Doa Agar Terjaga Dari Buruknya Perilaku

AGAR TERJAGA DARI BURUKNYA
PERILAKU ANGGOTA BADAN
Majalah As-Sunnah Ed. 11 Th. XIX 1437H/2016M

اللَّهُمَّ عَافِنِي مِنْ شَرِّ سَـمْعِي وَبَصَرِي وَلِسَانِي وَقَلْبِي وَ شَرِّ مَنِيِّي

Ya Allah Berilah aku keselamatan dari buruknya pendengaranku, penglihatanku, lidahku, dan hatiku, serta dari buruknya air maniku. (HR. An-Nasai, Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad)

Dalam riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, begitu pula dalam riwayat an-Nasa’i, Syakal bin Humaid berkata, “Wahai Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku doa yang bisa aku ambil manfaat darinya! Lalu Beliau menjawab: “Katakanlah…! Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyebutkan doa di atas.

Sedangkan dalam riwayat at-Tirmidzi, Syakal bin Humaid berkata kepada Nabi صلى الله عليه وسلم: “Wahai Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku doa perlindungan, aku meminta perlindungan dengannya! Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم menggamit tapak tanganku dan berkata, “Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَـمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari buruknya pendengaranku, buruknya penglihatanku, buruknya lidahku, dan dari buruknya hatiku serta buruknya air maniku. (HR. At-Tirmidzi)

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Syarah Keutamaan Dzikir (8)

Dari Abdullah bin Busr Radhiyallahu Anhu bahwa seorang pria berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِيْ بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak atas diriku, maka sampaikan kepadaku sesuatu yang aku harus selalu terikat dengannya? “Beliau menjawab, ‘Hendaknya selalu lisanmu basah karena dzikir kepada   Allah’.”[1]

Ungkapan إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ ‘sesungguhnya syariat Islam telah banyak atas diriku’ adalah bentuk jamak dari kata syariah, yaitu ‘jalan yang diridhai’, dengan kata lain, bahwa semua perkara islam telah banyak pada diriku, seperti: shalat, zakat, haji, puasa, jihad, dan lain sebagainya berupa berbagai macam amal badaniah dan yang berkaitan dengan harta serta menahan diri dari berbagai macam larangan, dan meninggalkan apa-apa yang di dalamnya berbagai macam hukuman dan kafarah … dan lain sebagainya.

Baca pos ini lebih lanjut

Ringan di Lisan Berat di Timbangan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kedua kalimat ini merupakan penyebab kecintaan Allah kepada seorang hamba.” Beliau juga berpesan, “Wahai hamba Allah, sering-seringlah mengucapkan dua kalimat ini. Ucapkanlah keduanya secara kontinyu, karena kedua kalimat ini berat di dalam timbangan (amal) dan dicintai oleh ar-Rahman, sedangkan keduanya sama sekali tidak merugikanmu sedikitpun sementara keduanya sangat ringan diucapkan oleh lisan, ‘Subhanallahi wabihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Maka sudah semestinya setiap insan mengucapkan dzikir itu dan memperbanyaknya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin, 3/446).

Baca pos ini lebih lanjut