Syarah Doa Naik Kendaraan

بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Dengan nama Allah. Segala puji bagi Allah. ‘Mahasuci Tuhan Yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hart Kiamat) (QS. Az-Zukhruf: 13-14). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Mahabesar (3x), Mahasuci Engkau, ya Allah, sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan ayat سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا dengan kata lain, Allah Mahasuci Yang telah menjadikan ini terkendali dan patuh kepada kami.

Ungkapan ayat وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ dengan kata lain mampu, dan juga dikatakan menguasai.

Ungkapan ayat وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ dengan kata lain, kembali kepada-Nya di akhirat, juga berangkat untuk kembali.

Ungkapan إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ‘sesungguhnya aku telah zalim kepada diriku sendiri‘ adalah pengakuan memiliki keterbatasan dan dosa.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 501-502 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Abu Dawud. (3/34). no. 2602; dan At-Tirmidzi, (5/501). no. 3446. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/156).

Doa Naik Kenderaan

بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Aku pergi dengan nama Allah dan segala puji bagiNya. Maha suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami dan tidak ada daya bagi kami untuk menundukkannya dan hanya kepada Allah kami kembali, kemudian membaca Alhamdulillah tiga kali, Allahu akbar tiga kali. Maha Suci Engkau ya Allah, sungguh aku telah menganiaya diriku sendiri, berilah aku ampunan. Sungguh tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Hasan Shahih)

Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
Doa-doa oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu