلّ telah menjanjikan baginya keselamatan keluarganya, maka beliau عليه السلام mengira janji itu berlaku umum bagi yang beriman dan yang tidak beriman, dan karena itu beliau berdoa seperti ini. Maka Allah عزّوجلّ berfirman kepadanya:

يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Nuh, sungguh ia bukan termasuk keluargamu, sungguh ia berada di atas amal tidak shalih, maka janganlah minta pada-Ku apa yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, sungguh Aku menasihatimu agar engkau tidak menjadi orang-orang yang bodoh (QS. Hud/11: 46)

Akhirnya beliau عليه السلام menyesal atas apa yang telah terjadi lalu memohon kepada Rabbnya maaf dan pengampunan:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, sungguh aku berlindung dengan-Mu untuk mohon kepada-Mu apa yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya, dan jika Engkau tidak mengampuniku dan tidak merahmatiku niscaya aku termasuk mereka yang merugi.'” (QS. Hud/11: 47)

Inilah istighfar dan taubat dari beliau عليه السلام.[]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 412-413.

Istigfar Nabi Adam عليه السلام

Allah عزّوجلّ telah  menyebutkan  dalam  kitab-Nya Al-Qur’an yang mulia. tentang para nabi dan rasul-Nya عليهم السلام, berupa kesempurnaan peribadatan   mereka, kesempurnaan penghinaan diri mereka, ketundukan mereka, dan kepasrahan mereka kepada Rabb semesta alam. Mereka dalam kebaikan sebagai penuntun dan bagi orang-orang mendapat   perunjuk   di   antara   hamba-hambaNya sebagai teladan dan panutan. Di samping kesempurnaan ini, mereka terus-menerus dalam taubat   dan   istighfar.   kembali   kepada   Maha   Perkasa   lagi   Maha Pengampun, Ajiah عزّوجلّ telah menyebutkan di sejumlah tempat dalam Al-Qur’an tentang para nabi. permohonan ampunan mereka, serta taubat mereka kepada Allah عزّوجلّ. Di antara hal itu adalah apa yang disebutksn Allah عزّوجلّ berkenaan dengan nabi Adam عليه السلام. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ. فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ. فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam, tinggallah Engkau dan istrimu di surga, dan makanlah oleh kamu berdua darinya sepuasnya, dimana saja kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga kamu berdua menjadi orang-orang zhalim.    Maka    setan    menggelincirkan    keduanya    darinya, ia mengeluarkan  mereka  berdua  dari apa yang keduanya  berada padanya, dan Kami berfirman.  ‘Turunlah kalian, sebagian kalian menjadi musuh atas sebagian yang lain, dan untuk kamu di bumi tempat tinggal serta kesenangan hingga waktu tertentu.’ Adam pun menerima dari Rabbnya beberapa kalimat dan Dia pun menerima taubatnya.   Sungguh   Dia   Maha   Penerima   taubat   lagi  Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah/2: 35-37)

Dan firman-Nya dalam ayat lain:

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ. فَدَلاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ. قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Dan wahai Adam, tinggatlah engkau dan istrimu di surga, dan makanlah kamu berdua dari mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak termasuk orang-orang zhalim. Setan memberi waswas kepada keduanya untuk menampakkan bagi keduanya apa yang ditutupi dari kemaluan keduanya, dan setan berkata, ‘Tidaklah kamu berdua dilarang oleh Rabb kamu dari pohon ini, melainkan agar kamu berdua (tidak) menjadi dua malaikat atau kamu berdua menjadi mereka yang kekal. Dia bersumpah pada keduanya, ‘Sungguh aku bagi kamu berdua termasuk para pemberi nasihat’ Dia merayu keduanya dengan tipu daya. Keduanya mencicipi pohon itu, tampaklah kemaluan keduanya, dan mulailah keduanya menutupi atas keduanya dengan daun-daun surga, dan keduanya diseru oleh Rabb mereka berdua, ‘Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu, dan Aku katakan kepada kamu berdua; sungguh setan bagi kamu berdua adalah musuh yang nyata.’ Keduanya berkata. ‘Wahai Rabb kami, kami telah menzhaiimi diri-diri kami, dan jika Engkau tidak mengasihi kami. niscaya kami benar-benar termasuk mereka yang merugi.’” (QS. Al-A’raf/7: 20-23).

Dan firman-Nya:

وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى. ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى.

“Dan Adam durhaka kepada Rabbnya maka dia menyimpang. Kemudian Rabbnya memilihnya dan menerima taubatnya serta memberinya petunjuk.” (QS. Thaha/20: 121-122)

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 410-412.

Syarah Istigfar dan Taubat (6)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya hatiku terkadang lupa, dan sesungguhnya aku minta ampun kepada-Nya dalam sehari seratus kali.'”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Al-Agharr Al-Muzani Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan لَيُغَانُ ‘sungguh terkadang lupa‘. Ibnu Al-Atsir Rahimahullah berkata, لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ artinya ‘sungguh hatiku terkadang lupa’. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah lalai. Karena beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu dalam keadaan yang terus bertambah kuantitas dzikir dan taqarub serta kontinuitas muraqabahnya. Jika tiba-tiba beliau lupa sebagian dari semua itu pada suatu waktu, maka beliau anggap hal itu suatu dosa bagi dirinya. Sehingga beliau segera bangkit untuk beristighfar.”[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 603.


[1]     Ditakhrij Muslim, (4/2075), no. 2702. Lihat Jami’ Al-Ushul, (4/386).

Syarah Istigfar dan Taubat (5)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Dan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,  ‘Seorang hamba berada dalam keadaan yang paling dekat dengan Tuhannya adalah di saat sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah oleh kalian do’a’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَقْرَبُ ‘paling dekat‘. Sebagian para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa sujud lebih utama daripada berdiri. Imam Ahmad Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dengan jumlahnya yang banyak lebih utama daripada lamanya berdiri, demikian yang benar.” Menurut madzhab Abu Hanifah Rahimahullah bahwa lamanya berdiri lebih utama daripada banyaknya jumlah ruku’ dan sujud. Demikian juga dikatakan Asy-Syafi’i. Hal itu karena sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُوْلُ الْقُنُوْتِ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Istigfar dan Taubat (4)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ اْلآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُوْنَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللهَ فِيْ تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Dan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Keadaan yang paling dekat antara Tuhan dan hamba-Nya adalah di tengah malam yang terakhir. Apabila kamu mampu tergolong orang yang berdzikir kepada Allah pada saat itu, lakukanlah.'”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits adalah Amr bin Abasah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ ‘saat Rabb paling dekat dengan hamba-Nya‘. Hikmah dalam dekatnya Rabb dari seorang hamba di waktu seperti itu adalah karena waktu seperti itu adalah waktu untuk menyeru Rabb. Apakah engkau tidak melihat hadits lain, Baca pos ini lebih lanjut