eBook Syarah Dzikir Pagi dan Petang

Nama eBook: Syarah Dzikir Pagi dan Petang
Pensyarah: Madji bin Abdul Wahhab Ahmad
Penulis dan Korektor: Syaikh Sa’id bin Ali Wahf al-Qahthani

Pengantar:

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Sebagai seorang muslim kita mengetahi bahwa salah satu amalan yang sangat baik adalah ‘berdzikir kepada Allah ta’ala’,  mengingat Allah adalah sebab kita diingat pula oleh Allah Azza wa Jalla, salah satu dzikir yang dianjurkan untuk diamalkan adalah Dzikir Pagi dan Petang, dimana keutamaannya secara umum disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari usai shalat shubuh hingga terbit matahari, lebih kusukai daripada memerdekakan empat orang keturunan Ismail. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari usai shalat ashar hingga terbenam matahari, lebih kusukai daripada memerdekakan empat (orang budak).”

Setelah sebelumnya kami posting eBook Dzikir Pagi dan Petang karya Syaikh Sa’id bin Ali Wahf al-Qahthani, maka dikesempatan ini kami posting pula syarah-nya, semoga semakin menambah semangat kita untuk mengamalkannya, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDF atau Download Word

Doa Pada Malam Al-Qadar

Sungguh dalam setahun terdapat hari-hari utama dan waktu-waktu mulia. Berdoa padanya lebih utama dan pengabulan padanya lebih patut serta penerimaan padanya lebih diharapkan. Bagi-Nya عزّوجلّ hikmah yang tinggi. “Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih.” (Al-Qashshash/28: 68). Kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya. serta kecukupan iimu dan peliputan-Nya. menjadikan Dia memilih apa yang Dia kehendaki dari waktu-waktu, tempat-tempat, dan individu-individu. Dia mengkhususkan hal-hal itu dengan tambahan karunia-Nya, besarnya penjagaan-Nya, dan kecukupan anugerah-Nya.

 Ini adalah sebesar-besar tanda rububiyah-Nya, seagung-agung bukti atas keesaan-Nya, dan ketunggalan-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan. Semua urusan adalah milik-Nya عزّوجلّ, baik yang dahulu maupun yang akan datang. Dia عزّوجلّ menetapkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia sukai, dan memberi keputusan pada mereka dengan apa yang Dia inginkan:

فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الأرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Bagi Allah segala pujian, Rabb langit dan Rabb bumi serta Rabb seluruh alam. Bagi-Nya keangkuhan di langit dan di bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Jatsiyah/45: 36-37)

Sungguh di antara apa yang dikhususkan Allah عزّوجلّ  dari waktu-waktu dengan tambahan karunia-Nya dan limpanan kemuliaan-Nya, adalah bulan Ramadhan. di mana Allah عزّوجلّ telah melebihkannya atas semua bulan. Begitu pula sepuluh terakhir dari malam-malamnya, di mana Allah telah melebihkannya atas semua malam. Lalu malam Al-Qadar, dimana Allah عزّوجلّ menjadikan padanya dari karunia-Nya di sisi-Nya, dan kedudukannya lebih baik daripada seribu bulan. Allah عزّوجلّ membesarkan perkaranya, meninggikan urasannya, menaikkan kedudukannya di sisi-Nya. Dia menurunkan padanya wahyu-Nya yang nyata, kalam-Nya yang mulia, dan kitab-Nya yang penuh hikmah. Petunjuk bagi orang-orang bertakwa dan pembeda bagi orang-orang beriman serta sinar, cahaya. dan rahmat.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Dzikir (5)

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (Muttafaq alaih)[1]

Shahabi hadits di atas adalah Abu Musa Al-Asyari Abdullah bin Qais Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan مَثَلُ الَّذِيْ ‘perumpamaan orang yang’ adalah perumpamaan orang yang يَذْكُرُ رَبَّهُ ‘berdzikir kepada Rabbnya’ dengan suatu macam dari berbagai macam dzikir.

Wajh tasybiih ‘bentuk keserupaan’ antara orang mati dan orang lalai adalah masing-masing keduanya tiada manfaat dan pemanfaatan. Bisa juga yang dimaksud ungkapan الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ ‘orang hidup dan orang mati’ adalah yang ada dan yang tiada. Sehingga orang yang berdzikir sama dengan orang yang ada; sedangkan orang yang lalai sama dengan orang yang tiada. Sebagaimana halnya yang ada memiliki buah-buahnya, maka demikian juga orang yang berdzikir memiliki buah-buahnya di dunia dan di akhirat. Dan sebagaimana yang tiada tidak memiliki sesuatu apa-pun, maka sedemikian pula orang yang lalai tidak memiliki sesuatu apa pun, baik di dunia ataupun di akhirat.

Kemudian perumpamaan pada perkataan mereka itu berarti perbandingan.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 62-63.


[1]   Al-Bukhari dalam Fathul Bari, (11/208), hadits ini darinya no. 6407; dan Muslim, (1/539), no. 779, dengan lafazh:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لاَ يُذْكَرُ الله فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang di dalamnya dzikir kepada Allah dan rumah yang di dalamnya tiada dzikir kepada Allah adalah seumpama orang hidup dan orang mati.”.

Syarah Keutamaan Dzikir (1)

Allah Ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah/2: 152)

Dengan kata lain, ingatlah kepada-Ku dengan ketaatan, maka Aku akan mengingatmu dengan ampunan. Hak Allah Ta’ala mengingatkan orang agar berdzikir kepada-Nya. Siapa saja yang dzikir kepada-Nya dengan ketaatan, maka Allah akan ingat kepadanya dengan kebaikan. Sedangkan siapa yang ingat kepada-Nya dengan berbagai kemaksiatan, maka dia akan diingat Allah dengan laknat dan tempat kembali yang sangat buruk.

Dikatakan, “Ingatlah kepada-Ku ketika dalam kebahagiaan, maka Aku ingat kepadamu ketika dalam bala.”[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 59.

Syarah Dzikir Sebelum Tidur (10)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi kami makan dan memberi kami minum, mencukupi kami, memberi kami tempat berteduh. Betapa banyak orang yang tidak memiliki apa yang mencukupinya dan tidak pula mendapatkan tempat berteduh”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَكَفَانَا ‘mencukupi kami’, dengan kata lain, menjadikan kami kaya dan puas.

Ungkapan آوَانَا ‘memberi kami tempat berteduh’, dengan kata lain, mengembalikan kami ke tempat tinggal kami dan tidak menjadikan kami terpencar seperti binatang. مَأْوَى artinya rumah tempat tinggal. An-Nawawi Rahimahullah berkata, آوَانَا ‘memberi kami tempat berteduh’, dikatakan bahwa artinya ‘mengasihi kami’.”

Ungkapan فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ ‘betapa banyak orang yang tidak memiliki apa yang mencukupinya’, dengan kata lain, dia selalu dengan kondisi tidak mendapatkan kecukupan.

Ungkapan وَلاَ مُؤْوِيَ ‘dan tidak pula mendapatkan tempat berteduh’, dengan kata lain, tiada penyayang dan yang bersikap lembut bagi dirinya. Dikatakan bahwa artinya tiada negeri baginya dan tiada tempat tinggal di mana dia bisa berlindung di dalamnya.

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 303-304


[1]     Muslim, (4/2085), no. 2715.

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (24)

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ. (عَشْرَ مَرَّاتٍ)

“Ya Allah, (sampaikanlah) shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.” (Dibaca sepuluh kali). [1]

 Perawi  hadits ini  adalah Shahabat Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu Anhu.

Hadits seutuhnya adalah,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا، وَحِيْنَ يُمْسِي عَشَرًا، أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang bershalawat atas diriku di pagi hari (sepuluh kali), dan ketika sore hari (sepuluh kali), maka dia akan mendapatkan syafaatku pada Hari Kiamat.”

Telah berlalu syarah shalawat atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lihat syarah hadits no. 54-55 (Syarah Shalawat atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.)

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 284-285.


[1]     Ditakhrij Ath-Thabrani dengan dua isnad, salah satunya bagus. Lihat Majma Az-Zawaid (10/120) dan Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (1/273), no. 656.

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (21)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. (إِذَا أَصْبَحَ)

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” (Jika pagi hari).[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Ummu Salamah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan عِلْمًا نَافِعًا ‘ilmu yang bermanfaat’, dengan kata lain, aku ambil manfaatnya dan untuk memberikan manfaat kepada orang lain selain diriku.

Ungkapan وَرِزْقًا طَيِّبًا ‘rezeki yang baik’, dengan kata lain, halal.

Ungkapan وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً ‘dan amal yang diterima’ di sisi-Mu sehingga Engkau memberiku pahala dan balasan atas semua itu sebagai pahala yang baik.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 282.


[1]     Ditakhrij Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 54; Ibnu Majah, no. 925 dan dihasankan isnadnya oleh Abdul Qadir dan Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Zaad Al-Ma ‘ad, (2/375).

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (20)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ. (ثَلَاسَ مَرَّاتٍ إِذَا أَصْبَحَ)

“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya, sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.” (Dibaca tiga kali waktu pagi).[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Juwairiah bintu Al-Harits bin Abu Dhirar Al-Khuza’iah Radhiyallahu Anha, istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Seutuhnya hadits ini adalah,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ…

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (15)

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ: فَتْحَهُ، وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ، وَبَرَكَتَهُ، وَهُدَاهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ

“Kami telah memasuki waktu pagi ini, sedang kerajaan milik Allah Tuhan penguasa alam. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar memperoleh kebaikan, pembuka, pertolongan, cahaya, berkah, dan petunjuk di hari ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan sesudahnya.”[1]

وإذ أمسى قال: أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ؛ فَتْحَهَا، وَنَصْرَهَا وَنُوْرَهَا، وَبَرَكَتَهَا، وَهُدَاهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا

“Jika sore tiba, maka mengatakan, ‘Kami telah memasuki sore ini dengan semua kerajaan menjadi milik Allah Rabb seluruh alam semesta. Ya Allah, aku memohon kepada Engkau kebaikan malam ini: pembukaannya, per-tolongannya, cahayanya, berkahnya, petunjuknya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa-apa di dalamnya dan dari apa-apa setelahnya.'”

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan فَتْحَهُ atau فَتْحَهَا ‘pembukaannya’, dengan kata lain, keberuntungan mencapai apa yang dimaksud.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Shalawat Atas Nabi (1)

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِـهَا عَشْرًا

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku sekali, Allah akan memberikan balasan shalawat kepadanya sepuluh kali.'”[1] (Diriwayatkan Muslim)371

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Huralrah Radhiyallahu Anhu.

Sufyan Ats-Tsauri dan lebih dari satu dari kalangan para ahli ilmu mengatakan, “Shalawat Rabb adalah rahmat dan shalawat para malaikat adalah permohonan ampun.”

Dalam kitab shahihnya, Al-Bukhari berkata, Abu Al-Aliyah berkata, ‘Shalawat Allah adalah pujian-Nya atas dirinya menurut para malaikat dan shalawat para malaikat adalah do’a.'”

Korektor mengatakan, “Inilah yang benar”.[2]

Baca pos ini lebih lanjut