Doa Nabi Zakariyya Memohon Anak Sholeh

DOA NABI ZAKARIYYA عليه السلام
MEMOHON KETURUNAN YANG SHALIH
Majalah as-Sunnah Ed. 12 Th. XX_1438H/2017M, hal.1.

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء

Wahai Rabbku! Berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. (QS. Ali Imran/3: 38).

Ini adalah doa Nabi Zakariya عليه السلام. Tatkala Allah عزّوجلّ memberi rezeki kepada Maryam buah-buahan tidak pada musimnya; buah-buahan musim dingin tersedia pada musim panas terik, dan buah-buahan musim panas tersedia di musim dingin. Melihat itu, Zakariya عليه السلام sangat tergerak untuk mendapatkan anak. Padahal usianya sudah tua, demikian juga istrinya, bahkan dia mandul. Namun ia sadar, bahwa Dzat yang mendatangkan itu semua untuk Maryam, pasti berkuasa memberinya anak.

Nabi Zakariyya عليه السلام berdoa kepada Rabbnya agar dianugerahi keturunan yang baik; baik akhlak dan adabnya, agar nikmat agama dan dunia menjadi sempurna dengan keberadaan mereka.

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Rasulullah Pada Perang Ahzab

Kelompok yang memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Ahzab terdiri dari lima golongan, yaitu kaum musyrik dari ahli Mekah, kabilah-kabilah Arab, orang-orang Yahudi dari luar kota Madinah, Bani Quraidlah dan orang-orang munafiq, di mana jumlah orang-orang kafir di perang Khandaq/Ahzab sebanyak 10.000, dan kaum Muslim bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 3.000, dan mereka telah mengepung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sebulan dan tidak terjadi di antara mereka peperangan kecuali apa yang terjadi pada Amr Ibnu Wudd al-‘Amiri dan Ali Ibnu Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Ali langsung membunuhnya, dan perang ini terjadi pada tahun keempat hijriah. (Zadul Ma’ad, 3/ 274).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اللَّهُمَّ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

“Ya Allah, yang menurunkan kitab, yang cepat penghisaban-Nya, hancurkanlah kelompok-kelompok itu, ya Allah, hancurkanlah mereka dan goncangkanlah mereka.” (HR al-Bukhari).

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Rasulullah Saat Perang Badar

Dari Umar Ibnu Khaththab radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Ketika Perang Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kepada kaum musyrikin dan mereka berjumlah seribu orang sedangkan para sahabatnya berjumlah tiga ratus sembilan belas orang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke kiblat, mengangkat tangan berdo’a kepada Rabbnya:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ

“Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, datangkanlah apa yang telah engkau janjikan kepadaku, ya Allah, jika Engkau hancurkan kelompok Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini.”

Maka terus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat kedua tangan menghadap kiblat, sampai terjatuh selendangnya dari kedua bahunya, maka datanglah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan mengambil selendangnya serta memasangkan kembali di atas pundaknya dan menguatkan di belakangnya sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi bagimu apa-apa yang telah dijanjikan kepadamu.” Maka turunlah ayat:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Rasulullah Untuk Urwah Ibnu Abu al-Ja’di al-Bariqi

Kisahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi beliau satu dinar untuk membeli seekor kambing, lalu dibelikannya dengan uang tadi dua ekor kambing, maka dia jual salah satu kambing itu dengan satu dinar, lantas dia datang kepada Nabi dengan uang satu dinar dan seekor kambing, maka Nabi mendo’akannya agar mendapat barokah dalam berjual beli dan kalaulah dia membeli tanah pasti dia akan mendapatkan keuntungan di dalamnya. (HR. al-Bukhari).

Dan di dalam Musnad Ahmad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a untuknya:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِيْ صَفْقَةِ يـَمِيْنِهِ

“Ya Allah, berkahilah dia di dalam barang jualannya.”

Maka dia berdomisili di Kuffah dan dia mendapatkan untung 40 ribu sebelum dia kembali ke keluarganya. (HR. Ahmad).[]

Disalin dari Kitab Agar Doa Dikabulkan Karya Syaikh Said bin Ali Wahf al-Qahthani pada Pasal V: Perhatian para Rasul terhadap do’a dan Allah Memperkenankan do’a mereka, hal. 94-95, Penerbit Darul Haq-Jakarta.

Doa Nabi Muhammad dan Para Sahabatnya

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ. وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Anfal/8: 9-10).

Firman Allah Azza wa Jalla,

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلاثَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُنْزَلِينَ. بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُسَوِّمِينَ. وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ.

Baca pos ini lebih lanjut

Istigfar Nabi Yunus عليه السلام

Allah عزّوجلّ menyebutkan pula tentang Yunus عليه السلام:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ.

“Dan Dzunnun (sahabat Ikan) ketika pergi dalam keadaan marah, dan dia mengira kami tidak menetapkan atasnya, maka dia menyeru dalam kegelapan, bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang zhalim. Maka Kami mengabulkan untuknya dan menyelamatkannya dari kegundahan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiyaa/21′: 87-88)

Ayat-ayat di atas mencakup taubat para nabi عليهم السلام,  istighfar mereka, keagungan taubat mereka kepada Allah عزّوجلّ. Allah عزّوجلّ telah menyebutkannya di kitab-Nya dalam rangka sanjungan atas mereka, penjelasan keutamaan mereka, dan kesempurnaan mereka, agar manusia mengikuti mereka dan meneladani mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata. “Dan Allah عزّوجلّ mengisahkan kepada kita kisah-kisah taubat para  nabi,  agar kita meneladani mereka dalam pertaubatan.” (Majmu’ al-Fatawa, 15/180)

Betapa indah bagi seorang Muslim mencermati kisah-kisah mulia ini dan keadaan agung yang berada di atasnya manusia-manusia pilihan para nabi Allah عزّوجلّ dan rasul-rasulNya. Lalu menjadikan mereka sebag-tauladan dalam menetapi taubat kepada Allah عزّوجلّ, kembali kepadaNya, dan  memperbanyak istighfar, Sungguh yang demikian  itu terdapat ketinggian derajat, kesinambungan kebaikan, dan banyaknya pemberian. Sungguh Allah عزّوجلّ menyukai orang-orang bertaubat dan menyukai orang-orang membersihkan diri.[]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 416.

Istigfar Nabi Musa عليه السلام

Begitu pula Allah عزّوجلّ menyebutkan istighfar nabi-Nya Musa عليه السلام. Diatara hal itu adalah firman Allah عزّوجلّ tentang Musa عليه السلام:

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, sungguh aku menzhalimi diriku, berilah ampunan untukku,’ maka Dia memberi ampunan kepada-nya. Sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Qashshash/28: 16)

Dan Musa عليه السلام berkata pula:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

‘Wahai Rabbku. berilah ampunan untukku dan untuk saudaraku, dan masukkanlah kami dalam rahmat-Mu, dan Engkau Maha Penyayang di antara yang penyayang,” (QS. Al-A’raf/7: 151)

Dan Musa عليه السلام berkata:

سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Mahasuci Engkau, aku bertauhat kepada-Mu, dan aku termasuk orang-orang beriman yang pertama.” (QS. Al-A’raf/7: 143)

Baca pos ini lebih lanjut

Istigfar Nabi Ibrahim عليه السلام

Allah عزّوجلّ menyebutkan juga istighfar Ibrahim Al-Khalil عليه السلام. Allah عزّوجلّ menyebutkan bahwa beliau berkata:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Wahai Rabb kami, berilah ampunan untukku, dan untuk kedua orangtuaku, dan untuk orang-orang beriman, pada hari ditegakkan hisab.” (QS. Ibrahim/14: 41)

Dan firman-Nya:

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

“Dan yang aku sangat harapkan adalah diberi ampunan untukku dari kesalahan-kesalahanku pada hari pembalasan.” (QS. Asy-Syu’araa’/26: 82),

Dan firman-Nya:

وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan perlihatkan kepada kami manasik-manasik kami, dan terimalah taubat kami, sungguh, Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah/2: 128)[]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 413.

Istigfar Nabi Nuh عليه السلام

Allah عزّوجلّ menyebutkan pula tentang Nuh عليه السلام ketika memohon pada Rabbnya dan menyeru kepada-Nya:

إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

“Sungguh anakku ini termasuk keluargaku, dan sungguh janji-Mu adalah haq, dan Engkau hakim paling bijak.” (QS. Hud/11: 45)

Ketika itu Nuh عليه السلام dihinggapi belas kasih terhadap anaknya, sementara Allah عزّوجلّ telah menjanjikan baginya keselamatan keluarganya, maka beliau عليه السلام mengira janji itu berlaku umum bagi yang beriman dan yang tidak beriman, dan karena itu beliau berdoa seperti ini. Maka Allah عزّوجلّ berfirman kepadanya:

يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Nuh, sungguh ia bukan termasuk keluargamu, sungguh ia berada di atas amal tidak shalih, maka janganlah minta pada-Ku apa yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, sungguh Aku menasihatimu agar engkau tidak menjadi orang-orang yang bodoh (QS. Hud/11: 46)

Akhirnya beliau عليه السلام menyesal atas apa yang telah terjadi lalu memohon kepada Rabbnya maaf dan pengampunan:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, sungguh aku berlindung dengan-Mu untuk mohon kepada-Mu apa yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya, dan jika Engkau tidak mengampuniku dan tidak merahmatiku niscaya aku termasuk mereka yang merugi.'” (QS. Hud/11: 47)

Inilah istighfar dan taubat dari beliau عليه السلام.[]

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 412-413.

Istigfar Nabi Adam عليه السلام

Allah عزّوجلّ telah  menyebutkan  dalam  kitab-Nya Al-Qur’an yang mulia. tentang para nabi dan rasul-Nya عليهم السلام, berupa kesempurnaan peribadatan   mereka, kesempurnaan penghinaan diri mereka, ketundukan mereka, dan kepasrahan mereka kepada Rabb semesta alam. Mereka dalam kebaikan sebagai penuntun dan bagi orang-orang mendapat   perunjuk   di   antara   hamba-hambaNya sebagai teladan dan panutan. Di samping kesempurnaan ini, mereka terus-menerus dalam taubat   dan   istighfar.   kembali   kepada   Maha   Perkasa   lagi   Maha Pengampun, Ajiah عزّوجلّ telah menyebutkan di sejumlah tempat dalam Al-Qur’an tentang para nabi. permohonan ampunan mereka, serta taubat mereka kepada Allah عزّوجلّ. Di antara hal itu adalah apa yang disebutksn Allah عزّوجلّ berkenaan dengan nabi Adam عليه السلام. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ. فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ. فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam, tinggallah Engkau dan istrimu di surga, dan makanlah oleh kamu berdua darinya sepuasnya, dimana saja kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga kamu berdua menjadi orang-orang zhalim.    Maka    setan    menggelincirkan    keduanya    darinya, ia mengeluarkan  mereka  berdua  dari apa yang keduanya  berada padanya, dan Kami berfirman.  ‘Turunlah kalian, sebagian kalian menjadi musuh atas sebagian yang lain, dan untuk kamu di bumi tempat tinggal serta kesenangan hingga waktu tertentu.’ Adam pun menerima dari Rabbnya beberapa kalimat dan Dia pun menerima taubatnya.   Sungguh   Dia   Maha   Penerima   taubat   lagi  Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah/2: 35-37)

Dan firman-Nya dalam ayat lain:

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ. فَدَلاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ. قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Dan wahai Adam, tinggatlah engkau dan istrimu di surga, dan makanlah kamu berdua dari mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak termasuk orang-orang zhalim. Setan memberi waswas kepada keduanya untuk menampakkan bagi keduanya apa yang ditutupi dari kemaluan keduanya, dan setan berkata, ‘Tidaklah kamu berdua dilarang oleh Rabb kamu dari pohon ini, melainkan agar kamu berdua (tidak) menjadi dua malaikat atau kamu berdua menjadi mereka yang kekal. Dia bersumpah pada keduanya, ‘Sungguh aku bagi kamu berdua termasuk para pemberi nasihat’ Dia merayu keduanya dengan tipu daya. Keduanya mencicipi pohon itu, tampaklah kemaluan keduanya, dan mulailah keduanya menutupi atas keduanya dengan daun-daun surga, dan keduanya diseru oleh Rabb mereka berdua, ‘Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu, dan Aku katakan kepada kamu berdua; sungguh setan bagi kamu berdua adalah musuh yang nyata.’ Keduanya berkata. ‘Wahai Rabb kami, kami telah menzhaiimi diri-diri kami, dan jika Engkau tidak mengasihi kami. niscaya kami benar-benar termasuk mereka yang merugi.’” (QS. Al-A’raf/7: 20-23).

Dan firman-Nya:

وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى. ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى.

“Dan Adam durhaka kepada Rabbnya maka dia menyimpang. Kemudian Rabbnya memilihnya dan menerima taubatnya serta memberinya petunjuk.” (QS. Thaha/20: 121-122)

Disalin dari Fikih Do’a dan Dzikir Jilid 2, pada bab ‘Istigfar Para Nabi عليهم السلام’, Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Terbitan Griya Ilmu-Jakarta, hal. 410-412.