Syarah Dzikir Pagi dan Petang (14)

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku. Dan janganlah Engkau limpahkan (semua urusan) terhadap diriku walau sekejap mata.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan يَا حَيُّ ‘wahai Yang hidup’, dengan kata lain, Yang Abadi dan Kekal.

Ungkapan يَا قَيُّوْمُ ‘dan selalu mengurus makhluk-Nya’, dengan kata lain, Yang sangat dalam perhatiannya ketika mengurus semua makhluk-Nya.

Ungkapan أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ ‘perbaikilah segala urusanku’, dengan kata lain, semua kondisi dan urusanku.

Ungkapan وَلاَ تَكِلْنِيْ ‘dan janganlah Engkau limpahkan (semua urusan) terhadap diriku’, dengan kata lain, jangan biarkan aku.

Ungkapan إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ ‘walau sekejap mata’, dengan kata lain, sekalipun hanya sekejap.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 272-273.


[1]     Al-Hakim yang dishahihkan serta disepakati Adz-Dzahabi, (1/545). Dan lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, (1/273), no. 654.

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (13)

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا. (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)

“Aku rela Allah sebagai Tuhan(ku), Islam sebagai agama(ku), dan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai nabi(ku).” (Dibaca tiga kali).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Tsauban bin Bujdud Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits itu,

أَنَّ مَنْ قَالَهَا ثَلَاثً حِيْنَ يُصْبِحُ، وَ ثَلَاثً حِيْنَ يُمْسِيْ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْـقِيَامَةِ

“Bahwa siapa saja membacanya tiga kali ketika pagi dan tiga kali ketika sore, maka hak bagi Allah untuk meridhainya di Hari Kiamat.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (12)

بِسْمِ اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)

“Dengan nama Allah yang bila disebut segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca tiga kali). [1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits,

أَنْ مَنْ قَالَهَا ثَلاَثًا إِذَا أَصْبَحَ وَ ثَلاَثًا إِذَا أَمْسَى، لَـمْ يَضُرَّهُ شَيْءٍ

“Bahwa orang yang mengucapkannya tiga kali di pagi hari dan tiga kali di sore hari, maka tiada sesuatu apa pun yang membahayakannya.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (11)

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

“Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Wahai Tuhan Pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syetan, dan bala tentaranya, atau aku menjalankan kejelekan terhadap diriku atau mendorong orang Islam padanya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan عَالِمَ الْغَيْبِ ‘Maha Mengetahui yang gaib’, dalam keadaan manshub karena nida’ ‘panggilan’. Huruf nida’-nya adalah dihilangkan. Aslinya يَا عَالِمَ الْغَيْبِ ‘wahai Yang Maha Mengetahui yang gaib’. Juga boleh menjadi marfu sebagai khabar mubtada’ yang dihilangkan, yang aslinya: أَنْتَ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ‘Engkau Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata’.

Gaib adalah yang tidak berwujud; sedangkan syahadah adalah yang berwujud yang bisa diketahui sehingga seakan-akan seseorang menyaksikannya.

Dikatakan, “Gaib itu adalah yang tidak nyata dari para hamba. Sedangkan syahadah adalah apa-apa yang mereka saksikan.” Dikatakan pula, “Gaib adalah rahasia; sedangkan syahadah adalah yang terang dan jelas.” Dikatakan pula, “Gaib adalah akhirat; syahadah adalah dunia.” Dikatakan pula, عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ adalah Yang Maha Mengetahui apa-apa gang telah terjadi dan apa-apa yang akan terjadi’.

Ungkapan فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ ‘Pencipta langit dan bumi’, dengan kata lain, Dzat Yang menciptakan langit dan bumi. Dikatakan, فَطَرَ الشَّيْءَ ‘jika menciptakan sesuatu pertama kali’.

Pembahasan tentang hal itu dan berkenaan dengan ungkapan رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ ‘Rabb segala sesuatu’, sebagaimana pembahasan tentang عَالِمَ الْغَيْبِ ‘Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib’ dari aspek kalimat-kalimat aslinya.

Ungkapan وَمَلِيْكَهُ ‘dan Pemiliknya’, dengan kata lain مَالِكُهُ ‘Pemiliknya’.

Ungkapan مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ ‘dari keburukan jiwaku’. Beliau berlindung kepada Rabbnya dari kejahatan jiwanya. Karena jiwa (nafsu) sangat kuat memerintahkan orang kepada keburukan, sangat kuat kecenderungannya kepada syahwat dan kelezatan yang fana.

Nafsu memiliki sejumlah makna, sedangkan yang dimaksud di sini adalah makna yang komprehensif yang mencakup kekuatan kemarahan dan syahwat dalam diri manusia. Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

وَمِنْ شَرِّ نَفْسِيْ

“Dan dan keburukan jiwaku.”

Sedangkan nafsu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah diciptakan selalu dalam kebaikan, dia adalah jiwa yang tenang, sehingga bagaimana dibayangkan bahwa darinya muncul keburukan sehingga beliau berlindung dari keburukannya itu? Boleh jadi yang dimaksud adalah kontinu dan teguh pada apa yang selama ini berada di atasnya, atau sebagai pelajaran bagi umat dan petunjuk bagi mereka menuju jalan do’a. Inilah yang paling jelas.

Ungkapan وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ ‘dari keburukan syetan’. Syetan adalah nama Iblis dari kata شَطَنَ ‘jika menjauh’. Dinamakan demikian karena dia sangat jauh dari rahmat.

Dikatakan dari kata شَاطَ yakni ‘batal’. Dinamakan demikian karena dia selalu membatalkan. Alif dan nun di dalamnya untuk mubalaghah.

Ungkapan وَشِرْكِهِ ‘dan kesyirikannya’, dengan kata lain, syiriknya syetan. Hal ini diriwayatkan dalam dua bentuk, salah satunya شِرْكُهُ dengan syin berkasrah dan ra’ bersukun, yang artinya apa-apa yang diserukan syetan dan dibisikkan olehnya untuk selalu menyekutukan Allah Ta’ala. Kedua, شَرَكُهُ dengan syin dan ra’ berfathah. Dengan maksud jebakan-jebakan dan umpan-umpan syetan.

Ungkapan وَأَنْ أَقْتَرِفَ ‘dari hal yang perbuat’, dengan kata lain, aku melakukan.

Ungkapan أَوْ أَجُرُّهُ ‘atau aku menjalankan kejelekan itu’, dengan kata lain, menggeserkan keburukan itu.

Ungkapan وَإِذَا أَخَذتَ مَضْجَعَكَ ‘dan jika engkau hendak tidur’, dengan kata lain, ketika tidur.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 267-269.


[1]     At-Tirmidzi, no. 3392; Abu Dawud, no. 5067. Dan lihat Shahih At-Tirmidzi,(3/142).

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (10)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى.  اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, hartaku. Ya Allah, tutuplah auratku dan berilah ketenteraman di hatiku. Ya Allah, peliharalah aku dan arah depan, belakang, kanan, kiri, dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu agar aku tidak terjebak dari bawahku.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini  adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan الْعَافِيَةَ ‘kesehatan’, dari ungkapan عَافَاهُ الله ‘semoga Allah menyehatkannya’ atau أَعْفَاهُ ‘disehatkan’, sedangkan ism-nya adalah الْعَافِيَةَ ‘kesehatan’, yaitu penjagaan Allah bagi hamba-Nya dari berbagai macam penyakit dan bala.

Sedangkan permohonan kesehatan dalam agama adalah penjagaan Allah dari segala yang menghinakan agama dan membahayakannya. Sedangkan di dunia adalah penjagaan Allah dari segala yang membahayakan bagi dunianya. Sedangkan dalam keluarga adalah penjagaan Allah dari segala yang bisa menimpa keluarga berupa bala atau berbagai macam penyakit dan lain sebagainya. Sedangkan dalam harta adalah penjagaan Allah dari segala yang membahayakan hartanya dari bencana tenggelam, kebakaran, pencurian, dan berbagai macam gangguan yang menyakitkan.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (9)

حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. (سَبْعَ مَرَّاتٍ)

“Cukup bagiku Allah (sebagai pelindung), tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Dia. Kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan ‘Arsy Yang Agung.” (Dibaca tiga kali).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits, bahwa orang yang mengu-capkannya di pagi hari dan demikian juga di sore hari tujuh kali, maka Allah akan mencukupkan apa-apa yang penting baginya dari urusan kehidupan dunia dan akhirat.

Ungkapan حَسْبِيَ اللهُ ‘hanya Allahlah Pernolongku’, dengan kata lain, Allah Ta’ala telah mencukupkan bagiku segala sesuatu.

Ungkapan عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ‘kepada-Nya aku bertawakal’, dengan kata lain, aku bersandar kepada-Mu.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 260-261.


[1]     Ditakhrij Ibnu As-Sunni, no. 71 dengan derajat marfu; Abu Dawud, (4/321), dengan derajat mauquf, no. 5081. Syuaib dan Abdul Qadir Al-Arnauth menyahihkan hadits ini. Lihat Zaad Al-Ma’ad, (2/376). Dan telah didhaifkan Syaikh Al-Albani Rahimahullah. Lihat Dhaif Abu Dawud.

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (8)

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)

“Ya Allah, selamatkan tubuhku. Ya Allah, selamatkan pendengaranku dan penglihatanku. Tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau.” (Dibaca tiga kali).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Bakarah Nufai’ bin Al-Harits bin Kaladah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ ‘ya Allah, selamatkan tubuhku’, dengan kata lain, selamatkan aku dari berbagai bencana dan penyakit pada badanku.

Ungkapan اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ….بَصَرِيْ ‘selamatkan pendengaranku dan penglihatanku’. Ini adalah khusus datang setelah umum. Ungkapan بَدَنِيْ ‘badanku’ mencakup seluruh badan. Akan tetapi, dikhususkan dua macam indra tersebut adalah karena keduanya jalan menuju hati yang mana de-ngan kesehatan keduanya, maka sehatlah anggota badan seluruhnya. Dan dengan rusaknya kedua alat itu, maka merusakkan seluruh anggota badan.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 259-260.


[1]     Abu Dawud, (4/324). no. 5090; Ahmad, (5/42), An-Nasa’i, dalam kitab Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 22, Ibnu As-Sunni, no. 69, Al-Bukhari dalam kilab Adab Al-Mufrad. Sanadnya dihasankan Al-Allamah Ibnu Baaz dalam kitab Tuhfah Al-Akhyar, hlm. 26. Juga ada yang dilemahkan Syaikh Al-Albani Rahimahullah. Lihat Dhaif Al-Jami’. no. 1210.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.121 pengikut lainnya.