Syarah Ucapan Bila Dicaci Maki Ketika Puasa

إِنِّيْ صَائِمٌ، إِنِّيْ صَائِمٌ

“Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Puasa adalah perisai, hendaknya orang yang berpuasa tidak berkata kotor dan tidak melakukan kebodohan. Jika seseorang memcranginya atau mencacinya hendaknya dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ [diucapkan dua kali]. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu lebih segar bagi Allah daripada aroma kesturi. Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya demi Aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku Yang langsung memberikan balasannya. Dan kebaikan itu dengan sepuluh kali lipat pahalanya.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Doa Melihat Bulan Sabit

Yakni do’a yang diucapkan ketika melihat bulan sabit di awal bulan. [1]

اللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ

“Allah Mahabesar. Ya Allah, tampakkan bulan sabit, (hilal) itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan, dan Islam serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau sukai dan ridhai) Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ad-Darimi)[2]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma.

Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat bulan sabit berucap….”

Bulan sabit ada di malam pertama, kedua, dan ketiga kemudian setelah itu menjadi bulan. Disebut bulan sabit (hilal) karena orang-orang mengangkat suara mereka ketika menyampaikan berita tentang keberadaannya. Dari kata ihlal yang artinya meninggikan suara. Baca pos ini lebih lanjut

Doa Melihat Hilal (Bulan Sabit)

اللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ

“Allah Maha Besar. Ya Allah! Tampakkan bulan sabit (hilal) itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi dan ad-Darimi, lihat Shahih Tirmidzi 3/175)

Peringatan:
Dalam mengucapkan doa ini tidak boleh menghadap ke bulan sabit, sebaiknya menghadap Kiblat..


Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
Syarah Hisnul Muslim