Doa dan Dzikir Puasa Serta Syarahnya

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينامحمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Setelah berlalu sekitar 2 (dua) tahun lamanya eBook Doa dan Dzikir Puasa diposting, maka dikesempatan ini kami posting kembali dengan:

  1. Syarah doa dan dzikir seputar Puasa
  2. Doa dan Dzikir seputar Puasa dalam file .PDF dan DOC tanpa Syarah
  3. Doa dan Dzikir seputar Puasa dalam file .PDF dan DOC beserta Syarah

Adapun isi dari per-eBook adalah sebagai berikut:

A. Doa dan Dzikir seputar Puasa dalam file .PDF dan .DOC tanpa Syarah

  1. Doa Melihat Hilal
  2. Doa Berbuka Puasa
  3. Doa Apabila Berbuka di Rumah Orang
  4. Ucapan Bila Dicaci Maki Ketika Puasa
  5. Doa Qunut Witir
  6. Dzikir Setelah Salam dari Witir
  7. Doa Malam Lailatul Qadar
  8. Doa Orang Berpuasa Sunnah Jika Diajak Makan
  9. Doa Sebelum Makan
  10. Doa Setelah Makan

B. Doa dan Dzikir seputar Puasa dalam file .PDF dan .DOC beserta Syarah Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (10)

Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu, dia berkata,

خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِيْ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِيْ غَيْرِ اِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: أَفَلاَ يَغْدُوْ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat ketika kami sedang berada di suatu tempat di belakang masjid, lalu beliau bersabda, ‘Siapakah di antara kalian yang mau pergi setiap hari menuju Buthhan atau Aqiq sehingga dari sana dia mendapatkan dua ekor unta berpunuk besar selama tidak untuk suatu dosa atau pemutusan silaturrahim? Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kami suka yang demikian’ Beliau bersabda, ‘Apakah kalian semua tidak segera pergi ke masjid di pagi hari sehingga mengetahui atau membaca dua buah ayat dari Kitabullah Azza wa Jalla adalah lebih baik daripada dua ekor unta. Tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor dan empat ayat lebih baik daripada empat ekor. Jumlah berapa pun ayat adalah lebih baik daripada sejumlah yang sama daripada unta.”‘[1]

Ungkapan وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ ‘ketika kami sedang berada di suatu tempat di belakang masjid’, الصُّفَّة adalah suatu tempat yang ada di belakang masjid yang disediakan untuk persinggahan bagi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal dan tidak memiliki keluarga.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (7)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai dengan anggapan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya jika dia berdzikir kepada-Ku. Jika dia berdzikir kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku ingat kepadanya dalam diri-Ku. Jika dia berdzikir kepada-Ku di tengah orang banyak, maka Aku ingat kepadanya di tengah orang banyak yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Sedangkan jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari kecil.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Hurairah. Namanya berbeda-beda sehingga menjadi banyak pendapat. Sedangkan yang paling kuat adalah sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka: Abdurrahman bin Shakhr Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ ‘Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai dengan anggapan hamba-Ku kepada-Ku”, dengan kata lain, bahwa Allah Ta’ala sesuai dengan anggapan hamba-Nya terhadap-Nya. Jika dia menganggap-Nya baik, maka itulah baginya. Sedangkan jika seseorang menyangka yang lain kepada-Nya, maka itulah baginya pula.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (6)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوْا بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى

‘”Maukah kusampaikan kepada kalian semua sebaik-baik amal kalian, sesuci-sucinya menurut Penguasa kalian, yang paling tinggi derajatnya bagi kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, lebih baik bagi kalian daripada kalian bertempur dengan pasukan musuh sehingga kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Beliau bersabda, ‘Dzikir kepada Allah Ta’ala’.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Ad-Darda Uwaimir bin Amir Radhiyallahu Anhu.

Sesungguhnya dzikir kepada Allah Azza wa Jalla adalah lebih utama dari segala macam amal. Bahkan merupakan amal yang paling suci. Paling tinggi derajatnya. Dan dia lebih utama daripada sedekah. Di mana beliau bersabda,

وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (5)

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (Muttafaq alaih)[1]

Shahabi hadits di atas adalah Abu Musa Al-Asyari Abdullah bin Qais Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan مَثَلُ الَّذِيْ ‘perumpamaan orang yang’ adalah perumpamaan orang yang يَذْكُرُ رَبَّهُ ‘berdzikir kepada Rabbnya’ dengan suatu macam dari berbagai macam dzikir.

Wajh tasybiih ‘bentuk keserupaan’ antara orang mati dan orang lalai adalah masing-masing keduanya tiada manfaat dan pemanfaatan. Bisa juga yang dimaksud ungkapan الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ ‘orang hidup dan orang mati’ adalah yang ada dan yang tiada. Sehingga orang yang berdzikir sama dengan orang yang ada; sedangkan orang yang lalai sama dengan orang yang tiada. Sebagaimana halnya yang ada memiliki buah-buahnya, maka demikian juga orang yang berdzikir memiliki buah-buahnya di dunia dan di akhirat. Dan sebagaimana yang tiada tidak memiliki sesuatu apa-pun, maka sedemikian pula orang yang lalai tidak memiliki sesuatu apa pun, baik di dunia ataupun di akhirat.

Kemudian perumpamaan pada perkataan mereka itu berarti perbandingan.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 62-63.


[1]   Al-Bukhari dalam Fathul Bari, (11/208), hadits ini darinya no. 6407; dan Muslim, (1/539), no. 779, dengan lafazh:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لاَ يُذْكَرُ الله فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang di dalamnya dzikir kepada Allah dan rumah yang di dalamnya tiada dzikir kepada Allah adalah seumpama orang hidup dan orang mati.”.

Syarah Keutamaan Dzikir (4)

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan sore, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf/7: 205)

Dengan kata lain: bacalah, wahai Muhammad jika engkau menjadi imam dalam dirimu; تَضَرُّعاً ‘dengan merendahkan diri’, dengan kata lain, dengan tenang; وَخِيفَةً ‘dan rasa takut’ adalah takut dari adzab-Nya.

Adh-Dhahhak berkata, “Artinya jaharkanlah (mengeraskan suara) dalam membaca pada shalat shubuh, maghrib, dan isya.”

وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ ‘dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai’, dengan kata lain, jangan lupa membaca dalam shalat dzuhur dan ashar, karena engkau menyembunyikan bacaan dalam kedua shalat itu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (2)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab/33: 41)

Dengan kata lain dzikirlah kepada Allah dengan lisan, dzikirlah kepada-Nya dalam segala keadaan, karena manusia tidak akan lepas, apakah dalam keadaan taat ataupun maksiat, nikmat ataupun sangat sulit. Jika dalam keadaan taat, maka dia harus dzikir kepada Allah Ta’ala dan tetap dengan ikhlas dan memohon kepada-Nya penerimaan dan taufik-Nya. Sedangkan jika dalam keadaan maksiat, maka dia harus dzikir kepada Allah Ta’ala dengan memohon taubat dan ampunan kepada-Nya. Sedangkan jika dalam keadaan nikmat, maka dia harus dzikir kepada-Nya dengan syukur kepada-Nya. Sedangkan jika dalam keadaan yang sangat sulit, maka dia harus dzikir kepada Allah dengan sabar.

Dikatakan, اذْكُرُوا اللَّهَ ‘berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah’ adalah pujilah Dia dengan berbagai macam pujian, baik berupa pensucian, pemuliaan, tahlil, pengagungan, dan semua pujian yang layak bagi-Nya. Dan perbanyaklah semua itu.

Bisa saja yang dimaksud dengan dzikir dan memperbanyaknya adalah memperbanyak semangat untuk beribadah. Sesungguhnya semua ketaatan dan semua kebaikan adalah bagian dari dzikir.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 59-60

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.178 pengikut lainnya