Syarah Doa Seorang Musafir di Waktu Sahur

سَمَّعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللهِ، وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا. رَبَّنَا صَاحِبْنَا، وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ

“Semoga ada yang memperdengarkan puji kami kepada Allah dan cobaan-Nya Yang baik bagi kami. Wahai Tuhan kami, temanilah kami (peliharalah kami) dan berilah karunia kepada kami dengan berlindung kepada Allah dan api neraka”.[1]

Ungkapan سَمَّعَ سَامِعٌ menurut An-Nawawi Rahimahullah diriwayatkan dengan dua bentuk: Pertama, huruf mim berharakat fathah dan bertasydid. Kedua, huruf mim berharakat kasrah tanpa tasydid.

Arti سَمِعَ سَامِعٌ adalah seorang saksi yang memberikan kesaksian atas pujian kami kepada Allah Ta’ala atas berbagai nikmat-Nya dan cobaan-Nya yang baik.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Ketika Kendaraan Tergelincir

بِسْمِ اللهِ

“Dengan nama Allah.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits ini adalah ungkapannya Radhiyallahu Anhu,

كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَثَرَتْ دَابَّةٌ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ بِقُوَّتِي وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

“Aku sedang dibonceng oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang tiba-tiba binatang tunggangannya terpeleset. Aku mengatakan, ‘Binasalah syetan.’ Maka, beliau bersabda, ‘Jangan katakan, ‘Binasalah syetan’, karena jika engkau lakukan itu dia akan menjadi besar sehingga seperti rumah dan dia akan mengatakan, ‘Karena kekuatanku.’ Akan tetapi, katakan: بِسْمِ اللهِ ‘Dengan nama Allah’. Karena jika engkau lakukan demikian, dia akan menjadi kecil sehingga seperti lalat.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Takbir dan Tasbih dalam Perjalanan

قال جابر رضي الله عنه: كُنَّا إِذَا صَعَدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

“Jabir Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Apabila kami menanjak, membaca takbir, dan apabila kami turun, membaca tasbih’”.[1]

Ungkapan كُنَّا إِذَا صَعَدْنَا ‘apabila kami berjalan naik’, dengan kata lain, setiap kami menanjak di tempat-tempat yang tinggi di muka bumi, maka kami mengucapkan اللهُ أَكْبَرُ ‘Allah Mahabesar‘.

Ungkapan وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا ‘dan apabila kami turun membaca tasbih’, dengan kata lain, setiap kami menurun di tempat-tempat yang rendah di muka bumi, maka kami mengucapkan سُبْحَانَ اللهِ ‘Mahasuci Allah‘.

Bertakbir ketika berada di tempat yang tinggi adalah untuk menunjukkan rasa adanya kebesaran Allah Ta’ala dan keagungan-Nya. Sedangkan bertasbih ketika berada di tempat yang rendah adalah untuk menunjukkan rasa menjauhkan Allah Ta’ala dari segala macam kekurangan.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 518 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Al-Bukhari dalam Fathul Bari (6/135) no. 2993.

Syarah Doa Orang Mukim Untuk Musafir (2)

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُ مَا كُنْتَ

“Semoga Allah membekalimu ketakwaan, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkan kebaikan kepadamu di mana pun kamu berada.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Hadits seutuhnya adalah ungkapan Anas Radhiyallahu Anhu,

رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِي قَالَ زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى قَالَ زِدْنِي قَالَ وَغَفَرَ ذَنْبَكَ قَالَ زِدْنِي بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي قَالَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Datang seorang pria kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lain berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku hendak bepergian, maka bekalilah aku.’ Maka, beliau bersabda, ‘Semoga Allah membekalimu ketakwaan.’ Pria itu berkata lagi, ‘Tambahilah.’ Beliau bersabda, ‘Dan semoga Allah mengampuni dosa-dosamu.’ Pria itu berkata lagi, ‘Tambahilah.’ Beliau bersabda, ‘Dan semoga memudahkan kebaikan untukmu di mana pun kamu berada'”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Orang Mukim Untuk Musafir (1)

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

“Kutitipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan perbuatanmu yang terakhir.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma.

Dalam hadits ini Salim bin Abdullah bin Umar berkata,

كَانَ ابْنُ عُمَرَ رضي الله عنهما يَقُوْلُ لِلرَّجُلِ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا: اُدْنُ مِنِّى أُوَدِّعُكَ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَدِّعُنَا، فَيَقُولُ:

“Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata kepada seseorang jika hendak bepergian, ‘Kemari mendekatlah kepadaku agar kutitipkan engkau sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menitipkan kami, lalu beliau bersabda ……”

Imam Al-Khaththabi Rahimahullah berkata, “Amanah di sini adalah keluarga dan semua yang dia tinggalkan serta hartanya yang mana dia menjaga amanat berkenaan dengan harta itu.” Dia berkata, “Disebutkan agama di sini karena bepergian adalah banyak diyakini menimbulkan berbagai macam kesulitan. Bisa saja menjadi sebab timbulnya sikap menyepelekan sebagian perkara agama.”[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 515-516 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ahmad (2/7), At-Tirmidzi (5/499) no. 3443.  Lihat Shahih Al-Tirmidzi (2/155).

Syarah Doa Seorang Musafir Untuk yang Mukim

أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِيْ لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ

“Kutitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Dalam hadits ini disebutkan sabdanya Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يُسَافِرَ فَلْيَقُلْ لِمَنْ يُخَلَّفُ…

“Siapa saja yang hendak bepergian hendaknya mengucapkan kepada siapa saja yang akan ditinggalkan …..”

Ungkapan فَلْيَقُلْ لِمَنْ يُخَلَّفُ ‘hendaknya mengucapkan kepada siapa saja yang akan ditinggalkan’, yakni dari para keluarganya dan orang-orang yang dia cintai.

Ungkapan أَسْتَوْدِعُكُمُ ‘titipkan kalian kepada Allah’, kumohonkan penjagaan untuk kalian semua kepada Allah Ta’ala. Kujadikan kalian semua dalam penjagaan dan pemeliharaan Allah Ta’ala.

Ungkapan وَدَائِعُهُ ‘semua titipan pada-Nya’ adalah bentuk jamak dari kata وَدِيْعَة yang aslinya merupakan nama bagi harta yang tertinggal pada seseorang. Dari kata وَدَعَ yang artinya ‘meninggalkan’.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 513-514 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ahmad. (2/403), Ibnu Majah. (2/943). no. 2825. Lihat Shahih Ibnu Majah. (2/133).

Doa Musafir Menjelang Subuh

سَمَّعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللهِ، وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا. رَبَّنَا صَاحِبْنَا، وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ

“Semoga ada yang memperdengarkan puji kami kepada Allah (atas nikmat) dan cobaan-Nya yang baik bagi kami. Wahai Tuhan kami, temanilah kami (peliharalah kami) dan berilah karunia kepada kami dengan berlindung kepada Allah dari api Neraka.” (HR. Muslim)

Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani

Doa Safar [Bepergian]

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ

“Ya Allah, kami mohon kepadamu dalam perjalanan ini kebajikan katakwaan dan amal yang Engkau ridhoi Ya Allah, ringankanlah atas kami perjalanan ini, dekatkanlah jaraknya perjalanan ini, Ya Alloh Engkaulah temanku dalam perjalanan ini dan Engkaulah sebagai pengganti yang melindungi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari pada kesusahan perjalanan ini, dari pemandangan yang menyakitkan dan dari nasib yang sial dalam harta dan keluarga.” (HR. Muslim)

Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
Doa-doa oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Doa Musafir Kepada Orang yang Ditinggalkan dan Sebaliknya

Doa Musafir Kepada Orang yang Ditinggalkan:

أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِيْ لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ

“Aku menitipkan kamu kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya.”[1]

Doa Orang yang Ditinggalkan Kepada Musafir

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

“Aku menitipkan agamamu, amanatmu dan perbuatanmu yang terakhir kepada Allah.”[2]

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُ مَا كُنْتَ

“Semoga Allah memberi bekal taqwa kepadamu, mengampuni dosamu dan memudahkan kebaikan kepadamu di mana saja kamu berada.” [3]


[1] HR. Ahmad 2/403, Ibnu Majah 2/943, dan lihat Shahih Ibnu Majah 2/133
[2] HR. At-Tirmidzi 2/7, At-Tirmidzi 5/499, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 2/155
[3] HR. At-Tirmidzi, lihat Shahih At-Tirmidzi 3/155


Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
Doa-doa oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu