Bacaan Al-Qur’an Sebelum Tidur (2)

5. Membaca Surat Al-Kafiruun

اقْرَأْ عِنْدَ مَنَامِكَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ

“Bacalah ketika akan tidur, ‘qul yaa ayyuhal kaafiruun,’ kemudian tidurlah setelah selesai menamatkannya, sesungguhnya ia pelepasan diri dari syirik.” (HR. Ahmad, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 604)

Lihat Membaca Surat Al-Kafirun Sebelum Tidur

6. Membaca Surat Az-Zumar dan Bani Isra’il (Al-Israa’)

عَنْ أَبِي لُبَابَةَ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الزُّمَرَ وَبَنِي إِسْرَائِيلَ

Dari Abu Lubabah, ia berkata: Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tidur hingga beliau membaca (surat) Az-Zumar dan Bani Isra’il.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Khuzimah dan lainnya, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, lihat pula Ash-Shahihah no. 641)

7. Membaca Surat-surat Al-Musabihaat

عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الْمُسَبِّحَاتِ وَيَقُولُ فِيهَا آيَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ آيَةٍ

Dari Al Irbadh bin Sariyyah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tidur hingga beliau membaca (surat-surat) Al-Musabihaat dan beliau bersabda tentangnya, “Sesungguhnya pada surat-surat itu terdapat satu ayat yang lebih baik dari seribu ayat.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Surat Al-Musabihaat adalah surat yang dimulai dengan tasbih, yakni Surat Al-Israa’, Al-Hadiid, al-Hasyr, Ash-Shaaff, Al-Jumu’ah, At-Taghaabuun, Al-A’laa (Tuhfatul Ahwaziy, 7/339)

Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan bahwa ayat yang lebih baik dari seribu ayat tersebut adalah:

هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلأَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Allah, Al-Awwal (Yang Pertama) dan Al-Akhir (Yang Akhir), Azh-Zhahir (Yang paling atas/zhahir) dan Al-Bathin (Yang paling bathin). Dan Dia ‘Aliim (Maha mengetahui) terhadap segala sesuatu. (QS. Al-Hadid/57: 3).[]

Bacaan Al-Qur’an Sebelum Tidur (1)

1. Membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا  أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ  لَيْلَةٍ يَجْمَعُ كَفَّيْهِ ثُـمَّ يَنْفُثُ فِيْهِمَا فَـيَقْرَأُ فِيْهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ و قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ و قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَـمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada ditempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniupkan, lalu membaca kepada keduanya ‘Qul huwallahu ahad’, ‘Qu a’udzu birabbil falq’ dan ‘Qul a’udzu birabbinnas’,  lalu dengan kedua telapak tangan beliau mengusap semua anggota tubuhnya yang bisa dijangkau. Beliau memulai mengusap dengan menggunakan kedua telapak tangannya dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan demikian tiga kali.”

Lihat Syarah Dzikir Sebelum Tidur (1)

2.  Membaca ayat Kursi (QS. Al-Baqarah/2 :255), lihat Syarah Dzikir Sebelum Tidur (2)

3. Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihat Syarah Dzikir Sebelum Tidur (3)

4. Membaca Surat As-Sajdah dan Al-Mulk

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ آلـم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ وَتَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْـمُلْكُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak tidur, beliau membaca: Aliflaam miim tanziil as-Sajdah (QS. As-Sajdah: 1-30) dan Tabaarakalladzii biyadihil mulku. (QS. Al-Mulk: 1-30).” (HR. Al-Bukhari dalam Shahiih al-Adabil Mufrad no. 1207 dan 1209, Ahmad III/340, ad-Darimi 11/455 dan lainnya, shahih. Lihat ash-Shahiihah no. 585

Lihat Syarah Dzikir Sebelum Tidur (12)

Bersambung Insya Allah…..

Kedudukan Doa-Doa Para Nabi

Dalam Al-Qur’an mulia terdapat ayat-ayat sangat banyak, di mana Allah Azza wa Jalla menyebutkan padanya contoh-contoh dari doa-doa para nabi dan  utusan, munajat mereka kepada Rabb mereka, tawassul mereka kepada-Nya, ketergesaan mereka kepada-Nya, keluluhan mereka di hadapan-Nya, kehinaan mereka, ketundukan mereka, rasa harap dan takut mereka, kesempurnaan adab mereka dalam munajat, serta kerendahan mereka, dan doa-doa mereka. Semua ini disebutkan agar hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang beriman mengetahui cara yang benar dan jalan lurus serta jalur tepat dalam berdoa kepada Rabb Azza wa Jalla serta munajat kepada-Nya.

Oleh karena itu, ketika Allah Azza wa Jalla menyebutkan dalam surah Al-An’am. sekelumit berita-berita mereka yang penuh berkah, amal-amal mereka yang agung, dan sifat-sifat mereka yang utama, maka Dia Azza wa Jalla berfirman;

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

“Mereka itulah orang-orang diberi petunjuk oleh Allah, maka dengan petunjuk mereka hendaklah engkau mengambil teladan.” (QS. Al-An’am/6: 90)

Di sini terdapat perintah bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti sunnah-sunnah mereka, komitmen terhadap jalan mereka, dan sekaligus arahan bagi umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menjadi seperti itu. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan apa yang diperintahkan dan menerapkannya dengan sebenar-benar penerapan. Beliau mengambil petunjuk dengan petunjuk para rasul sebelumnya. Mengumpulkan semua kesempurnaan pada mereka. Hingga terkumpul padanya keutamaan-keutamaan yang penuh berkah dan perilaku-perilaku agung yang mengungguli semua manusia di alam ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjadi penghulu para rasul pemimpin orang-orang   bertakwa, dan teladan orang-orang shalih. Semoga shalawat dan salam-Nya dilimpahkan kepadanya dan kepada semua nabi dan rasul.

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Doa Dalam Al-Qur’an dan Hadits

KEDUDUKAN DOA-DOA YANG DISEBUTKAN
DALAM AL-KITAB DAN AS-SUNNAH

Sungguh kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kitab kebaikan dan keberuntugan bagi manusia. Orang-orang yang berbahagia meneguk dari mata airnya. Orang-orang yang  diberi  taufik di  antara  hamba-hamba Allah mengambil petunjuk dengan petunjuknya. la menunjuki mereka kepada jalan lurus. Ia paling baik bimbingannya dan paling bermanfaat dalam segala bidang; aqidah, ibadah, maupun akhlak. Ia menunjuki mereka kepada   setiap   kebaikan   dan   keberuntungan   agama   dan dunia. Dengannya urusan-urusan  mereka menjadi  tegak, jiwa-jiwa mereka menjadi suci, keadaan-keadaan mereka menjadi stabil, jalan mereka menjadi lurus, dan didapatkan untuk mereka kesempurnaan yang  beragam dari segala sisi. Ia adalah kitab ilmu dan pengajaran. Dengannya runtuh kesesatan-kesesatan yang sangat banyak dan kebodohan-kebodohan yang bermacam-macam. Ia adalah kitab tarbiyah dan pembinaan. Dengannya terealisasi akhlak-akhlak utama dan amal-amal mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkannya sebagai petunjuk bagi semesta alam, bashirah bagi orang-orang bertakwa, dan penerangan bagi orang-orang yang  menempuh  perjalanan.  Allah  Subhanahu wa Ta’ala  mengumpulkan padanya ilmu-ilmu yang bermanfaat dan makna-rnakna yang agung lagi sempurna.

Barang siapa berpegang dengannya niscaya telah diberi petunjuk dan siapa berjalan di atas titiannya niscaya beruntung. Karena ia adalah pintu hidayah paling agung dan jalan keberuntungan paiing mulia. Allah  berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sungguh Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada yang lebih dan lurus memberi kabar gembira bagi orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang mengerjakan amal-amal shalih, bahwa untuk mereka pahala yang besar.” (QS. Al-Israa’/17: 9)

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (10)

Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu, dia berkata,

خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِيْ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِيْ غَيْرِ اِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: أَفَلاَ يَغْدُوْ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat ketika kami sedang berada di suatu tempat di belakang masjid, lalu beliau bersabda, ‘Siapakah di antara kalian yang mau pergi setiap hari menuju Buthhan atau Aqiq sehingga dari sana dia mendapatkan dua ekor unta berpunuk besar selama tidak untuk suatu dosa atau pemutusan silaturrahim? Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kami suka yang demikian’ Beliau bersabda, ‘Apakah kalian semua tidak segera pergi ke masjid di pagi hari sehingga mengetahui atau membaca dua buah ayat dari Kitabullah Azza wa Jalla adalah lebih baik daripada dua ekor unta. Tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor dan empat ayat lebih baik daripada empat ekor. Jumlah berapa pun ayat adalah lebih baik daripada sejumlah yang sama daripada unta.”‘[1]

Ungkapan وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ ‘ketika kami sedang berada di suatu tempat di belakang masjid’, الصُّفَّة adalah suatu tempat yang ada di belakang masjid yang disediakan untuk persinggahan bagi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal dan tidak memiliki keluarga.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (9)

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallarn juga bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ: {الـم} حَرْفٌ؛ وَلَـكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya dengan membaca satu huruf satu kebaikan. Dan satu kebaikan dengan (sepuluh kali) lipat darinya. Aku tidak mengatakan, ”  الـم adalah satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan مَنْ قَرَأَ حَرْفًا ‘barangsiapa membaca satu huruf’, dengan kata lain, huruf apa pun juga.

مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ‘dari Kitabullah, maka baginya dengan membaca satu huruf satu kebaikan. Dan satu kebaikan dengan (sepuluh kali) lipat darinya’, dengan kata lain, dilipatgandakan (sepuluh kali).

Ungkapan, لاَ أَقُوْلُ: {الـم} حَرْفٌ ‘aku tidak mengatakan الـم adalah satu huruf’, ini adalah penegas dan penjelas bahwa setiap huruf dari sisi Allah Ta’ala memberikan pahala dengan membacanya. Bahkan tidak bisa orang menyangka bahwa الـم adalah satu huruf, tetapi أَلِفٌ حَرْفٌ ‘alif adalah satu huruf’ dan dengan membacanya orang mendapatkan sepuluh kebaikan. وَلاَمٌ حَرْفٌ ‘laam satu huruf’ dan dengan membacanya orang mendapatkan sepuluh kebaikan. Kemudian وَمِيْمٌ حَرْفٌ ‘miim satu huruf’ dan dengan membacanya orang mendapatkan sepuluh kebaikan.

Dalam hal ini, perintah untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan dzikir yang agung yang akan mendatangkan pahala berlipat ganda.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 72-73.


[1]     At-Tirmidzi, (5/175), no. 2910. Dan lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/9) dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, (5/340), no. 6469.

Syarah Keutamaan Dzikir (4)

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan sore, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf/7: 205)

Dengan kata lain: bacalah, wahai Muhammad jika engkau menjadi imam dalam dirimu; تَضَرُّعاً ‘dengan merendahkan diri’, dengan kata lain, dengan tenang; وَخِيفَةً ‘dan rasa takut’ adalah takut dari adzab-Nya.

Adh-Dhahhak berkata, “Artinya jaharkanlah (mengeraskan suara) dalam membaca pada shalat shubuh, maghrib, dan isya.”

وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ ‘dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai’, dengan kata lain, jangan lupa membaca dalam shalat dzuhur dan ashar, karena engkau menyembunyikan bacaan dalam kedua shalat itu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (3)

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

“… Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab/33: 35)

Dengan kata lain, mereka yang dzikir kepada Allah Ta’ala dengan lisan, baik laki-laki atau perempuan. Ungkapan ini dalam kapasitas pujian bagi laki-laki dan perempuan yang dzikir kepada Allah.

Siapa saja yang banyak berdzikir kepada Allah sehingga hatinya nyaris tidak pernah kosong dari dzikir kepada Allah, demikian juga lisannya atau keduanya.

Banyak membaca Al-Qur’an dan sibuk dengan ilmu dan dzikir.

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Agar Dijadikan Hamba yang Bersyukur

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai. dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS. An-Naml[27]: 19)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. al-Ahqaaf[46]: 15)

Doa Menghilangkan Gangguan Syaitan Ketika Shalat atau Membaca Al-Qur’an

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”, setelah itu meludah kecil kekiri tiga kali

‘Utsman bin Abil ‘Ash رضي الله عنها berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syaitan menggangguku ketika aku sedang mengerjakan shalat dan mengganggu bacaanku. ‘Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: ‘Itu adalah syaitan yang bernama Khanzab/Khinzib. Jika engkau merasakan kedatangannya, maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya, dan meludah kecillah kekiri sebanyak tiga kali’. Setelah itu aku mengamalkannya. Maka Allah menjauhkan gangguan itu dariku” HR. Muslim no. 2203
Sumber:
Kumpulan Do’a dari Al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas