Syarah Doa Orang Khawatir Mendapatkan Ain

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيْهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ (فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ) فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

“Apabila salah seorang di antara kamu melihat dari saudaranya, diri, atau hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah dia mendo’akan berkah kepadanya. Sesungguhnya ‘ain (sihir mata) itu adalah benar.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Amir bin Rabi’ah dan Sahl bin Hanif Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ ‘hendaklah dia mendo’akan berkah kepadanya’, dengan kata lain, mengucapkan,

بَارَكَ اللهُ عَلَيْكَ أَوْ بَارَكَ اللهُ فِيْكَ

“Semoga Allah memberikan berkah atas engkau atau semoga Allah memberikan berkah kepada engkau”

Baca pos ini lebih lanjut

Cara Menyelamatkan Diri Dajjal

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

“Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat dan permulaan surat Al-Kahfi, maka terpelihara dari (gangguan) Dajjal.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan عُصِمَ ‘maka dia terpelihara‘, dengan kata lain, terjaga dan aman.

An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Dikatakan bahwa sebab semua itu adalah di bagian awalnya dengan adanya berbagai hal yang menakjubkan dan ayat-ayat (tanda-tanda). Maka, barangsiapa menadabburinya, maka dia tidak akan terfitnah oleh Dajjal. Demikian juga di bagian akhirnya, firman Allah Ta’ala,

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Ketika Melihat Orang Lain Tertimpa Bala

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari sesuatu yang Allah memberi cobaan kepadamu. Dan Allah telah memberi keutamaan kepadaku, melebihi orang banyak yang telah Dia ciptakan.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Di dalamnya disebutkan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ رَأَى مُبْتَلًى فَقَالَ… لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلَاءُ

“Barangsiapa melihat orang tertimpa bala, lalu mengucapkan … maka dia tidak akan tertimpa bala itu.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Kebencian Kepada Thiyarah

اَللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tiada kesialan, kecuali kesialan yang Engkau tentukan, dan tiada kebaikan, kecuali kebaikan-Mu, serta tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma.

Di dalamnya disebutkan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ أَرْجَعَتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَتِهِ، فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوا: وَمَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: يَقُولُ أَحَدُكُمْ

“Barangsiapa menunda kepentingannya karna thiyarah, maka dia telah syirik.’ Para shahabat bertanya, ‘Apa kafarah hal itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, ‘Salah seorang dan kalian harus mengatakan …”

Ungkapan الطِّيَرَةُ adalah sikap optimisme dan pesimis atas dasar perilaku burung. Dengan perilaku burung-burung itu mereka mengambil keputusan tentang arah dan lain-lain. Mereka menggunakan cara mengejutkan burung dari tempatnya untuk kepentingan itu.

Baca pos ini lebih lanjut

Berlindung dari Hilangnya Nikmat Allah عزّوجلّ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu dan berubahnya a’fiyah (kesejahtera’an) dari-Mu, dan aku berlindung dari kemurkaan-Mu yang datang dengan tiba-tiba dan seluruh kemarahan-Mu. (HR. Muslim)

Imam As-Syaukani رحمه الله mengatakan, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم berlindung dari hilangnya nikmat Allah عزّوجلّ. Karena itu hanya akan terjadi bila tidak mensyukuri nikmat dan tidak menjalankan apa yang menjadi hak dan tuntutan nikmat tersebut. Seperti bakhil terhadap apa yang menjadi konsekuensi nikmat pada pemiliknya yaitu melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya seperti kewajiban bersyukur, memberikan bantuan dan mengeluarkan apa yang wajib dikeluarkan.

Baca pos ini lebih lanjut

Ucapan Ketika Menyaksikan Hal yang Disukai

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya semua kebaikan sempurna.”

Berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal

Lihat sumber:

  1. Shahih Sunan Ibnu Majah, Bab. 55, hadits No. 3081-3871
  2. Ucapan “Alhamdulillah ‘ala Kulli Hal

Ucapan Ketika Menyaksikan Hal yang Tidak Disukai

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala Puji Bagi Allah Atas Segala Keadaan”

Berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal

Lihat sumber:

  1. Shahih Sunan Ibnu Majah, Bab. 55, hadits No. 3081-3871
  2. Ucapan “Alhamdulillah ‘ala Kulli Hal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.112 pengikut lainnya.