eBook Keutamaan Dzikir dan Syarahnya

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku)”. (QS. Al-Baqarah/2:152).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

“Hai, orang-orang yang beriman, berdzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut nama-Nya)”. (QS. Al-Ahzaab/33:42).

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (13)

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

“Tiada suatu kaum berdiri dari majelis mereka tidak dzikir kepada Allah di dalamnya, melainkan berdiri menjauh dari semacam bangkai keledai dan bagi mereka penyesalan.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ ‘dari semacam bangkai keledai dan bagi mereka penyesalan’, dengan kata lain, orang-orang yang berdiri meninggalkan majelis yang di dalamnya ada bangkai keledai, tiada yang mereka dapatkan melainkan bau busuk, dibenci, dan berbahaya. Mereka tidak berdiri menjauh melainkan pada mereka kerugian dan penyesalan karena hal itu. Demikian juga kaum yang berdiri meninggalkan majelis yang tiada dzikir kepada Allah Ta’ala di dalamnya, tiada yang mereka dapatkan melainkan dosa-dosa dari cerita-cerita bohong dan omongan yang sia-sia serta hal-hal yang membahayakan di akhirat dan mereka akan tetap dalam penyesalan.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 78.


[1]     Abu Dawud, (4/264), no. 4855; Ahmad, (2/389), dan lihat Shahih Al-Jami’ (5/176), no. 5750.

Syarah Keutamaan Dzikir (12)

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ، وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Tidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majelis dengan tidak dzikir kepada Allah dalam majelis itu atau tidak bershalawat kepada Nabi mereka, melainkan atas mereka kekurangan. Maka, jika Allah menghendaki menyiksa mereka; dan jika Dia menghendaki mengampuni mereka.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan تِرَةٌ adalah kekurangan, kerugian, dan penyesalan.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (6)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوْا بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى

‘”Maukah kusampaikan kepada kalian semua sebaik-baik amal kalian, sesuci-sucinya menurut Penguasa kalian, yang paling tinggi derajatnya bagi kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, lebih baik bagi kalian daripada kalian bertempur dengan pasukan musuh sehingga kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Beliau bersabda, ‘Dzikir kepada Allah Ta’ala’.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Ad-Darda Uwaimir bin Amir Radhiyallahu Anhu.

Sesungguhnya dzikir kepada Allah Azza wa Jalla adalah lebih utama dari segala macam amal. Bahkan merupakan amal yang paling suci. Paling tinggi derajatnya. Dan dia lebih utama daripada sedekah. Di mana beliau bersabda,

وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Doa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَـمْ يَدْعُ اللَّهَ سُبْحَانَهُ غَضِبَ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Barangsiapa enggan berdoa (memohon) kepada Allah Subhanahu, niscaya Dia akan marah kepadanya’.”

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ، ثُمَّ قَرَأَ: وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dari An-Nu’man bin Basyir رضي الله عنه, ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Sesungguhnya berdoa adalah ibadah’ Kemudian beliau membaca ayat, ‘Dan Tuhan-mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghaafir [40]:60)

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ مِنْ الدُّعَاءِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda: “Tidaklah ada sesuatu yang paling mulia bagi Allah Subhanahu daripada doa.”[]

Disalin dari Shahih Sunan Ibnu Majah hadits ke 3100-3102, silahkan download eBook-nya disini

Keutamaan Tsabit bin Qais رضي الله عنه

Tsabit bin Qais رضي الله عنه
Mengkhawatirkan Amalannya Terhapuskan


Nasab Sahabat Tsabit bin Qais

Para Ulama sejarah telah menuliskan garis pernasaban Tsabit bin Qais dalam karya-karya mereka. Lengkapnya, Tsabit bin Qais bin Syammasy bin Zuhair bin Malik bin Imru’ul Qais al-Khazraji al-Anshari رضي الله عنه.

Seorang Orator Kaum Anshar

Sahabat dari kaum Anshar ini dikenal memiliki suara tinggi dan lantang dan baligh (fasih dalam berbicara). Kefasihan dan kecakapan dalam berpidato dengan gaya bahasa sastra tinggi tampaknya turun dari kakek keempatnya, Imru’ul Qais, salah seorang penyair ulung di masa Jahiliyah yang karyanya dipertontonkan di Pasar Ukazh.

Dengan kecakapannya dalam berbicara, Sahabat Tsabit bin Qais رضي الله عنه; didaulat sebagai Khathibul Anshar, pembicara yang mewakili kaum Anshar. Sahabat inilah yang mewakili kaum Anshar untuk berbicara kepada Rasulullah ketika pertama kali datang ke kota Madinah dalam perjalanan hijrahnya dari Mekah. la mengatakan, “Kami akan lindungi engkau sebagaimana kami melindungi diri kami dan anak-anak kami. Jika demikian, apa balasannya bagi kami?”. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “(Balasan bagi kalian adalah) surga”. Orang-orang pun mengatakan, “Kami rela (dengan balasan itu)” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/234 dan menilainya sebagai hadits shahih. Imam adz-Dzahabi menyetujuinya).

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Ibnu Abbas

ABDULLAH BIN ABBAS
Pakar Penafsir al-Qur’an
Oleh: Ustadz Abu Faiz Sholahuddin al-Lampungi

Beliau adalah Abul Abbas Abdullah bin al-Abbas bin Abdil Muththalib bin Hasyim, bin Abdi Manaf al-Qurasyi al-Hasyimi, anak paman Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Pada diri beliau terkumpul banyak kemuliaan:

  • Kemuliaan sahabat karena ia salah satu sahabat mulia Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
  • Kemuliaan nasab karena beliau adalah anak paman Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
  • Kemuliaan ilmu karena beliau adalah habrul ummah (ulamanya umat) dan turjumanul qur’an (penafsir al-Qur’an),
  • Kemuliaan takwa karena beliau adalah orang yang banyak puasa di siang hari, banyak shalat di malam hari, dan banyak menangis karena takut kepada Allah عزّوجلّ,
  • Kemuliaan paras karena beliau adalah seorang yang tampan dan gagah, berwibawa, sempurna akalnya, suci hatinya, terhitung di antara laki-laki yang sempurna.

Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrahnya Nabi صلى الله عليه وسلم ke Madinah. Tatkala Rasulullah صلى الله عليه وسلم meninggal dunia, beliau masih berumur tiga belas tahun. Namun demikian, beliau telah banyak menghafalkan hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم, hingga tercatat jumlah hadits yang beliau hafalkan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebanyak 1.660 hadits. Hai itu tidak mengherankan karena beliau adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi صلى الله عليه وسلم dan selalu bersama beliau ke mana pun beliau berada.

KEUTAMAAN BELIAU

Beliau memiliki banyak sekali keutamaan dan kemuliaan yang tidak dimiliki oleh selainnya. Keutamaan dan kemuliaan beliau didukung oleh beberapa hal, di antaranya:

Pertama: Beliau adalah sahabat yang dido’akan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم untuk difakihkan (dipaham-kan) dalam masalah agama

Beliau menceritakan sendiri, “Suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم memelukku ke dadanya lalu berdo’a, ‘Ya Allah, ajarkan kepadanya hikmah.”[1]

Dalam riwayat lain:

اللَّهُمَّ فَقَّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, fakihkan (pahamkan) ia dalam masalah agama, dan ajarkan padanya takwil (tafsirnya).”[2]

Maka Allah عزّوجلّ mengabulkan do’a Nabi-Nya, sehingga menjadilah Ibnu Abbas رضي الله عنهما imam dalam ilmu, ulamanya umat, dan beliau adalah ahli tafsir al-Qur’an al-Karim berkat do’a Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Baca pos ini lebih lanjut