eBook Doa dan Dzikir Ketika Bersuci

Nama eBook: Doa dan Dzikir Seputar Thaharah

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Kami memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya, kerena dengan nikmat yang dikaruniakan-Nya, kami dapat meng-compile eBook Doa dan Dzikir Seputar Thaharah yang kami himpun dari tulisan para ulama dan ustadz, yang isi eBook ini adalah:

A.  Do’a Masuk dan Keluar WC :

  1. Doa Masuk WC
  2. Doa Keluar WC
  3. Syarah Doa Masuk WC
  4. Syarah Doa Keluar WC
  5. Berlindung dari setan saat masuk kamar kecil
  6. Bacaan Keluar WC

B.  Doa dan Dzikir Wudhu :

  1. Bacaan Sebelum Wudhu
  2. Bacaan Setelah Wudhu
  3. Syarah Dzikir Sebelum Wudhu
  4. Syarah Dzikir Setelah Wudhu (1 s/d 3)
  5. Dzikir Pembuka 8 Pintu Surga

Download:
Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDF atau Download Word

Iklan

Syarah Dzikir Setelah Salam (3)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan, kecuali dari Allah. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah. Kami tidak menyembah, kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujian yang baik. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya sekalipun orang-orang kafir membencinya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ ‘kami tidak menyembah, kecuali kepada-Nya‘, dengan kata lain, ibadah kami hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak melampaui-Nya.

Ungkapan لَهُ النِّعْمَةُ ‘bagi-Nya nikmat‘, dengan kata lain, kenikmatan yang lahir dan batin. Kata nikmat dengan nuun berkasrah adalah segala sesuatu yang diberikan berupa rezeki, harta, dan lain sebagainya. Sedangkan dengan nuun berfathah, maka artinya kesenangan, kebahagiaan, serta kehidupan yang baik.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Setelah Salam (2)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang mampu mencegah apa yang Engkau berikan dan tiada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanya dari-Mu kekayaan itu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ ‘dan tiada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah‘, dengan kata lain, tak seorang pun yang mampu memberikan apa-apa yang Engkau cegah.

Ungkapan وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ‘tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanya dari-Mu kekayaan itu‘, dengan kata lain, tidak akan kekayaan akan mencegah orang yang memiliki kekayaan itu dari adzab-Mu.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 217-218.


[1]     Al-Bukhari. (1/225), no. 844; dan Muslim. (1/414), no. 593.

Syarah Dzikir Setelah Salam (1)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Aku mohon ampun kepada Allah (dibaca tiga kali), Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Mahasuci Engkau wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Mahamulia.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Tsauban Al-Hasyimi Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) ‘aku mohon ampun kepada Allah (dibaca tiga kali), dengan kata lain, tiga kali pengucapan. Dikatakan kepada Al-Auza’i -dia adalah salah seorang perawi hadits ini, “Bagaimana istighfar itu?” Dia menjawab, “Dengan mengatakan: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ ‘aku mohon ampun kepada Allah, aku mohon ampun kepada Allah‘.

Ungkapan أَنْتَ السَّلاَمُ ‘Engkau pemberi keselamatan‘, dengan kata lain, Yang selamat dari berbagai macam aib, kecelakaan, perubahan, dan berbagai macam bencana. السَّلاَمُ adalah nama di antara nama-nama Allah Ta’ala. Maka, Allah adalah As-Salam. Dia menyifati Dzat-Mya sendiri dengan sifat itu bahwa Dia selamat dari berbagai macam kekurangan atau Dia suka memberi keselamatan.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Sesudah Makan (2)

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، غَيْرَ [مُكْفِيٍّ وَلاَ] مُوَدَّعٍ، وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا

“Segala puji bagi Allah (aku memuji-Nya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah, yang senantiasa dibutuhkan, tidak bisa ditinggalkan, dan diperlukan, ya Tuhan kami.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Umamah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan طَيِّبًا ‘bagus‘, dengan kata lain, murni dan bagus.

Ungkapan غَيْرَ مُكْفِيٍّ ‘yang senantiasa dibutuhkan’, dari kata كِفَايَة ‘diperlukan‘, dengan kata lain, tidak akan habis.

Ungkapan وَلاَ مُوَدَّعٍ ‘dan tidak bisa ditinggalkan’, dengan kata lain, tidak dibiarkan dan sangat dibutuhkan.

Ungkapan رَبَّنَا, ‘Tuhan kami‘, dengan kata lain, wahai Rabb kami.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 444-445 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Al-Bukhari, (6/214), no. 5458; dan At-Tirmidzi dengan lafazhnya, (5/507) no.3456.

Syarah Doa Sesudah Makan (1)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا، وَرَزَقَنِيْهِ، مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah yang memberi makanan ini kepadaku dan yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ ‘dengan tanpa daya’, atau kekuatan. Ini adalan pengakuan adanya kelemahan dan keterbatasan serta ketidakmampuan untuk mendapatkan makanan itu. Akan tetapi, makanan seperti itu adalah dari karunia Allah dan Dia merezekikannya kepada para hamba-Mya. Dan Allah Maha Memiliki karunia yang agung.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 444 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ditakhrij Ashhabussunan, kccuali An-Nasa’i. Abu Dawud, no. 4023; dan At-Tirmidzi, no. 3458; Ibnu Majah, no. 3285. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/159).

Syarah Dzikir Setelah Adzan (1)

يُصَلِّيْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنْ إِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ

“Bershalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah usai menjawab muadzin.”[1]

Ini dari hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا الله لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ الله وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengar muadzin, maka jawab dengan mengucapkan sebagaimana yang dia ucapkan. Kemudian bershalawatlah atasku, karena sesungguhnya orang yang bershalawat atasku satu kali, maka Allah bershalawat atas dirinya sepuluh kali. Kemudian mohonlah wasilah (pelantaraan) kepada Allah untukku karena sesungguhnya wasilah itu adalah sebuah posisi dalam surga, tidak berhak melainkan bagi seorang hamba di antara para hamba Allah. Dan aku berharap kiranya aku adalah orang itu. Barangsiapa memohon wasilah untukku, maka baginya syafaat.”

Baca pos ini lebih lanjut

6 Sifat Tasbih Setelah Sholat

Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani mengatakan, tasbih, tahmid, dan takbir setelah setiap shalat menjadi enam macam bentuk:

Bentuk pertama.  سُبْحَانَ اللهِMahasuci Allah‘, وَالْحَمْدُ اللهِsegala puji bagi Allah‘, dan وَاللهُ أَكْبَرُAllah Mahabesar‘, (masing -masing tiga puluh tiga kali). Lalu diakhiri dengan:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Diriwayatkan Muslim)[1]

Bentuk kedua. سُبْحَانَ اللهِMahasuci Allah‘ (tiga puluh tiga kali), وَالْحَمْدُ اللهِsegala puji bagi Allah‘ (tiga puluh tiga kali) dan وَاللهُ أَكْبَرُ ‘Allah Mahahesar‘ (tiga puluh tiga kali).[2]

Bentuk ketiga. سُبْحَانَ اللهِMahasuci Allah‘, وَالْحَمْدُ اللهِsegala puji bagi Allah‘, dan وَاللهُ أَكْبَرُAllah Mahabesar‘, (tiga puluh tiga kali).[3]

Baca pos ini lebih lanjut

Peringatan Penting Tentang Kesalahan Sesudah Shalat

Beberapa hal biasa dilakukan oleh banyak orang setelah shalat fardhu (wajib) yang lima waktu, tapi tidak ada contoh dan dalil dari Rasulullah  صلي الله عليه وسلم dan para Sahabat ridhwaanullaah ‘alaihim ajma’iin.

Di antara kesalahan dan bid’ah tersebut ialah:

1. Mengusap muka setelah salam.[1]

2. Berdo’a dan berdzikir secara berjama’ah yang di pimpin oleh imam shalat.[2]

3. Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash/ dalilnya, baik lafazh maupun bilangannya, atau berdzikir dengan dasar hadits yang dha’if (lemah) atau maudhu’ (palsu).

Contoh:

–      Sesudah salam membaca: “Alhamdulillaah.”

–      Membaca surat al-Faatihah setelah salam.

–      Membaca beberapa ayat terakhir surat al-Hasyr dan lainnya.

Baca pos ini lebih lanjut

Dzikir Setelah Shalat Wajib

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ (۳×) اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ،تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَ لِ وَالإِكْرَامِ

“Aku memohon ampun kepada Allah (3x). Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Mahasuci Engkau, wahai Rabb Pemilik keagungan dan kemuliaan.” [1]

لاَإِلَهَ إِ لاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَديْرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَ أَعْطَيْتَ،وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tiada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan hanya Allah Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau beri dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalih). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”[2]

لاَإِلَهَ إِ لاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَديْرٌ. لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِ لاَّ بِا اللَّهِ، لاَإِلَهَ إِ لاَّ اللَّهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَإِلَهَ إِ لاَّ اللَّهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهُ الْكَافِرُونَ

Baca pos ini lebih lanjut