Syarah Doa Orang Khawatir Mendapatkan Ain

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيْهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ (فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ) فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

“Apabila salah seorang di antara kamu melihat dari saudaranya, diri, atau hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah dia mendo’akan berkah kepadanya. Sesungguhnya ‘ain (sihir mata) itu adalah benar.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Amir bin Rabi’ah dan Sahl bin Hanif Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ ‘hendaklah dia mendo’akan berkah kepadanya’, dengan kata lain, mengucapkan,

بَارَكَ اللهُ عَلَيْكَ أَوْ بَارَكَ اللهُ فِيْكَ

“Semoga Allah memberikan berkah atas engkau atau semoga Allah memberikan berkah kepada engkau”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Hal yang Dapat Memperlindungkan Anak-Anak

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْـحَسَنَ وَالْـحُسَيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperlindungkan Al-Hasan dan Al-Husain Radhiyallahu Anhuma, ‘Aku berlindung kepada Allah untukmu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala macam syetan, binatang yang berbisa, dan ‘ain (pandangan mata) yang menimpanya (yang mengakibatkan sakit).”‘[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Baca pos ini lebih lanjut

Apabila Takut Mengenai Sesuatu Dengan Matanya

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيْهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ [فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ] فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Apabila seseorang di antara kamu melihat dari saudaranya, diri atau hartanya yang mengherankan (menabjubkan), maka hendaklah mendoakan berkah kepadanya. Sesungguhnya ‘ain (kena mata) itu adalah benar.

HR. Ahmad 4/447, Ibnu Majah dan Malik. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 1/212, dan lihat Zadul Ma’ad 4/170, tahqiq Al-Arnauth
Sumber: Hisnul Muslim oleh Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani