Syarah Doa Kesedihan (4)

اللهُ اللهُ رَبِّي لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Allah, Allah adalah Tuhanku, aku sedikit pun tidak menyekutukan-Nya.”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Asma’ bintu ‘Umais Radhiyallahu Anha.

Disebutkan di bagian awal hadits sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ تَقُوْلِيْنَهُنَّ عِنْدَ الكَرْبِ

“Maukah kuajarkan kepadamu kata-kata yang harus kalian baca ketika dalam kesulitan ….”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Kesedihan (3)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ، إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits itu adalah Sa’ad bin Abu Waqqash Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits itu adalah sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

دَعْوَةُ ذِي النُّوْنِ إِذْ دَعَا بِهَا، وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحَوْتِ : لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ، إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ، إِلاَّ اسْتُجِيْبَ لَهُ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Kegalauan dan Kesedihan (2)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan keluh-kesah dan rasa sedih, dan kelemahan dan kemalasan, dan sifat bakhil dan penakut, dari belitan hutang dan para penindas yang menagih(ku).”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan di bagian awal hadits ini ucapan Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu,

فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كُلَّمَا نَزَلَ، فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ أَنْ يَقُوْلَ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Kegalauan dan Kesedihan (1)

Setelah ini akan datang do’a al-karbu ‘sedih’. Perbedaan antara al-karbu dan al-huznu adalah bahwa al-karbu kesedihan yang sangat mendalam. Sedangkan perbedaan antara al-hamm dan al-huznu dikatakan. “Keduanya adalah sama.” Padahal tidaklah demikian. Karena al-hamm terjadi pada perkara yang nyata dan masih ditunggu. Sedangkan al-huznu terjadi pada apa-apa yang teiah terjadi, dan al-hamm adalah kesedihan yang meleburkan manusia. Dia berkata, هَمَّنِي الشَّيْءٌ artinya sesuatu itu meleburkanku.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ

” Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, ubun-ubunku (nasibku) ada di tangan-Mu. Telah lalu hukum-Mu atasku, adil ketetapan-Mu atasku, aku mohon kepada-Mu dengan perantara semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai penawar hatiku, cahaya dalam dadaku, penghapus dukaku, dan pengusir keluh-kesahku.”[1]

Baca pos ini lebih lanjut