Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (4)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, ampunilah aku akan (dosaku) yang kulewatkan dan yang kuakhirkan, apa yang kurahasiakan dan yang kutampakkan, yang kulakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui daripada diriku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Engkau”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu.

Saya mengatakan, “Ini juga untuk memberikan pelajaran kepada umat. Untuk mengagungkan Allah Ta’ala sehingga tidak akan terputus permohonannya kepada-Nya.”

Ungkapan مَا قَدَّمْتُ ‘apa yang kulewatkan’, yakni berupa berbagai macam dosa.

Ungkapan وَمَا أَخَّرْتُ ‘dan apa yang kuakhirkan’, yakni berupa berbagai ketaatan. Dikatakan, “Jika aku melakukan dosa, maka ampunilah aku dari dosa-dosaku.”[2]

Ungkapan مَا أَسْرَرْتُ ‘yang kulakukan secara berlebihan’, dengan kata lain, dosa dan kesalahan yang paling banyak kulakukan.

Ungkapan أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ‘Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan’. Arti mendahulukan dan mengakhirkan itu adalah mendudukkan segala sesuatu pada tempat dan urutannya dalam penciptaan dan pengu-tamaan. Dan lain-lain selain semua itu sesuai dengan apa yang dibutuhkan hikmah.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 202-203.


[1]     Muslim, (1/534), no. 771.
[2]
    Mirqat Al-Mafatih (2/534). (Korektor).

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (2)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan hutang”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Disebutkan di dalamnya bahwa seseorang takjub kepada beliau, “Berapa banyak engkau berlindung kepada Allah dari belitan hutang, wahai Rasulullah?” Sehingga beliau bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (9-11)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu. Ya Allah, dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan Yang Maha Esa, Mahatunggal yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia, aku mohon kepada-Mu agar mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang”[1]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (5-8)

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut nama-Mu, syukur kepada-Mu, dan ibadah yang baik untuk-Mu.”[1]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) penakut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang terhina, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur”[2]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka!”[3] Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Istiftah (4)

اَللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ، وَمِيْكَائِيْلَ، وَإِسْرَافِيْلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ. اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) (pada Hari Kiamat—red.) apa yang mereka pertentangkan (dari perkara agama di waktu di dunia—red.). Tunjukkanlah aku (teguhkanlah aku—red.) pada kebenaran (atasnya—red.) apa yang diper-debatkan dengan seizin dari-Mu (dengan taufik dan kemudahan dari-Mu—red.). Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus (jalan kebenaran dan keadilan—red.) bagi orang yang Engkau kehendaki.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Aisyah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan رَبَّ جِبْرَائِيْلَ، وَمِيْكَائِيْلَ، وَإِسْرَافِيْلَ ‘Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil’, mereka secara khusus disebutkan di samping makhluk-makhluk lain sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah hal yang serupa itu, dengan diidhafahkan kepada setiap yang agung martabatnya dan besar perkaranya. Bukan kepada sesuatu yang hina dan kecil. Maka, dikatakan kepadanya, “Mahasuci Rabb langit dan bumi, Rabb Arsy yang mulia, Rabb para malaikat dan Jibril, Rabb dua timur dan dua barat, Rabb manusia dan Rabb segala sesuatu, Pencipta langit dan bumi, Pembuat langit dan bumi. Semua itu dan semisalnya adalah sifat bagi Allah Ta’ala dengan dasar dalil-dalil-Nya yang agung dan yang agung kekuasaan dan kerajaan-Mya.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Masuk Desa atau Kota

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ اْلأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنَ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ. أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا

“Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya. Tuhan penguasa tujuh bumi dan apa yang di atasnya. Tuhan Yang menguasai syetan-syetan dan apa yang mereka sesatkan. Tuhan Yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya. Aku mohon kepada-Mu kebaikan desa, kebaikan penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dan kejelekan desa ini, kejelekan penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَمَا أَظْلَلْنَ ‘dan apa yang dinaunginya’, dari kata الْإِظْلاَلُ maksudnya adalah segala sesuatu di langit yang dicakup olehnya. Ibnu Al-Atsir Rahimahullah berkata, “Langit itu memayungi bumi.” Dengan kata lain, langit itu tinggi di atasnya sehingga menjadi seperti payung bagi bumi.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Seorang Musafir Untuk yang Mukim

أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِيْ لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ

“Kutitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Dalam hadits ini disebutkan sabdanya Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يُسَافِرَ فَلْيَقُلْ لِمَنْ يُخَلَّفُ…

“Siapa saja yang hendak bepergian hendaknya mengucapkan kepada siapa saja yang akan ditinggalkan …..”

Ungkapan فَلْيَقُلْ لِمَنْ يُخَلَّفُ ‘hendaknya mengucapkan kepada siapa saja yang akan ditinggalkan’, yakni dari para keluarganya dan orang-orang yang dia cintai.

Ungkapan أَسْتَوْدِعُكُمُ ‘titipkan kalian kepada Allah’, kumohonkan penjagaan untuk kalian semua kepada Allah Ta’ala. Kujadikan kalian semua dalam penjagaan dan pemeliharaan Allah Ta’ala.

Ungkapan وَدَائِعُهُ ‘semua titipan pada-Nya’ adalah bentuk jamak dari kata وَدِيْعَة yang aslinya merupakan nama bagi harta yang tertinggal pada seseorang. Dari kata وَدَعَ yang artinya ‘meninggalkan’.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 513-514 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ahmad. (2/403), Ibnu Majah. (2/943). no. 2825. Lihat Shahih Ibnu Majah. (2/133).

Syarah Doa Safar

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ. وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيْهِنَّ: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, ‘Mahasuci Tuhan Yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat)’ (QS. Az-Zukhruf: 13-14). Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meridhakan-Mu. Ya Allah, mudahkanlah pcrjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan keburukan ketika kembali dalam harta dan keluarga.’ Dan ketika pulang, semua itu dibaca dengan tambahan: ‘Kami semua kembali, kami semua bertaubat, kami semua beribadah. Kepada Rabb kami, kami memuji.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan أَنْتَ الصَّاحِبُ ‘Engkau teman’, dengan kata lain, teman yang selalu dekat. Yang dimaksud dengan itu adalah dampingan Allah Ta’ala kepadanya dengan segala perhatian dan penjagaan. Yang demikian karena manusia adalah makhluk yang harus banyak didampingi dalam perjalanan. Pendampingan itu dibutuhkan agar selalu merasa senang dengan itu, selalu berhati-hati, terjaga dari apa-apa yang membahayakannya, sehingga diingatkan dengan kata itu sebagai tempat bersandar yang paling baik dan penjagaan dari-Nya yang paling sempuma daripada sahabat yang mana pun juga.

Ungkapan الْخَلِيْفَةُ ‘pengganti’, dengan kata lain, yang mengganti orang yang pergi untuk mengamankan segala apa yang diwakilkan kepadanya. Artinya, Engkaulah yang kuharapkan, bersandar kepada-Nya ketika aku tiada di tengah keluargaku, hendaknya Engkau merapikan kekacauan pada mereka, mengobati penyakit mereka, dan menjaga agama dan amanat mereka.

Ungkapan مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ ‘dari kesulitan dalam perjalanan’, dengan kata lain, kerumitannya. Diambil dari akar kata اَلْوَعْثُ yaitu suatu tempat yang datar, banyak tanah berpasir yang melelahkan, dan menyulitkan binatang ternak.

Ungkapan وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ ‘pemandangan yang menyedihkan‘. اَلْكَابَّةُ وَ اَلْكَآبَةُ وَ الْكَأْبُ adalah penampilan yang buruk, putus asa karena rasa sedih. Sedangkan yang dimaksud adalah memohon perlindungan dari segala pemandangan yang menimbulkan rasa sedih.

Ungkapan وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ ‘keburukan ketika kembali’, yaitu kembali dengan sesuatu yang buruk baginya. Kembali dengan sesuatu yang menimpa dirinya dalam perjaianan. Atau apa-apa yang menimpa diri, kerabat, harta, dan apa-apa yang menjadi kesenangannya. Al-munqalab adalah ‘tempat kembali’.

Ungkapan وَإِذَا رَجَعَ ‘dan ketika pulang‘, dari perjalanannya.

Ungkapan قَالَهُنَّ ‘semua itu dibaca’, dengan kata lain, mengucapkan semua kalimat itu وَزَادَ فِيْهِنَّ: آيِبُوْنَ ‘dengan tambahan: kami semua kembali’, dengan kata lain, kembali dengan baik. Dari kata آبَ artinya ‘kembali‘, dengan kata lain, ‘kami kembali’; dan تَائِبُوْنَ ‘kami semua bertaubat’ dari segala macam dosa. Serta عَابِدُوْنَ ‘kami semua beribadah’, dengan kata lain, kami mukhlish لِرَبِّنَا ‘kepada Rabb kami’, dan karenanya kami حَامِدُوْنَ ‘kami memuji’ atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kami.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 503-505 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Muslim (2/998), no. 1342.