Doa Rasulullah Pada Perang Ahzab

Kelompok yang memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Ahzab terdiri dari lima golongan, yaitu kaum musyrik dari ahli Mekah, kabilah-kabilah Arab, orang-orang Yahudi dari luar kota Madinah, Bani Quraidlah dan orang-orang munafiq, di mana jumlah orang-orang kafir di perang Khandaq/Ahzab sebanyak 10.000, dan kaum Muslim bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 3.000, dan mereka telah mengepung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sebulan dan tidak terjadi di antara mereka peperangan kecuali apa yang terjadi pada Amr Ibnu Wudd al-‘Amiri dan Ali Ibnu Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Ali langsung membunuhnya, dan perang ini terjadi pada tahun keempat hijriah. (Zadul Ma’ad, 3/ 274).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اللَّهُمَّ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

“Ya Allah, yang menurunkan kitab, yang cepat penghisaban-Nya, hancurkanlah kelompok-kelompok itu, ya Allah, hancurkanlah mereka dan goncangkanlah mereka.” (HR al-Bukhari).

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Rasulullah Saat Perang Badar

Dari Umar Ibnu Khaththab radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Ketika Perang Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kepada kaum musyrikin dan mereka berjumlah seribu orang sedangkan para sahabatnya berjumlah tiga ratus sembilan belas orang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke kiblat, mengangkat tangan berdo’a kepada Rabbnya:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ

“Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, datangkanlah apa yang telah engkau janjikan kepadaku, ya Allah, jika Engkau hancurkan kelompok Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini.”

Maka terus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat kedua tangan menghadap kiblat, sampai terjatuh selendangnya dari kedua bahunya, maka datanglah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan mengambil selendangnya serta memasangkan kembali di atas pundaknya dan menguatkan di belakangnya sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi bagimu apa-apa yang telah dijanjikan kepadamu.” Maka turunlah ayat:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Rasulullah Untuk Ibu Abu Hurairah

Do’a beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ibu Abu Hurairah sehingga ibunya langsung masuk Islam…

Berkata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Aku ajak ibuku memeluk agama Islam ketika dia masih keadaan musyrik, lalu suatu hari aku mengajaknya, maka terdengar olehku ada suatu ucapan terhadap diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang aku benci lalu aku datang kepada Rasulullah sambil menangis lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengajak ibuku untuk masuk Islam lalu dia menolak ajakanku tersebut, suatu hari aku mengajaknya dan terdengar ucapan yang aku benci mengenai dirimu, maka berdo’alah kepada Allah agar memberi petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.” Maka Rasulullah berdo’a:

اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

“Ya Allah, berilah petunjuk Ibu Abu Hurairah.”

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Mu'adzah binti 'Abdillah

MU’ADZAH BINTI ‘ABDILLAH AL-‘ADAWIYYAH
Wanita Shalihah Bersuami Lelaki Taat Beribadah

Mu’adzah binti ‘Abdillah al-‘Adawiyyah, nama kunyahnya Ummu Shahba. Beliau adalah salah seorang wanita yang berasal dari kota Basrah. Beliau termasuk dari kalangan Tabi’in dan termasuk dari perawi hadits. Terlahir dalam keluarga yang terbangun di atas pondasi iman dan ketaatan kepada Allah عزّوجلّ, hingga sekat-sekat rumahnya tak pernah menyaksikan kecuali amal shahih yang senantiasa mengisi hari-harinya bersama keluarga. Keluarga yang senantisa hidup dalam naungan cinta kepada kebajikan dan senantiasa memburunya.

Bagaimana tidak, jika kepala rumah tangganya adalah seorang pemuka para ahli ibadah dan suri tauladan bagi orang-orang zuhud. Ditemani seorang istri yang termasuk salah satu wanita kebanggaan para wanita ahli ibadah. Sedangkan anak-anak mereka sangat berbakti terhadap kedua orang tuanya dan mewarisi sifat-sifat baik kedua orang tua mereka. Betapa indahnya kehidupan rumah tangga jika terajut dari individu-individu yang berlatar belakang seperti mereka.

KESHALIHAN SUAMI MU’ADZAH

Suami Mu’adzah bernama Shilah bin Asy-yam al-‘Adawi al-Bashri, dengan kunyah Abu Shahba. Disebutkan dalam kitab Siyar A’lamin Nubala (4/509), bahwa Shilah dan istrinya, Mu’adzah, termasuk thabaqah kedua dari kalangan Tabi’in. Beliau adalah tokoh temama pada masanya, juga termasuk perawi hadits. Hasan al-Bashri dan Tsabit al-Bunani di antara Ulama umat yang berguru kepada Shilah ini.

Ibnu Hazm رحمه الله menyebutkan dalam kitab al-Muhalla (4/321) salah satu hadits yang beliau riwayatkan yaitu dari Sahabat ‘Ammar bin Yasir رضي الله عنه, bahwa beliau berkata: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari ini, maka dia telah menentang Abul Qasim (Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم)”

Sang istri Mu’adzah Al-‘Adawiyah telah memberi kesaksian sendiri tentang keshalihan pribadi suaminya dengan berkata, “Tidaklah Abu Shahba mengerjakan shalat, melainkan setelah itu dia tak bisa kembali ke tempat tidurnya kecuali dengan merangkak “.

Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Hindun binti ‘Utbah

HINDUN BINTI ‘UTBAH
Bahagia Dengan Hidayah Islam
Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Beliau seorang wanita yang pada masa jahiliyahnya adalah sangat benci terhadap Islam dan berdiri di barisan terdepan dalam memerangi Islam. Ia adalah Hindun binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan, dan juga ibu dari Kholifah Umawiyah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Hindun رضي الله عنها adalah seorang wanita cerdas dan terhormat, yang terlahir sebagai bangsawan Quroisy sehingga menjadikannya seorang wanita yang angkuh dan sangat keras kemauan, bahasanya fasih, ahli dalam bersyair, pandai menunggang kuda, mempunyai jati diri, dan mempunyai ide-ide cemerlang. Hindun adalah wanita yang sangat terkenal baik sebelum keislamannya maupun setelah itu.

SEBELUM KEISLAMANNYA

Kebencian Hindun binti ‘Utbah terhadap Islam mulai bersarang di hatinya dari awal munculnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersama dakwahnya. Dan setelah terjadinya Perang Badar, kebenciannya bertambah kuat dengan adanya dendam yang membara di hatinya kepada pembunuh ayah, paman dan saudara laki-laki nya di peperangan itu. Sampai-sampai ia bernadzar akan mengunyah-ngunyah jantung orang itu jika ia dapat membunuhnya.[1]

Hindun binti ‘Utbah yang telah dikuasai amarahnya, membuat rencana yang sangat matang untuk melampiaskan dendamnya terhadap pembunuh orang-orang terdekatnya itu. Untuk tugas membunuh ia serahkan kepada seorang budak yang bernama Wahsyi yang ia janjikan kebebasan bila berhasil membunuh musuhnya yang tak lain adalah Hamzah bin Abdil Muththolib, paman Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan saudara sesusuan beliau. Dan bila telah terbunuh maka ia sendiri yang akan mengambil jantungnya, untuk menunaikan nadzarnya yang gila itu.

Maka pada Perang Uhud niatnya itu terwujud dan terlaksana sesuai dengan apa yang ia rencanakan. Pada perang itu Hindun mendampingi suaminya yang memimpin barisan kaum musyrikin untuk menghadapi kaum muslimin.

Di sana Hindun mempunyai peran penting, yang mana ia memimpin para wanita untuk memberikan dukungan kepada suami dan kerabat mereka yang berperang menghadapi kaum muslimin dengan menabuh gendang dan melantunkan sya’ir-sya’ir. Dan bila ada pasukan yang ingin kabur atau mundur maka mereka mendorong mereka kembali ke medan perang.

Ketika Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, datanglah Hindun ke dekatnya dan langsung merobek perut Hamzah yang sudah tak bernyawa itu dan mengambil jantungnya lalu ia mengunyahnya kemudian memuntahkannya, sehingga ia dikenal dengan sebutan aakilatul akbaad (pemakan jantung). Tidak cukup dengan itu saja, ia juga mengambil hidung dan telinganya dan menjadikannya sebagai kalung. Baca pos ini lebih lanjut

Bilal: Muadzin Rasulullah

Di atas hamparan padang pasir kota Makkah, di bawah terik Matahari yang membakar kulit, Bilal yang hanya seorang budak tengah berjuang menghadapi siksaan dari sang majikan. Cambuk-cambuk orang kafir yang ketika itu mengoyak tubuhnya, namun hatinya tetap yakin akan keesaan Allah سبحانه و تعالى dan kebenaran Islam.

Bilal bin Rabah adalah seorang budak dari negeri Habasyah (Ethiopia). Ibunya bernama Hamamah. Walau hitam, Bilal memiliki suara emas yang sangat merdu dan keimanan sekuat baja. Sebelum beriman Bilal dibeli oleh Umayyah bin Khalaf agar bekerja untuknya. Umayyah sendiri menganggap Bilal adalah seorang budak yang tidak mempunyai hak apapun kecuali jika dirinya mengizinkan, termasuk hak untuk memeluk agama islam dan beriman kepada Allah عزّوجلّ  saja.

Ketika Bilal mengetahui tentang kenabian Muhammad صلى الله عليه وسلم, dirinya pun memenuhi panggilan itu dan masuk Islam. Berbeda dengan sang majikan yang lebih memilih tetap berpegang dengan ajaran nenek moyang mereka yang menyembah berhala. Tidak hanya itu, ketika Umayyah mengetahui tentang keislaman Bilal, ia menyiksa Bilal dengan segenap siksaan yang dapat ia lakukan, tidak diberi makan, dijemur di bawah terik matahari ataupun diikat lehernya dan diberikan kepada anak-anak Makkah untuk diseret ke manapun mereka suka, layaknya barang mainan. Tidak hanya itu, ketika amarah Umayyah memuncak, ia pun menyeret Bilal yang sudah tak berdaya ke pinggiran kota Makkah untuk dijemur seperti biasa. Baca pos ini lebih lanjut

Biografi Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i

Nasabnya:

Beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Syaikhul Islam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syarf bin Muriy bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah bin Hizaam An-Nawawi, dinasabkan dengan Kota Nawa sebuah dusun di daerah Hauran, Suria, dari Damaskus sekitar dua hari perjalanan. Beliau seorang bermadzhab Asy-Syafi’i, Syaikhul Madzhab dan seorang fuqaha besar di zamannya.

Lahir di bulan Muharam tahun 631 Hijriyah di desa Nawa dari dua orang tua yang shaleh. Ketika berumur sepuluh tahun mulai menghafal Al-Qur’an dan bacaan-bacaan fiqih pada para ulama di sana.

Keilmuan Beliau:

Baca pos ini lebih lanjut