Syarah Dzikir Pagi dan Petang (22)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. (مِائَةً مَرَّةٍ فِي الْيَوْمِ)

“Aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” (Dibaca seratus kali sehari).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Al-Agharr bin Yasar Al-Muzani Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ ‘aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya’ adalah nyata bahwa beliau memohon ampunan dan berkeinginan keras untuk bertaubat.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (21)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. (إِذَا أَصْبَحَ)

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” (Jika pagi hari).[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Ummu Salamah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan عِلْمًا نَافِعًا ‘ilmu yang bermanfaat’, dengan kata lain, aku ambil manfaatnya dan untuk memberikan manfaat kepada orang lain selain diriku.

Ungkapan وَرِزْقًا طَيِّبًا ‘rezeki yang baik’, dengan kata lain, halal.

Ungkapan وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً ‘dan amal yang diterima’ di sisi-Mu sehingga Engkau memberiku pahala dan balasan atas semua itu sebagai pahala yang baik.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 282.


[1]     Ditakhrij Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 54; Ibnu Majah, no. 925 dan dihasankan isnadnya oleh Abdul Qadir dan Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Zaad Al-Ma ‘ad, (2/375).

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (20)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ. (ثَلَاسَ مَرَّاتٍ إِذَا أَصْبَحَ)

“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya, sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.” (Dibaca tiga kali waktu pagi).[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Juwairiah bintu Al-Harits bin Abu Dhirar Al-Khuza’iah Radhiyallahu Anha, istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Seutuhnya hadits ini adalah,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ…

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (17)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ. (مِائَةَ مَرَّةٍ)

“Mahasuci Allah dan segala puji (bagi-Nya).” (Dibaca seratus kali)[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits:

مَنْ قَالَـهَا مِائَةَ مَرَّةٍ حِيْنَ يُصْبِحُ، وَحِيْنَ يُمْسِيْ، لَـمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ القِيَمَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

“Siapa saja yang mengucapkannya seratus kali ketika pagi atau sore, maka tiada seorang pun yang datang pada hari Kiamat dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang dia bawa, kecuali satu orang yang mengucapkan sebagaimana yang dia ucapkan atau lebih dari itu.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (14)

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku. Dan janganlah Engkau limpahkan (semua urusan) terhadap diriku walau sekejap mata.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan يَا حَيُّ ‘wahai Yang hidup’, dengan kata lain, Yang Abadi dan Kekal.

Ungkapan يَا قَيُّوْمُ ‘dan selalu mengurus makhluk-Nya’, dengan kata lain, Yang sangat dalam perhatiannya ketika mengurus semua makhluk-Nya.

Ungkapan أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ ‘perbaikilah segala urusanku’, dengan kata lain, semua kondisi dan urusanku.

Ungkapan وَلاَ تَكِلْنِيْ ‘dan janganlah Engkau limpahkan (semua urusan) terhadap diriku’, dengan kata lain, jangan biarkan aku.

Ungkapan إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ ‘walau sekejap mata’, dengan kata lain, sekalipun hanya sekejap.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 272-273.


[1]     Al-Hakim yang dishahihkan serta disepakati Adz-Dzahabi, (1/545). Dan lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, (1/273), no. 654.

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (4)

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

وَإِذَا أَمْسَى قَالَ: اَللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ الْـمَصِيْرُ

“Ya Allah, dengan nikmat-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan nikmat-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan dengan nikmat-Mu kami hidup dan dengan nikmat-Mu kami mati. Dan kepada-Mulah kami dibangkitkan.”[1]

Dan jika di sore hari, maka mengatakan,

“Ya Allah, dengan nikmat-Mu kami memasuki waktu sore ini, dengan nikmat-Mu kami memasuki waktu pagi, nikmat-Mu kami hidup, nikmat-Mu kami mati, dan kepada-Mulah kami kembali.”

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (1)

أَعُوذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar” (Al-Baqarah: 255).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu.

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.104 pengikut lainnya.