Doa Rasulullah Untuk Ibu Abu Hurairah

Do’a beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ibu Abu Hurairah sehingga ibunya langsung masuk Islam…

Berkata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Aku ajak ibuku memeluk agama Islam ketika dia masih keadaan musyrik, lalu suatu hari aku mengajaknya, maka terdengar olehku ada suatu ucapan terhadap diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang aku benci lalu aku datang kepada Rasulullah sambil menangis lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengajak ibuku untuk masuk Islam lalu dia menolak ajakanku tersebut, suatu hari aku mengajaknya dan terdengar ucapan yang aku benci mengenai dirimu, maka berdo’alah kepada Allah agar memberi petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.” Maka Rasulullah berdo’a:

اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

“Ya Allah, berilah petunjuk Ibu Abu Hurairah.”

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Rasulullah Untuk Anas bin Malik

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيْمَا أَعْطَيْتَهُ (وَأَطِلْ حَيَاتَهُ، وَاعْفِرْلَهُ)

“Ya Allah banyakkan hartanya, banyakkan anaknya, berkati segala yang engkau berikan kepadanya (panjangkan umurnya dan ampunkan dosanya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Demi Allah sesungguhnya hartaku amat banyak, anak dan cucuku lebih dari seratus orang sampai hari ini. (HR. Muslim) [Anak perempuanku Aminah bercerita: bahwasanya anak-anakku dikuburkan waktu kedatangan jamaah haji ke Bashrah berjumlah sekitar seratus dua puluh sembilan orang.] dan usiaku juga panjang sampai-sampai aku malu kepada orang, dan aku mohon ampunan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan beliau (Anas bin Malik) radhiyallahu ‘anhu memiliki sebuah kebun buah-buahan yang menghasilkan setiap tahunnya dua kali berbuah, di mana buah-buahan itu mendatangkan wangi yang harum. (HR. at-Tirmidzi).[]

Disalin dari Kitab Agar Doa Dikabulkan Karya Syaikh Said bin Ali Wahf al-Qahthani pada Pasal V: Perhatian para Rasul terhadap do’a dan Allah Memperkenankan do’a mereka, hal. 92, Penerbit Darul Haq-Jakarta.

Keutamaan Waktu Pagi dan Keberkahannya

Imam Muslim  meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah Al-Asadiy, dia berkata, “Suatu hari, kami pergi di waktu pagi menuju Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tepatnya setelah selesai mengerjakan shalat Shubuh. Kami memberi salam di pintu dan beliau  memberi izin kepada kami.” Beliau (Abu Wa’il) berkata, “Kami berdiam sesaat di pintu” (yakni menunggu beberapa waktu lamanya). Lalu seorang perempuan keluar dan berkata,  “Tidakkah kamu mau masuk?” Lalu kami pun masuk. Ternyata beliau (Ibnu Mas’ud) sedang duduk bertasbih. Beliau berkata, “Apa yang menghalangi kalian untuk masuk sementara telah diizinkan kepada kamu?” Kami berkata, “Tidak ada, hanya saja kami mengira sebagian penghuni rumah masih tidur.” Beliau berkata,  “Kamu menduga keluarga Ibnu Ummi Abdin lalai?” (Maksudnya, dirinya sendiri, karena ibu Ibnu Mas’ud adalah Ummu Abdin Al-Hudzaliyah radhiyallahu ‘anha). Abu Wa’il berkata, “Lalu beliau meneruskan bertasbih. Hingga ketika dia menduga matahari telah terbit maka beliau berkata,  ‘Wahai perempuan,  lihatlah  apakah matahari telah terbit?’ Perempuan itu melihat dan temyata matahari belum terbit. Maka beliau kembali melanjutkan bertasbih. Hingga ketika dia mengira matahari telah terbit maka beliau berkata, ‘Wahai perempuan, lihatlah apakah matahari telah terbit?’ Perempuan itu melihat dan temyata matahari telah terbit. Maka beliau berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memaafkan kita hari ini dan tidak membinasakan kita dengan sebab dosa-dosa kita.'”[1]

Atsar ini memberikan kepada orang yang mencermati akan gambaran jelas dan petunjuk yang terang akan kehidupan yang penuh kesungguhan, semangat yang tinggi, dan pemamfaatan waktu di kalangan salafusshalih. Terutama sekali para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Disertai pemahaman mereka tentang waktu-waktu, pengetahuan mengenai kadar-kadarnya, serta yang lebih utama darinya, dan memberikan setiap pemilik hak akan haknya.

Waktu di mana Abu Wa’il dan para sahabatnya menemui Ibnu Mas’ud adalah waktu yang mengandung berkah dan sangatlah berharga. la adalah waktu dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kesungguhan, kegiatan, dan semangat dalam kebaikan. Hanya saja banyak di antara manusia mengabaikannya dan melalaikannya serta tidak mengetahui baginya martabat dan kedudukannya. Terkadang mereka menyia-nyiakannya dengan tidur, atau bermalas-malasan dan kurang semangat, atau menyibukkan dengan urusan-urusan yang rendah. Padahal awal hari menempati posisi masa mudanya, dan akhirnya menempati posisi masa tuanya.[2] Barang siapa pada masa muda terbiasa dengan sesuatu niscaya dia akan terbiasa dengannya hingga beruban. Oleh karena itu, apa yang berlaku atas seseorang di pagi hari dan awalnya, niscaya akan berlangsung terus atasnya di sisa harinya. Jika giat maka akan terus giat, bila malas niscaya akan terus malas. Barang siapa memegang kendali hari (yaitu awalnya), maka akan selamat baginya harinya seluruhnya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan diberi pertolongan untuk mendapatkan kebaikan, serta diberkahi untuknya padanya. Dalam pribahasa dikatakan, “Harimu seperti untamu. Jika engkau memegang awalnya, niscaya akhirnya akan mengikutimu.” Makna ini diambil dari atsar Ibnu Mas’ud terdahulu, di mana ketika telah terealisasi bagi beliau radhiyallahu ‘anhu pemanfaatan awal hari itu dengan dzikir maka beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang memaafkan kita hari ini dan tidak membinasakan kita dengan sebab dosa-dosa kita.”

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Dzikir Sehari Semalam

KEUTAMAAN DZIKIR-DZIKIR YANG BERKAITAN
DENGAN AMALAN SEHARI SEMALAM

Sungguh, di antara bahasan mulia dan perkara penting yang sangat dibutuhkan setiap Muslim, adalah apa yang berkaitan dengan amalan seorang Muslim sehari semalam, ketika berdiri dan duduk, bergerak dan diam, masuk dan keluar, dan seluruh urusannya. Hendaknya dia memanfaatkan semua itu dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menggunakannya pada apa yang diridhai-Nya. Sehingga pada semua itu dia dalam keadaan berdzikir terhadap Rabbnya, mohon pertolongan pada-Nya semata, dan menyerahkan seluruh urusannya kepada-Nya.

Disebutkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdzikir kepada Rabbnya di setiap keadaannya.[1] Yakni, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan dzikir pada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada keadaan apapun di antara keadaan-keadaannya, malam dan siang, shubuh dan petang, safar dan mukim, berdiri dan duduk, serta keadaan-keadaannya yang lain. Tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan suatu perbuatan seperti tidur dan terjaga, masuk dan keluar, menaiki kendaraan dan turun darinya, dan lain sebagainya, melainkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memulainya dengan dzikir pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan doa kepada-Nya.

Barang siapa mencermati sunnah penuh berkah dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, niscaya akan mendapati disana terdapat dzikir-dzikir pagi dan petang, dzikir-dzikir tidur dan bangun, dzikir-dzikir shalat dan sesudahnya, dzikir-dzikir makan dan minum, dzikir-dzikir menaiki kendaraan dan safar, dzikir-dzikir yang berkaitan dengan mengusir kegundahan, kerisauan dan kesedihan, dzikir-dzikir yang diucapkan ketika seorang Muslim melihat apa yang dia sukai dan tidak dia sukai, dan selain itu dari dzikir-dzikir yang berkaitan langsung dengan keadaan seorang Muslim sehari semalam.

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Do’a

Allah عزّوجلّ berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Rabb kalian berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) untuk berdo’a kepada-Ku, mereka kelak akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina-dina.” (QS. Ghafir/al-Mu’min/40: 60)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah): ‘Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a bila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah/2: 186)

Dari an-Nu’man  bin  Basyir رضي الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah.”

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Lafazh لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Dari Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Ucapkanlah:

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”

Karena ia adalah salah satu perbendaharaan surga.” (HR. Al-Bukhari, no. 6384 dan Muslim, no. 2704. Hadits ini menurut redaksi riwayat al-Bukhari)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Perbanyaklah mengucapkan:

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

karena ia adalah salah satu perbendaharaan surga.” (HR. Ahmad, no. 8406).[]

Disalin dari Kumpulan Do’a & Dzikir Dalam al-Qur`an dan Sunnah, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal.55.

eBook Keutamaan Dzikir dan Syarahnya

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku)”. (QS. Al-Baqarah/2:152).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

“Hai, orang-orang yang beriman, berdzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut nama-Nya)”. (QS. Al-Ahzaab/33:42).

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.175 pengikut lainnya