Doa Nabi Muhammad dan Para Sahabatnya

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ. وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Anfal/8: 9-10).

Firman Allah Azza wa Jalla,

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلاثَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُنْزَلِينَ. بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُسَوِّمِينَ. وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ.

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Tsabit bin Qais رضي الله عنه

Tsabit bin Qais رضي الله عنه
Mengkhawatirkan Amalannya Terhapuskan


Nasab Sahabat Tsabit bin Qais

Para Ulama sejarah telah menuliskan garis pernasaban Tsabit bin Qais dalam karya-karya mereka. Lengkapnya, Tsabit bin Qais bin Syammasy bin Zuhair bin Malik bin Imru’ul Qais al-Khazraji al-Anshari رضي الله عنه.

Seorang Orator Kaum Anshar

Sahabat dari kaum Anshar ini dikenal memiliki suara tinggi dan lantang dan baligh (fasih dalam berbicara). Kefasihan dan kecakapan dalam berpidato dengan gaya bahasa sastra tinggi tampaknya turun dari kakek keempatnya, Imru’ul Qais, salah seorang penyair ulung di masa Jahiliyah yang karyanya dipertontonkan di Pasar Ukazh.

Dengan kecakapannya dalam berbicara, Sahabat Tsabit bin Qais رضي الله عنه; didaulat sebagai Khathibul Anshar, pembicara yang mewakili kaum Anshar. Sahabat inilah yang mewakili kaum Anshar untuk berbicara kepada Rasulullah ketika pertama kali datang ke kota Madinah dalam perjalanan hijrahnya dari Mekah. la mengatakan, “Kami akan lindungi engkau sebagaimana kami melindungi diri kami dan anak-anak kami. Jika demikian, apa balasannya bagi kami?”. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “(Balasan bagi kalian adalah) surga”. Orang-orang pun mengatakan, “Kami rela (dengan balasan itu)” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/234 dan menilainya sebagai hadits shahih. Imam adz-Dzahabi menyetujuinya).

Baca pos ini lebih lanjut

Abu Hurairah, Pribadi yang Mengagumkan

Pribadi Beliau Mengagumkan[1]

Musuh-musuh Islam selalu mengintai dan mencari kelengahan kaum muslimin, kemudian melemparkan syubhat-syubhat untuk membuat keraguan atas kebenaran Islam. Mereka berusaha mengaburkan sejarah emas generasi sahabat, dengan mencoba mencela dan melecehkannya, khususnya para perawi hadits dari Rosulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya, yaitu perawi yang banyak meriwayatkan hadits Rosulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dialah Abu Hurairah. Oleh karenanya, kita perlu mengetahui sejarah kehidupannya, agar kaum muslimin memiliki hujjah, tidak terbawa arus propaganda dan provokasi musuh-musuh Islam.

Nama dan Nasabnya

Namanya pada masa jahiliyah –menurut pendapat yang rojih- adalah Abdu Syams, sebagaimana ditetapkan Imam Bukhari, at-Tirmidzi dan al-Hakim. Adapun setelah masuk Islam, namanya telah dirubah oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini, dikarenakan tidak boleh memberi nama seseorang dengan nama “hamba fulan” (Abdul Fulan) atau hamba sesuatu. Yang boleh, hanya hamba Allah (Abdullah) semata, sehingga beliau diberi nama Abdullah atau Abdurrahman, namun Abdurrahman-lah yang lebih rojih.

Nama tersebut merupakan salah satu nama dari sekian nama-nama yang dimiliki Abu Hurairah. Menurut Al Hakim, nama itulah yang paling shah. Akan tetapi, Abu Ubaid berkata, bahwa nama beliau adalah Abdullah;dan Ibnu Khuzaimah terbiasa menggunakan nama tersebut.

Baca pos ini lebih lanjut