Keutamaan Mendoakan Sesama Muslim Tanpa Sepengetahuannya

KEUTAMAAN MENDOAKAN KEBAIKAN SESAMA MUSLIM TANPA SEPENGETAHUANNYA
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِـمِثْلٍ

Dari Abu ad-Darda’ رضي الله عنه bahwa sesungguhnya  Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Do’a (kebaikan) seorang Muslim bagi saudaranya (sesama Muslim) di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) adalah mustajab (dikabulkan oleh Allah), di atas kepalanya ada malaikat yang ditugaskan (dengan perintah Allah untuk urusan ini), setiap kali dia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat yang ditugaskan itu berkata: “Amin (Ya Allah, kabulkanlah!) dan kamu juga akan mendapatkan (kebaikan) seperti itu”. (HR. Muslim no. 2733).

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Balasan Doa ‘Baarakallahu Fiika’

وَفِيْكَ بَارَكَ اللهُ

“Semoga Allah juga melimpahkan berkah kepadamu.”[1]

Ini adalah sebuah atsar dari Aisyah Radhiyallahu Anha.

Seutuhnya Aisyah Radhiyallahu Anha berkata,

أَهْدَيْتُ لِلرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةً، قَالَ: اِقْسِمِيْهَا، فَكَنْتُ إِذَا رَجَعَ الْخَادِمُ أَقُوْلُ: مَاقَالُوْا؟ قَالَ: يَقُوْلُوْنَ: بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ، فَأَقُوْلُ: وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ، نُرُدُّ عَلَيْهِمْ مِثْلَ مَا قَالُوْا، وَيَبْقَى أَجْرُنَا لَنَا

“Aku memberikan hadiah seekor kambing kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda, ‘Bagilah ia! Jika seorang pembantu pulang, aku selalu bertanya, ‘ Apa yang mereka katakan? Dia menjawab, ‘Mereka mengatakan: بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ ‘Semoga Allah memberkahi kalian semua.‘ Maka, kukatakan: وَفِيْهِمْ بَارَكَ اللهُ ‘Semoga Allah memberkahi mereka pula. Kami membalas ucapan mereka sebagaimana yang mereka ucapkan sehingga tetaplah pahala kami.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Kepada Pemberi Pinjaman Ketika Melunasi Hutang

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ، إِنَّمَا جَزَاءُ السَّلَفِ الْحَمْدُ وَاْلأَدَاءِ

“Semoga Allah memberikan berkah kepadamu dalam keluarga dan hartamu. Sesungguhnya balasan meminjamkan adalah pujian dan pembayaran.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Abu Rabi’ah Radhiyallahu Anhu.

Di dalamnya disebutkan ungkapannya Radhiyallahu Anhu,

اسْتَقْرَضَ مِنِّي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعِينَ أَلْفًا، فَجَاءُهُ مَالٌ فَدَفَعَهُ إِلَيَّ، وَقَالَ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Sholat Jenazah (2)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا. اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ

“Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup di antara kami dan yang mati, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir, anak-anak, dan orang dewasa, laki-laki maupun perempuan. Ya Allah, orang yang Engkau hidupkan di antara kami hidupkanlah dia dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan dia dengan memegang keimanan. Ya Allah, jangan Engkau menghalangi kami untuk memperoleh pahalanya dan janganlah Engkau sesatkan kami sepeninggalnya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا ‘anak-anak, dan orang dewasa’. Ibnu Hajar Al-Makki Rahimahullah berkata, “Do’a untuk anak kecil adalah untuk meningkatkan derajat.”

Ungkapan وَشَاهِدِنَا artinya ‘yang hadir di antara kami’.

Ath-Thibi Rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan keterangan yang empat itu, yakni ungkapan: لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا ‘yang masih hidup dan gang telah mati, yang hadir dan yang tidak hadir, anak-anak, dan orang dewasa, gang laki-laki dan gang perempuan‘ adalah untuk menunjukkan cakupan sehingga tidak perlu dibawa kepada makna takhshish ‘pengkhususan’ dengan melihat kosakata dalam susunan itu. Seakan-akan beliau bersabda, “Ya Allah, ampunilah semua kaum Muslimin dan kaum Muslimat.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Berdoa Untuk Orang yang Memberi Makanan atau Minuman

اَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِيْ، وَاسْقِ مَنْ سَقَانِيْ

“Ya Allah, berilah makan kepada orang yang memberiku makanan, dan berilah minum kepada orang yang memberiku minuman.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Al-Miqdad bin Al-Aswad Radhiyallahu Anhu.

Sedangkan seutuhnya hadits ini adalah darinya Radhiyallahu Anhu sebagai berikut:

أَقْبَلْتُ أَنَا وَصَاحِبَانِ لِي وَقَدْ ذَهَبَتْ أَسْمَاعُنَا وَأَبْصَارُنَا مِنْ الْجَهْدِ فَجَعَلْنَا نَعْرِضُ أَنْفُسَنَا عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْهُمْ يَقْبَلُنَا فَأَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ بِنَا إِلَى أَهْلِهِ فَإِذَا ثَلَاثَةُ أَعْنُزٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَلِبُوا هَذَا اللَّبَنَ بَيْنَنَا قَالَ فَكُنَّا نَحْتَلِبُ فَيَشْرَبُ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنَّا نَصِيبَهُ وَنَرْفَعُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصِيبَهُ قَالَ فَيَجِيءُ مِنْ اللَّيْلِ فَيُسَلِّمُ تَسْلِيمًا لَا يُوقِظُ نَائِمًا وَيُسْمِعُ الْيَقْظَانَ قَالَ ثُمَّ يَأْتِي الْمَسْجِدَ فَيُصَلِّي ثُمَّ يَأْتِي شَرَابَهُ فَيَشْرَبُ فَأَتَانِي الشَّيْطَانُ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَقَدْ شَرِبْتُ نَصِيبِي فَقَالَ مُحَمَّدٌ يَأْتِي الْأَنْصَارَ فَيُتْحِفُونَهُ وَيُصِيبُ عِنْدَهُمْ مَا بِهِ حَاجَةٌ إِلَى هَذِهِ الْجُرْعَةِ فَأَتَيْتُهَا فَشَرِبْتُهَا فَلَمَّا أَنْ وَغَلَتْ فِي بَطْنِي وَعَلِمْتُ أَنَّهُ لَيْسَ إِلَيْهَا سَبِيلٌ قَالَ نَدَّمَنِي الشَّيْطَانُ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا صَنَعْتَ أَشَرِبْتَ شَرَابَ مُحَمَّدٍ فَيَجِيءُ فَلَا يَجِدُهُ فَيَدْعُو عَلَيْكَ فَتَهْلِكُ فَتَذْهَبُ دُنْيَاكَ وَآخِرَتُكَ وَعَلَيَّ شَمْلَةٌ إِذَا وَضَعْتُهَا عَلَى قَدَمَيَّ خَرَجَ رَأْسِي وَإِذَا وَضَعْتُهَا عَلَى رَأْسِي خَرَجَ قَدَمَايَ وَجَعَلَ لَا يَجِيئُنِي النَّوْمُ وَأَمَّا صَاحِبَايَ فَنَامَا وَلَمْ يَصْنَعَا مَا صَنَعْتُ قَالَ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ كَمَا كَانَ يُسَلِّمُ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى شَرَابَهُ فَكَشَفَ عَنْهُ فَلَمْ يَجِدْ فِيهِ شَيْئًا فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقُلْتُ الْآنَ يَدْعُو عَلَيَّ فَأَهْلِكُ فَقَالَ اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي، وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِي قَالَ فَعَمَدْتُ إِلَى الشَّمْلَةِ فَشَدَدْتُهَا عَلَيَّ وَأَخَذْتُ الشَّفْرَةَ فَانْطَلَقْتُ إِلَى الْأَعْنُزِ أَيُّهَا أَسْمَنُ فَأَذْبَحُهَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هِيَ حَافِلَةٌ وَإِذَا هُنَّ حُفَّلٌ كُلُّهُنَّ فَعَمَدْتُ إِلَى إِنَاءٍ لِآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانُوا يَطْمَعُونَ أَنْ يَحْتَلِبُوا فِيهِ قَالَ فَحَلَبْتُ فِيهِ حَتَّى عَلَتْهُ رَغْوَةٌ فَجِئْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَشَرِبْتُمْ شَرَابَكُمُ اللَّيْلَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ اشْرَبْ فَشَرِبَ ثُمَّ نَاوَلَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ اشْرَبْ فَشَرِبَ ثُمَّ نَاوَلَنِي فَلَمَّا عَرَفْتُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ رَوِيَ وَأَصَبْتُ دَعْوَتَهُ ضَحِكْتُ حَتَّى أُلْقِيتُ إِلَى الْأَرْضِ قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى سَوْآتِكَ يَا مِقْدَادُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَانَ مِنْ أَمْرِي كَذَا وَكَذَا وَفَعَلْتُ كَذَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذِهِ إِلَّا رَحْمَةٌ مِنْ اللَّهِ أَفَلَا كُنْتَ آذَنْتَنِي فَنُوقِظَ صَاحِبَيْنَا فَيُصِيبَانِ مِنْهَا قَالَ فَقُلْتُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُبَالِي إِذَا أَصَبْتَهَا وَأَصَبْتُهَا مَعَكَ مَنْ أَصَابَهَا مِنْ النَّاسِ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Doa Bagi Orang yang Mengenakan Pakaian Baru (2)

اِلْبَسْ جَدِيْدًا، وَعِشْ حَمِيْدًا، وَمُتْ شَهِيْدًا

“Berpakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan syahid.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan اِلْبَسْ جَدِيْدًا  ‘berpakaian yang baru’ adalah bentuk perintah, namun yang dimaksudkan dengan ungkapan itu sebagai do’a: kiranya Allah Ta’ala menganuge-rahkan pakaian baru. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan do’a yang demikian ketika meiihat umar yang mengenakan baju putih. Maka, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya,

ثَوْبُكَ هَذَا غَسِيلٌ أَمْ جَدِيدٌ فَقَالَ: لَا، بَلْ غَسِيلٌ قَالَ صلى الله عليه وسلم: الْبَسْ جَدِيدًا

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Doa Bagi Orang yang Mengenakan Pakaian Baru (1)

تُبْلِي وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى

“Kenakanlah sampai lusuh, semoga Allah Ta’ala memberikan gantinya kepadamu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan تُبْلِي berasal dari kata: الْإِبْلاَءُ dengan kata lain ‘lusuh’ yang dimaksud adalah mengenakan pakaian itu hingga lusuh dan menjadi gombal.

Ungkapan وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى ‘Allah Ta’ala memberikan gantinya’ dengan kata lain, pakaian yang rusak itu diganti dengan yang lebih baik.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ditakhrij Abu Dawud, (4/41), no. 4020. Dan lihat Shahih Abu Dawud (2/760).