Syarah Dzikir Setelah Salam (4)

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللهُ أَكْبَرُ (ثَلاَثً وَثَلاَثِيْنَ) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Mahabesar (dibaca tiga puluh tiga kali). Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan di dalamnya,

فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Semua itu berjumlah sembilan puluh sembilan dan genap keseratus kalinya adalah لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ ‘tiada Tuhan selain Allah …’.”

Telah muncul dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkenaan dengan keutamaan dzikir ini dan cara-caranya sebagai berikut. “Bahwa orang-orang fakir dari kalangan para Muhajirin datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu mereka berkata,

ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنْ الْأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَا وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا وَيَعْتَمِرُونَ وَيُجَاهِدُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ؟ فَقَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

‘”Para orang kaya bisa menuju derajat mulia dan kesenangan yang abadi. Mereka bisa menunaikan shalat sebagaimana kami menunaikannya, mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa menunaikan ibadah haji dan ibadah umrah dengan hartanya itu. Juga mereka bisa berjihad dan bersedekah. Maka, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Maukah kuajarkan kepada kalian sesuatu dengannya kalian bisa mengejar orang-orang yang mendahului kalian, dan orang-orang di belakang kalian akan mendahului dengannya sehingga tiada seorang pun lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan apa-apa yang kalian lakukanT Mereka menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Bertasbihlah, bertahmidlah dan bertakbirlah setiap usai shalat tiga puluh tiga kali.”

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (10)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, bahwasanya bagi-Mu segala pujian, tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Wahai Pencipta langit dan bumi, Wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Hidup, wahai Tuhan Yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan الْمَنَّانُ ‘Yang Maha Pemberi’, dengan kata lain, yang banyak memberi. Berasal dari kata minnah yang artinya nikmat. Minnah itu tercela jika datang dari manusia, karena mereka tidak memiliki sesuatu apa pun. Penulis Ash-Shihah berkata, “Memberi di sini, dengan kata lain, memberi nikmat. Dan Al-Mannan adalah satu dari nama-nama Allah Ta’ala.”

Ungkapan يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ ‘wahai Pencipta langit dan bumi’ dengan kata lain, Pencipta dan inspiratornya dengan tanpa contoh yang telah ada terlebih dahulu.

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Agar Diselamatkan Dari Penyakit Kikir

Ada sebuah do’a sederhana yang jaami’ (singkat dan syarat makna) yang sudah sepatutnya kita menghafalkannya karena amat bermanfaat. Do’a ini berisi permintaan agar kita terhindar dari penyakit hati yaitu ‘syuh’ (pelit lagi tamak) yang merupakan penyakit yang amat berbahaya. Penyakit tersebut membuat kita tidak pernah puas dengan pemberian dan nikmat Allah Ta’ala, dan dapat mengantarkan pada kerusakan lainnya. Do’a ini kami ambil dari buku “Ad Du’aa’ min Al Kitab wa As Sunnah” yang disusun oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Wahf Al Qahthani hafizhahullah.

Do’a tersebut adalah,

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ

Allahumma qinii syuhha nafsii, waj’alnii minal muflihiin

“Ya Allah, hilangkanlah dariku sifat pelit (lagi tamak), dan jadikanlah aku orang-orang yang beruntung”

Do’a ini diambil dari firman Allah Ta’ala dalam surat Ath Taghabun ayat 16,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”

Baca pos ini lebih lanjut

Tidak Dimohon Dengan Wajah Allah Kecuali Surga

Jabir رضي الله عنه menuturkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لاَ يُسْأَلُ بِوَجْهِ اللهِ إِلاَّ الجَنَّةُ

“Tidak boleh dimohon dengan menyebut nama Allah kecuali surga.” (HR. Abu Daud).

Kandungan bab ini:

  1. Larangan memohon sesuatu dengan menyebut nama Allah kecuali apabila yang dimohon itu adalah surga. [Hal ini, demi mengagungkan Allah serta memuliakan Asma dan Sifat-Nya.
  2. Menetapkan kebenaran adanya Wajah bagi Allah عزّوجلّ (sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya).

___________
Disalin dari Kitab Tauhid Bab ke-56 karya Syaikh Muhammad at-Tamimi, terjemah Muhammad Yusuf Harun, hal.237

Doa Agar Diselamatkan dari Sifat Kikir

Ada sebuah do’a sederhana yang jaami’ (singkat dan syarat makna) yang sudah sepatutnya kita menghafalkannya karena amat bermanfaat. Do’a ini berisi permintaan agar kita terhindar dari penyakit hati yaitu ‘syuh’ (pelit lagi tamak) yang merupakan penyakit yang amat berbahaya. Penyakit tersebut membuat kita tidak pernah puas dengan pemberian dan nikmat Allah Ta’ala, dan dapat mengantarkan pada kerusakan lainnya. Do’a ini kami ambil dari buku “Ad Du’aa’ min Al Kitab wa As Sunnah” yang disusun oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Wahf Al Qahthani hafizhahullah.

Do’a tersebut adalah,

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ

Ya Allah, hilangkanlah dariku sifat pelit (lagi tamak), dan jadikanlah aku orang-orang yang beruntung

Do’a ini diambil dari firman Allah Ta’ala dalam surat Ath Taghabun ayat 16,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung

Baca pos ini lebih lanjut

Doa-Doa Ruku’

Doa-doa berikut sambungan doa-doa ruku’ sebelumnya


سُبْحَانَ ذِي الْـجَبَرُوْتِ وَاْلـمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Mahasuci tuhan yang memiliki keperkasaan, segala kekuasan, kebesaran dan keagungan”.[1]

اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، أَنْتَ رَبِّـيْ، خَشَعَ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ وَدَمِي وَلَـحْمِي وَعَظْمِيْ وَعَصَبِيْ لِلَّهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku ruku’, hanya Kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku berserah diri dan bertawakkal. Engkau tuhanku, pendengaranku, penglihatanku, darahku, dagingku, tulangku, uratku, semua tunduk hanya kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.[2] Baca pos ini lebih lanjut

Doa-Doa Ruku’

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ

“Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung”. (dibaca 3 x)[1]

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِـحَمْدِهِ

“Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung dan segala puji bagi-Nya”. (dibaca 3 x)[2]

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ

“Mahasuci lagi Maha Kudus, Tuhan semua malaikat dan Ruh” [3]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

“Mahasuci Engkau, wahai Tuhan. Segala puji bagi-Mu. Ya Allah! Ampunilah aku.” [4]

Insyaallah bersambung…


[1] HR. Ashabus Sunan dan Ahmad
[2]
Hadits Shahih, Riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya
[3]
HR. Muslim dan Abu ‘Awanah
[4]
HR. Bukhari dan Muslim

Sumber:
Sifat Shalat Nabi صلي الله عليه وسلم  Ed. Revisi, Terbitan Media Hidayah Thn 2000, disalin dengan tidak berurutan.

Doa Iftitah

Doa-doa berikut sambungan doa-doa iftitah sebelumnya


وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sangat banyak, baik dan penuh berkah.” [1]

اَللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، عَالِـمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَـخْتَلِفُوْنَ. اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ مِنَ الْـحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

Baca pos ini lebih lanjut

Bacaan Iqomah

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ، قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

  1. Allah Mahabesar (2 x)
  2. Aku bersaksi tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah
  3. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah
  4. Mari Kita Menunaikan Shalat
  5. Mari Menuju Keberuntungan
  6. Sungguh Sholat Telah ditegakkan (2 x)
  7. Allah Mahabesar (2 x)
  8. Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah[1]

[1] HR. Ahmad

Sumber:
Terjemah Ringkasan Nailul Authar Asy-Syaukani, terbitan Pustaka Ilmu Surabaya

Bacaan Adzan

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

  1. Allah Mahabesar (4 x)
  2. Aku bersaksi tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah (2 x)
  3. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah (2 x)
  4. Mari Kita Menunaikan Shalat (2 x)
  5. Mari Menuju Keberuntungan (2 x)
  6. Allah Mahabesar (2 x)
  7. Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah[1]

[1] HR. Ahmad

Catatan:
Pada adzan subuh setelah ucapan ‘Hayya ‘alal falaah’ ditambahkan ucapan:

اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ، اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ

“Shalat itu lebih baik daripada tidur.” (2 x)

Sumber:
Terjemah Ringkasan Nailul Authar Asy-Syaukani, terbitan Pustaka Ilmu Surabaya