Syarah Doa Ketika Kendaraan Tergelincir

بِسْمِ اللهِ

“Dengan nama Allah.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits ini adalah ungkapannya Radhiyallahu Anhu,

كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَثَرَتْ دَابَّةٌ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ بِقُوَّتِي وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

“Aku sedang dibonceng oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang tiba-tiba binatang tunggangannya terpeleset. Aku mengatakan, ‘Binasalah syetan.’ Maka, beliau bersabda, ‘Jangan katakan, ‘Binasalah syetan’, karena jika engkau lakukan itu dia akan menjadi besar sehingga seperti rumah dan dia akan mengatakan, ‘Karena kekuatanku.’ Akan tetapi, katakan: بِسْمِ اللهِ ‘Dengan nama Allah’. Karena jika engkau lakukan demikian, dia akan menjadi kecil sehingga seperti lalat.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Naik Kendaraan

بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Dengan nama Allah. Segala puji bagi Allah. ‘Mahasuci Tuhan Yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hart Kiamat) (QS. Az-Zukhruf: 13-14). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Mahabesar (3x), Mahasuci Engkau, ya Allah, sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan ayat سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا dengan kata lain, Allah Mahasuci Yang telah menjadikan ini terkendali dan patuh kepada kami.

Ungkapan ayat وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ dengan kata lain mampu, dan juga dikatakan menguasai.

Ungkapan ayat وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ dengan kata lain, kembali kepada-Nya di akhirat, juga berangkat untuk kembali.

Ungkapan إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ‘sesungguhnya aku telah zalim kepada diriku sendiri‘ adalah pengakuan memiliki keterbatasan dan dosa.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 501-502 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Abu Dawud. (3/34). no. 2602; dan At-Tirmidzi, (5/501). no. 3446. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/156).