Biografi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari

AL-IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI
Pembela Aqidah Salaf

Disusun oleh: Abu Aisyah

Nama dan Nasabnya

Beliau adalah al-Imam Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari Abdullah bin Qais bin Hadhar salah seorang sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم  yang masyhur.

Kelahirannya

Beliau رحمه الله dilahirkan pada tahun 260 H di Bashrah, Irak.

Sifat-sifatnya

Beliau رحمه الله dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa dan ketajaman pemahamannya. Demikian juga, beliau dikenal dengan qana’ah dan kezuhudannya.

Guru-gurunya

Beliau mengambil ilmu kalam dari ayah tirinya, Abu Ali al-Jubai, seorang imam kelompok Mu’tazilah.

Ketika beliau keluar dari pemikiran Mu’tazilah, beliau رحمه الله memasuki kota Baghdad dan mengambil hadits dari muhaddits Baghdad Zakariya bin Yahya as-Saji. Demikian juga, beliau belajar kepada Abul Khalifah al-Jumahi, Sahl bin Nuh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqri, Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri, dan para ulama thabaqah mereka. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Biografi Imam Ath-Thahawi

Beliau رحمه الله adalah seorang Imam pakar penghafal hadits. Nama beliau, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salaamah bin Sallamah bin Abdil Malik Al-Azdi Al-Hajari Al-Mishri Ath-Thahawi Al-Hanafi. Dilahirkan di Buthha, sebuah desa di negeri Mesir, yang sekarang ini masuk wilayah muhafadzah (setingkat kabupaten) Al-Meniya.

Beliau dilahirkan pada tahun 239 H, ada juga yang mengatakan 237 H. Dibesarkan di rumah kediaman yang penuh ilmu dan keutamaan. Ayahnya adalah seorang ulama. Sedangkan pamannya, Al-Imam Al-Muzanni, sahabat Al-Imam Asy-Syafi’ie yang juga membantu meyebarluaskan ilmu beliau.

Al-Imam Ath-Thahawi belajar dari pamannya sendiri Al-Muzanni dan mendengar periwayatan pamannya dari Al-Imam Asy-Syafi’ie رحمه الله. Tatkala beliau menginjak usia dua puluh tahun, beliau meninggalkan madzhab Al-Imam Asy-Syafi’ie, dan beralih ke madzhab Al-Imam Abu Hanifah. Ada yang menceritakan, bahwa sebab perpindahan madhzab beliau itu, karena beliau melihat bahwa pamannya selalu menelaah kitab-kitab Abu Hanifah. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Syaikhul Islam Abu Ismail Ash-Shabuni Asy-Syafi’i

NAMA DAN KEHIDUPAN BELIAU

Beliau bernama Ismail bin Abdurrahman bin Ahmad bin Ismail bin Ibrahim bin ‘Aidz Abu Utsman ash-Shabuni Rahimahullaah Ta’ala.

Beliau dilahirkan pada tahun 372 H. Ayahnya bernama Abu Nashar, termasuk juru nasihat kenamaan di Naisabur. Ia meninggal terbunuh akibat polemik fanatisme golongan dan mahdzab. Lalu al-Imam Abu at-Thayyib Sahal bin Muhammad bin Sulaiman ash-Sha’luki mengambil alih tugas beliau. Beliau mulai bertugas selaku juru nasihat menggantikan ayahnya tatkala berumur sepuluh tahun. Konon, majelis nasihat beliau itu dihadiri oleh para imam kenamaan pada zamannya. Seperti al-Imam Ishaq al-Isfiraini dan Abu Bakar Faurak. Mereka amat mengagumi kecerdasan dan kecemerlangan otaknya. Juga keindahan tutur kata beliau baik dalam bahasa Arab maupun Parsi, serta hafalan hadits beliau. Hal itu berlanjut hingga beliau dewasa dan menyamai kedudukan mereka. Reputasi beliau terus menanjak, sehingga demikian tingginya, karena kesempurnaan sifat malu dan kehormatannya. Sementara setiap waktu, beliau disibukkan dengan banyak menunaikan ibadah dan berbagai tugas pengabdian lainnya. Beliau amat menjaga harga diri dan kejujuran serta mampu membawa diri. Beliau dikenal bagus shalatnya, amat kusyu’ sehingga mampu menampakkan kewibawaannya dan patut dijadikan tauladan dalam hal itu.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam Syafi'i

Di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza ) di bumi Palestina  pada tahun 150 H, lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang berbahagia, Idris bin Abbas Asy-Syafi’i dengan seorang wanita dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini akhirnya dinamai Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i . Demikian nama lengkapnya sang bayi itu. Namun kebahagiaan keluarga miskin ini dengan kelahiran bayi tersebut tidaklah berlangsung lama. Karena beberapa saat setelah kelahiran itu, terjadilah peristiwa menyedihkan, yaitu ayah sang bayi meninggal dunia dalam usia yang masih muda. Bayi lelaki yang rupawan itu pun akhirnya hidup sebagai anak yatim.

Sang ibu sangat menyayangi bayinya, sehingga anak yatim Quraisy itu tumbuh sebagai bayi yang sehat. Maka ketika ia telah berusia dua tahun, dibawalah oleh ibunya ke Makkah untuk tinggal di tengah keluarga ayahnya di kampung Bani Mutthalib. Karena anak yatim ini, dari sisi nasab ayahnya, berasal dari keturunan seorang Shahabat Nabi صلي الله عليه وسلم yang bernama Syafi’ bin As-Sa’ib. Dan As-Sa’ib ayahnya Syafi’, sempat tertawan dalam perang Badr sebagai seorang musyrik kemudian As-Sa’ib menebus dirinya dengan uang jaminan untuk mendapatkan status pembebasan dari tawanan Muslimin. Baca pos ini lebih lanjut